-->

Sebaran Batuan Kerak Bumi

Batu akik banyak digemari masyarakat di Indonesia saat ini. Lantas batu akik itu jenis batu apa sih?. 

Nah asal mula batuan ini sebenarnya ada di bawah kerak bumi kita. 

Kerak bumi merupakan bagian teratas dari struktur vertikal bumi dengan material penyusun berwujud padat.

Kerak bumi disebut juga lithosfer yang mengapung di atas astenosfer. 

Bagian paling atas kerak bumi berhubungan langsung dengan atmosfer dan hidrosfer, sedangkan bagian paling bawah (dalam) berbatasan dengan lapisan mantel paling atas.

Kerak bumi di bawah dasar laut atau samudera lebih tipis dibandingkan dengan kerak bumi di bawah daratan (benua). 

Selain itu, umur kerak bumi di bawah dasar samudera lebih muda dari umur kerak bumi di bawah daratan. 

Hal ini karena, kerak bumi di bawah dasar samudera selalu ditimbun oleh material-material baru. 

Menurut para geolog, bahan baru tersebut berasal dari bagian dalam bumi yang muncul di sepanjang kerutan dasar samudera.

Kerak bumi terbentuk oleh batuan, yaitu benda padat yang tersusun oleh berbagai mineral. Mineral adalah persenyawaan organik asli yang mempunyai susunan kimia tetap. 

Secara khusus batuan dipelajari oleh ilmu yang disebut Petrologi sedangkan mineral dipelajari dalam Mineralogi

Terdapat tiga jenis batuan berdasarkan genesisnya, yang menyusun kerak bumi yaitu : Batuan Beku, Batuan Sedimen, dan Batuan Metamorfosa (Malihan). 

Ketiga jenis batuan ini tersebar di bumi dengan persentasi yang berbeda pada 6 benua. Batuan beku sekitar 17 % menempati daerah potensial gunung berapi. 

Batuan Sedimen (Sedimentary Rock) = 66% tersebar pada daaerah-daerah tua. 

Dan Batuan Malihan (Metamorphic Rock) = 17 % yaitu kombinasi antara volkanik dan sedimen. Ketiga jenis batuan tersebut mengalami yang namanya siklus batuan. 

A. Batuan Beku
Batuan Beku adalah batuan yang berdasarkan genesisnya terbentuk dari pembekuan magma atau lava. 

Magma adalah massa cair kental-pijar dengan temperatur yang sangat tinggi dan berada di bawah permukaan bumi. 

Apabila magma itu tergerak keluar oleh tekanannya dan mencapai permukaan bumi, maka disebut lava. 

Magma tersusun oleh berbagai macam material yang terlarut di dalamnya. Beberapa material  itu adalah bahan volatil (gas) dan non-volatil, terutama oksida-oksida : Silikon, Al, Fe, Ca, Mg, K, dan Na. 

Oksida-oksida tersebut dalam kombinasi-kombinasi tertentu kemudian membentuk mineral-mineral yang sekarang dapat kita jumpai dalam batuan beku. 


Berdasarkan beberapa teori kejadian bumi, bahwa bumi kita dahulu merupakan massa gas yang berputar dan terlempar dari matahari. 

Gas tersebut kemudian perlahan-lahan menjadi dingin, sehingga berubah bentuknya menjadi benda cair. Benda cair inilah yang kemudian disebut magma. 

Magmapun kemudian mengalami pendinginan dan mineral-mineral di dalamnya mulai mengkristal. 

Mineral-mineral berat cenderung tenggelam ke dalam cairan magma, dan mineral yang lebih ringan terapung di atas mineral yang berat, 

Proses pendinginanpun terus berlanjut sehingga batuan mulai memadat yang akhirnya membentuk kerak bumi yang keras. 

Magma dalam jumlah yang sangat besar dan pada temperatur yang sangat tinggi terkurung di bawah kerak bumi. 

Gas yang ada di dalam magma akan memberikan tekanan yang besar terhadap lapisan-lapisan batuan di atasnya dan di sekitarnya sehingga magma dapat menerobos dan mengalir ke segala arah. 

Gerak magma dapat terhenti oleh lapisan batuan, sehingga tidak mencapai permukaan bumi, dan hanya gas yang dapat terlepas lebih jauh. 

Dalam perhentiannya, perlahan-lahan magma akan mendingin dan membeku, maka terbentuklah Batuan Beku Dalam, disebut juga Massa/ Batuan Intrusif dan disebut juga Batuan Plutonis.

Sifat magma merupakan hal yang berpengaruh dalam pembentukkan berbagai macam batuan beku. 

Magma yang bersifat basa adalah cair, setelah membeku akan menghasilkan bentuk batuan  berbeda dari magma asam yang kental. 

Magma yang bergerak terus menerobos lapisan batuan sekitarnya,  melalui kepundan gunung berapi, melalui celah-celah batuan, hingga mencapai permukaan bumi. Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava. 

Lava pun akan mengalami pendinginan dan membeku menjadi batuan. Maka terbentuklah Batuan Beku Luar, disebut juga Massa/Batuan Ekstrusif dan disebut juga Batuan Vulkanis. Selain Batuan Beku Dalam dan Batuan Beku Luar, ada juga yang disebut dengan Batuan Beku Korok. 

1. Batuan beku dalam (batuan plutonis/batuan beku intrusi)
Batuan beku dalam adalah massa batuan yang terbentuknya jauh di dalam bumi, yaitu sekitar  15 km – 50 km di bawah permukaan bumi, dekat dengan Astenosfer dan membentuk sebagian besar kerak bumi. 

Karena letak pembentukannya dekat dengan astenosfer maka proses pendinginannya bejalan sangat lambat. 

Oleh karena itu proses pem-bekuanpun berjalan lambat dan mempunyai kesempatan besar untuk membentuk kristal-kristal yang sempurna (holokristalin) atau disebut bertekstur Phaneritik.

Karakter dari batuan beku dalam pada umumnya adalah sebagai berikut:
- memiliki butir kasar
- jarang menunjukkan struktur vesikuler atau pori-pori udara.
- dapat merubah batuan yang berbatasan dengan semua sisinya.

Menurut diameternya, batuan beku dalam dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu Plutonik Tabular dan Plutonik Masif.

a. Plutonik Tabular adalah batuan beku dalam yang berdiameter relatif kecil dan letaknya lebih dekat dengan permukaan bumi contohnya adalah Sill dan Dyke. 
b. Plutonik Masif adalah batuan beku dalam yang berdiameter lebih besar dari plutonik tabular dan terletak jauh di dalam bumi contohnya adalah Lakolit dan Batolit. Baca juga: Beda Sill, Dyke, Lakolit dan Batolit

2. Batuan Beku Luar (Batuan Vulkanis)
Beberapa sebutan  untuk batuan beku luar diantaranya : batuan vulkanis, batuan leleran, batuan efusif, dan batuan ekstrusi. 

Bentuk ekstrusi adalah hasil yang dibangun oleh magma yang mencapai permuka-an bumi (lava). 

Apabila lava ini cair maka dapat menyebar pada daerah yang luas, sedangkan magma yang kental penyebarannya terbatas. 

Magma cair dapat membentuk Plateau Basalt (dataran tinggi berbatuan basalt). Contoh plateau basalt yang terkenal adalah Plateau Dekan di India yang mempunyai ketebalan sekitar 2000 meter. 

Plateau basalt di Iceland yang luasnya sekitar 100.000 km2 dan ketebalannya sekitar 3000 meter. Di Indonesia plateau basalt terdapat di Sukadana – Lampung. 

Batuan beku luar terjadi melalui proses pendinginan dan pembekuan lava yang cepat sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk membentuk kristal yang sempurna, bahkan sama sekali tidak membentuk kristal. 

Kristal yang terbentuk pada batuan beku luar adalah kristal halus atau disebut bertekstur Aphanitik, dan yang tidak berkristal disebut berteks-tur Amorf.  

Karakterisitk umum dari batuan beku luar umumnya adalah:
- berbutir halus dan sering terdapat kaca.
- memerlihatkan struktur vesikuler terutama di bagian permukaan.
- terdapat struktur aliran.


3. Batuan Beku Korok
pic:https://universe-review.ca/I09-03-types.jpg
Batuan korok yaitu batuan yang membeku di celah atau direkahan kerak bumi ataupun di dalam pipa-pipa gunung api. 

Beberapa sebutan untuk batuan beku korok adalah Batuan Gang dan Batuan Hypoabisik. 

Magma yang membeku dalam gang adalah magma yang sedang menuju ke permukaan bumi atau yang membeku pada celah-celah kerak bumi. 

Batuan beku korok biasanya tersusun oleh kristal-kristal halus dan juga kristal-kristal kasar. Kristal yang demikian disebut juga dengan bertekstur Porfir. 

Misalnya magma granitis membeku di sebuah gang maka batuan yang terbentuk disebut Porfiri Granit artinya batuan Granit bertekstur porfir.

B. Batuan Sedimen
Batuan sedimen terbentuk melalui proses sedimentasi (pengendapan) dengan media air, angin, dan es/salju. 

Untuk menghasilkan batuan sedimen, sesungguhnya melibatkan serangkaian proses yaitu : pelapukan batuan - erosi - transportasi - sedimentasi -  lithifikasi. 

Ukuran dan bentuk butiran batuan sedimen sangat dipengaruhi oleh jarak angkut dan lintasan yang dilaluinya. 

Materi batuan sedimen merupakan hasil pelapukan dari batuan lain yaitu batuan beku dan batuan malihan.

Materi hasil pelapukan  berupa fragmen dan larutan yang kemudian ditransportasikan oleh kekuatan/gaya aliran air, angin, dan es/salju. 

Ketika kekuatan transport itu berkurang atau melemah maka materi yang diangkutnya mulai diendapkan. 

Pengendapan terjadi pada daerah yang rendah. Proses pengendapan ini sangat selektif, materi-materi  yang kasar akan diendapkan lebih dahulu dan materi-materi yang halus akan diendapkan kemudian. 

Oleh karena itu, kalau kita perhatikan di daerah muara sungai tidak kita temukan materi-materi kasar tetapi yang ada adalah lumpur halus. 

Proses sedimentasi akan terhenti apabila tidak ada daya pengangkut dan kemudian terjadi lagi ketika ada daya pengangkut. 

Proses ini berjalan terus menerus sehingga memberikan ciri terhadap batuan sedimen berupa lapisan-lapisan. Selain berlapis-lapis batuan sedimen mempunyai ciri lain yaitu : 
- keseragaman ukuran butir penyusunnya kecuali konglomerat dan breksi.
- tidak berkristal.
- adanya kenampakan fosil.

Batuan sedimen dapat dikelompokkan berdasarkan : tenaga yang mengendapkannya, tempat pengendapannya, dan genesisnya

1. Berdasarkan tenaga pengendapnya
a. Sedimen aquatis adalah batuan yang pengendapannya oleh tenaga/gerakan air (sungai, danau, dan hujan)
b. Sedimen aeolis/aeris adalah batuan yang pengendapannya oleh tenaga angin. Contohnya tanah loss (di Gurun Gobi, tanah pasir, gumuk pasir (sandune).
c. Sedimen glasial adalah batuan yang pengendapannya oleh tenaga gletser. Contohnya morena, esker, drumlin.
2. Berdasarkan  tempat pengendapannya
a. Sedimen teristris adalah batuan yang diendapkan di daratan
b. Sedimen marine adalah batuan yang diendapkan di laut
c. Sedimen limnis adalah batuan yang diendapkan di dasar danau
d. Sedimen fluvial adalah batuan yang diendapakan di badan sungai

1. Berdasarkan genesisnya
a. Sedimen mekanik
Sedimen mekanik adalah sedimen yang tersusun oleh materi fragmen-fragmen batuan yang disementasi oleh zat perekat misalnya kapur, silisium atau materi-materi yang mengandung besi. 

Sedimen mekanik disebut juga dengan sedimen klastik. Contoh batuan sedimen mekanik/klastik : batu pasir, konglomerat, breksi, dan sebagainya.

Breksi tersusun oleh fragmen batuan yang bersudut tajam yang terekat satu sama lainnya. 

Breksi biasanya terbentuk di bawah lereng-lereng curam yang padanya terjadi penumpukkan fragmen-fragmen batuan hasil pelapukan di atasnya.

- Konglomerat  tersusun oleh fragmen-fragmen batuan yang bersu-dut tumpul atau bundar dan terekat satu sama lainnya.

b. Sedimen kimia
Sedimen kimia adalah batuan sedimen yang terbentuk secara kimia yaitu batuan-batuab yang langsung mengendap dari larutan-larutan yang mengandung berbagai unsur kimia seperti garam dapur, gipsum, batu gamping. 

Pembentukan sedimen semacam ini terjadi karena proses-proses penguapan, konsentrasi, dan pengendapan larutan-larutan yang telah jenuh. 

Penguapan air laut atau danau akan menyebabkan konsentrasi garam dalam larutan menjadi tinggi dan selanjutnya akan membentuk batuan residu endapan kimia. 

Batuan lain yang umumnya dibentuk melalui penguapan adalah batu kapur. Batu tetes yaitu stalaktit dan stalagmit di goa-goa kapur juga merupakan endapan kimiawi. 

Air hujan yang banyak mengandung CO2 akan melarutkan CaCO3 dan membentuk senyawa baru Kalsium Bikarbonat. 

Sementara airnya mengalir sebagai aliran sungai bawah tanah, sedangkan larutan Kalsium Bikarbonatnya mengendap di bagian atas (langit-langit goa) membentuk stalaktit dan menetes di lantai goa membentuk stalagmit.  

1)  Kelompok batu gamping
- Batu Gamping Non-klastik disebut juga Batu Gamping Koral karena penyusun utamanya adalah Koral yang merupakan anggauta Coelenterata Batu gamping koral umumnya tidak menunjukkan perlapisan yang baik. 

- Batu Gamping Klastik adalah hasil rombakan dari Batu Gamping Non-Klastik melalui proses erosi oleh air, tranportasi, sortasi, dan sedimentasi. 

Dalam proses perombakan ini akan tercampur dengan mineral lain yang merupakan pengotor dan pemberi warna pada gamping klastik. 

Dengan adanya sortasi pada pembentukan gamping klastik maka akan terjadi pengelompokkan berdasarkan ukuran butirnya seperti berikut ini :

- Kalsirudit adalah batu gamping fragmental 
- Kalkarenit adalah batu gamping berukuran pasir 
- Kalsilutit adalah batu gamping berukuran lempung 
- Dolomit (MgCO3) umumnya terjadi karena proses pelindihan (leaching) atau peresapan unsur Mg dari air laut ke dalam batu gamping. Proses ini disebut dengan Dolomitisasi yaitu pergantian Ca oleh unsur Mg. 
- Kalsit (CaCO3)) merupakan mineral Kalsium Karbonat murni sebagai hasil pengkristalan kembali larutan batu gamping karena pengaruh airtanah atau air hujan. 
- Fosfat merupakan hasil reaksi antara batu gamping denga kotoran burung dan kelelawar yang mengandung asam fosfat . 
- Rijang (SiO2) terbentuk dari proses replacement terhadap batu gamping oleh silika organik atau an-organik. Rijang mempunyai butiran kristal yang sangat halus (crypto-cristalin).

2)  Kelompok sedimen non-gamping
Yang termasuk pada kelompok sedimen non-gamping antara lain :Bentonit – Zeolit 
# Diatomea – Mangaan 
#Feldspar

c. Sedimen organik
Sedimen organik adalah batuan sedimen yang dibentuk oleh proses-proses pengendapan organisme baik hewan maupun tumbuhan yang telah mati.

Beberapa contoh batuan sedimen organik adalah sebagai berikut :

- Batu Bara terbentuk dari pengendapan tumbuhan rawa yang telah mati berubah menjadi tanah gambut dan selanjutnya menjadi batu bara muda dan batu bara. 
- Endapan Diatomea terbentuk dari endapan Diatomea yaitu tumbuhan bersel satu yang banyak hidup di laut atau danau garam.
- Batu Karang adalah sedimen yang dibentuk oleh binatang-binatang karang

Beberapa batuan sedimen yang merupakan bahan galian bermanfaat
1. Lempung :
a. Lempung residu
b. Lempung sedimen (tanah liat)
2. Pasir kwarsa
3. Intan (C)
4. Kaolin (Al2O3  2SiO2 2H2O)
5. Zirkon/batu Yakut (ZrSiO4)
6. Korundum (Al2O3)
7. Kalsedon (Batu Mirah, Rubby, Jasper
8. Opal (Kalimaya, Biduri Kluwung, Agat)
9. Kuarsa Kristal
10. Sirtu  

C. Batuan Metamorfosa
Batuan metamorfosa disebut juga batuan malihan yaitu batuan yang berubah sifat/susunan kimianya dan atau bentuk fisiknya. 

Sumber atau bahan dasar batuan metamorfosa adalah batuan beku, batuan sedimen dan bahkan batuan metamorfosa sendiri. 

Yang menyebabkan perubah-an ada dua faktor yaitu temperatur dan tekanan. Dengan temperatur yang tinggi dan tekanan yang besar, maka batuan beku atau batuan sedimen dalam waktu yang relatif lama akan mengalami perubahan baik fisik maupun komposisi kimianya. 

Tingginya temperatur dapat bersumber dari berbagai faktor, diantara-nya karena adanya intrusi magma, aliran gas/cairan panas, gesekan batuan, dan gradien geothermal. 

Adapun tekanan yang dapat mempe-ngaruhi proses metamorfosa, ada dua macam yaitu :
- Tekanan yang bersifat statis yaitu tekanan oleh berat beban materi/ batuan di atasnya, 
- Tekanan yang bersifat dinamis yaitu tekanan yang bersumber dari gaya-gaya tektonik (diatropisme).

Jenis Batuan Metamorfosa
1. Metamorfosa Thermal
Pada proses Metamorfosa Thermal, temperatur yang tinggi merupakan faktor utama yang berperan dalam mengubah batuan awal. 

Metamorfosa Thermal umumnya terjadi terhadap batuan yang letaknya dekat dengan magma atau di sekitar daerah intrusi magma, seperti halnya Batolit, Lakkolit, Sill, Dike, dan sebagainya, sehingga batuan di sekitarnya mendapat panas (temperatur) yang tinggi langsung dari magma. 

Oleh karena itu di sekitar daerah intrusi atau batuan beku dalam banyak terjadi proses metamorfosa. Metamorfosa Thermal disebut juga Metamorfosa Kontak. 

Bahan galian yang terjadi karena prose metamorfosa ini diantaranya : besi, timah, tembaga, silikat besi-magnesium-alumunium, dan zink hasil dari malihan limestone dan calcareous shale.

2. Metamorfosa Geothermal
Metamorfosa Geothermal adalah proses metamorfosa yang terjadi karena pengaruh panas bumi atau gradien geothermal dan tanpa dipengaruhi oleh panas magma atau panas diastropik. Metamorfosa jenis ini banyak terjadi pada daerah-daerah sedimen yang tebal, seperti endapan geosinklinal yang bisa mencapai puluhan ribu meter.
3. Metamorfosa Dinamo
Pada proses Metamorfosa Dinamo, tekanan yang besar merupa-kan faktor utama yang berperan dalam mengubah batuan awal. Tekanan ini berasal dari proses diastropik, sehingga jenis metamorfosa ini banyak dijumpai pada daerah-daerah patahan dan lipatan yang luas. Metamorfosa ini disebut juga Metamorfosa Regional. Batu Sabak  (Slate)  berasal dari lem-pung salah satu contoh hasil metamorfosa dinamo
4. Metamorfosa Pneumatolitis Kontak
Pada proses metamorfosa ini, gas-gas yang berasal dari magma yang sedang bergerak ke atas dapat mengubah batuan sekeliling yang dilaluinya dan dapat membentuk mineral baru. 
Contohny :
- Turmalin adalah sejenis batu permata yang berasal dari kuarsa yang dipengaruhi oleh gas Borium. 
- Topas adalah sejenis batu permata yang berasal dari kuarsa yang dipengaruhi oleh gas Flurium. 
5.  Metamorfosa Metasomatisme
Rekristalisasi batuan beku karena intrusi baru.
6.  Metamorfosa Hidrotermal
Perubahan karena pengaruh air panas dari magma maupun air tanah yang mengalami pemanasan. Baca juga: Genesa batuan sedimen

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel