Pengertian Tektonisme Dan Pergerakan Epirogenesa Orogenesa - Geograph88

Pengertian Tektonisme Dan Pergerakan Epirogenesa Orogenesa

Pengertian Tektonisme Dan Pergerakan Epirogenesa Orogenesa
Kamu pernah merasakan gempa bumi?. Kalau ia berarti kamu sedang mengalami peristiwa tektonisme. 

Tektonisme adalah perubahan letak atau kedudukan lapisan bumi) (lapisan kulit bumi) secara horizontal ataupun vertikal. 

Ada yang menyebut tektonisme dengan Dislokasi berasal dari kata dis = terpisah, locare = tempat. Jadi, dislokasi adalah perubahan letak lapisan kulit bumi dari kedudukan semula.

Berdasarkan kecepatan gerakannya dan luas daerah yang terkena pengaruh, kita bisa membagi tektonisme menjadi dua yaitu:
  1. Gerak epirogenesa
  2. Gerak orogenesa
Kedua tenaga ini bersifat membangun. Sebab keduanya termasuk tenaga endogen.

1. Gerak epirogenesa
Gerak epirogenesa sering disebut dengan gerakan pembentuk continent atau benua. Misalnya tenggelamnya sebuah benua yang disebut Gonwana, yang diperkirakan terletak di sebelah selatan 1 Indonesia, juga tenggelamnya daratan Atlantis Seperti legenda dari Eropa. Gerak epirogenesa berjalan sangat lambat dan dalam waktu lama, serta meliputi daerah sangat luas.

Tanda-tanda adanya gerakan ini bisa dilihat adanya perubahan garis pantai atau gisik
Pengertian Tektonisme Dan Pergerakan Epirogenesa Orogenesa
Naiknya daratan karena tektonisme dalam foto udara
Gerak epirogenesa disebut positif, jika permukaan air laut mengalami kenaikan, atau garis pantai berpindah ke arah darat. 

Dapat juga dikatakan berpindahnya gisik ke arah daratan. Dalam hal ini yang turun adalah daratannya. 

Gerak epirogenesa disebut negatif, jika permukaan air laut mengalami penurunan. 

Atau, pantai berpindah ke arah laut Di daerah pantai, kadang-kadang kita jumpai bekas garis pantai yang bertingkat-tingkat Ini membuktikan bahwa daerah itu telah mengafami kenaikan atau pengangkatan berkali-kali. 

Atau, mengalami gerak epirogenesa negatif beberapa kali. Contoh: Pantai California, dan Norwegia.

2. Gerak orogenesa
Gerak orogenesa sering disebut gerak pembentak gunung, lipatan, dan patahan. Gerak orogenesa bisa juga menyebabkan 7 terjadinya tanah runtuh atau terpisah satu dengan lainnya. Gerak orogenesa waktunya relatif lebih singkat dan daerahnya lebih sempit


Gerakan ini sampai sekarang masih berpengaruh besar terhadap terbentuknya pegunungan, vulkanisme, patahan, retakan, dan lipatan. 

Contoh yang dapat dipakai sebagai bukti yaitu deretan pulau-pulau di Nusa Tenggara sampai Pulau Banda. 

Pulau-pulau tersebut kiranya merupakan puncak-puncak yang kelihatan di atas permukaan ilaut, dari suatu sistem pegunungan tinggi yang sedang terjadi atau sedang tumbuh.


Sisa-sisa batu, karang di Pulau Timor membuktikan bahwa pulau itu sudah naik lebih dari 1.200 m. Mengapa ada permukaan kulit bumi yang terlipat dan ada yang patah?

Seperti kita ketahui, bagian dalam bumi bertekanan besar dan bertemperatur tinggi. Hal itu menyebabkan sifat batuan menjadi cair liat (plastis). Jika terjadi gerak orogenesa, terjadilah pegunungan lipatan.


Jika lapisan di atasnya mengalami pengikisan, maka pegunungan lipatan ini akan.muncul di atas permukaan sebagai pegunungan lipatan yang kita lihat sekarang. 

Di daerah tropis, seperti halnya Indonesia, adanya proses eksogen yang kuat, (erosi dan denudasi) menjadikan kita tidak pernah menjumpai pegunungan lipatan yang masih asli. 

Pegunungan lipafan di daerah tropis, sela-lu sudah mengalami erosi dan denudasi (pengelupasan kulit bumi akibat gaya berat).

Di bawah ini dicantumkan garabar pegunungan lipatan yang masih asli dan yang sudah mengalami erosi dan denudasi.



Selama zaman tertier, banyak terjadi pegunungan lipatan yang luas dan sangat tinggi, sampai beratus-ratus meter di atas permukaan air laut. 

Bahkan, ribuan meter. Contoh: Pegunungan Alpen, Pegunungan Kendeng, Pegunungan Serayu Selatan, Bukit Barisan, dan Rembang Hill.

Mengapa ada permukaan kulit bumi yang patah ketika timbul gerak orogenesa? 

Karena pada waktu terjadi gerak orogenesa, kulit bumi mungkin tidak lagi bersifat cair liat (plastis Hal iu tmengakibatkan retak atau patahnya kulit bumi tersebut. Maka terjadilah bentuk pegunungan patahan.

Jadi, hasil aktivitas tektonisme atau tektogenesa, dapat dibedakan:
—    Daerah patahan atau retakan, akibat gerak tektogenesa patahan.
—    Daerah lipatan, akibat gerak tektogenesa lipatan.

Pada daerah patahan, senng kita jumpai bagian-bagian terangkat yang lebih tinggi dari pada daerah sekitamya. 

Namun ada pula bagian-bagian yang justru tenggelam atau mengalami penurunan. Daerah yang terangkat disebu horst

Sedang daerah yang tenggelam atau turun disebut graben atau slenk. Di Indonesia terdapat juga gejala horst dan graben, misalnya di Semangko (Sumatera), dan Piyungan (Yogyakarta).


Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar penampang melintang (block diagram) daerah patahan berikut ini:
A = horst 
B = graben 
C = horst
Pengertian Tektonisme Dan Pergerakan Epirogenesa Orogenesa
Horst dan Graben Batuan
Dalam kenyataannya, bentuk horst ataupun graben (slenk) tidak ideal seperti dalam gambar. Sebab daerah itu sudah dipengaruhi tenaga eksogen. 

Pada horst sudah terjadi erosi dan denudasi (pengelupasan kulit Ibumi karena gaya berat = tanah longsor akibat gaya bierat bumi). 

Sedang pada graben atau slenk terjadi penimbunan atau sedimentasi. Karena itu bentuk yang kita jumpai di lapangan adalah bentuk seperti lembah pada umumnya.

Gerak tektogenesa patahan, dapat bersifat vertikal, dapat pula horizontal. Gejala itu terjadi pula pada tektogenesa lipatan. 

Ada yang bersifat vertikal, ada yang horizontal. Hasilnya ada yang berupa lipatan tegak, lipatan miring lipatan rebah.

Daerah lipatan ada yang sangat luas, sehingga lembah sinklinalnya juga sangat luas. Lembah sinklinal yang sangat luas itu disebut geosinklinal.


Daerah ladang minyak bumi di Indonesia, umumnya juga terletak pada daerah geosinklinal, yang oleh Umbgrove disebut dengan idio geosinklinal.


Gambar: disini, disini
close