Geograph88: Ekosistem | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Dampak Berkurangnya Keanekaragaman Tumbuhan

Dampak Berkurangnya Keanekaragaman Tumbuhan

Tumbuhan adalah salah satu komponen penting dalam ekosistem di bumi ini. Tumbuhan adalah produsen utama dan menjadi sumber kehidupan.

Lalu apa jadinya jika kondisi tumbuhan di bumi ini semakin sedikit?.

Berkurangnya tumbuhan di bumi akan memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung.

Kehadiran manusia dan kegiatannya yang sangat cepat membuat tumbuhan kini semakin berkurang populasinya. Berikut ini dampak berkurangnya tumbuhan bagi lingkungan:

1. Kepunahan
Kepunahan adalah hilangnya suatu spesies dalam lingkungan. Kebakan hutan akan menghancurkan habitat, hewan dan tumbuhan. Organisme yang bertahan akan menghilang perlahan dan mengakibatkan hewan dan tumbuhan menjadi langka dan pada akhirnya punah.

2. Kekeringan
Akar pohon adalah penahan aliran air hujan di dalam tanah dan menjaga cadangan ari tanah. Jika pepohonan main berkutang di hutan maka cadangan air di tanah akan menurun sehingga memicu kekeringan. Kekeringan akan menjadi bencana alam karena merusak sistem pertanian dan eksosistem.

3. Banjir
Di musim penghujan banjir sering terjadi karena kondisi pepohonan yang minim. Seringkali banjir bandang muncul dengan mambawa banyak bongkahan kayu hasil ilegal logging di hulu. Banjir banyak memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, wabah penyakit dan lainnya.
Ruang Terbuka Hijau Perkotaan
4. Tanah Longsor
Di daerah miring yang sudah minim akan tumbuhan maka sangat rawan sekali akan tanah longsor. Pohon terutama akar adalah penahan air yang baik sehingga daerah yang miring jika tidak ada pohon akan memicu longsor karena tidak adanya penahan alami dari air dan gravitasi.

5. Berkurangnya Suplai Oksigen
Oksigen dihasilkan oleh tumbuhan dari hasil fotosintesis. Indonesia adalah salah satu paru-paru dunia karena memiliki banyak hutan hujan tropis. Oksigen adalah salah satu komponen penting kehidupan dan jika pohon semakin sedikit maka kadar CO2 makin banyak dan memicu pemanasan global.

Pemanasan global akan berdampak pada berbagai macam fenomena mulai dari naiknya muka air laut, mencairnya es kutub, anomali cuaca dan lainnya. Perubahan iklim juga menjadi fenomena yang saat ini banyak terjadi di permukaan bumi.

6. Suhu Panas
Kondisi wilayah yang minim pepohonan pastinya akan sangat panas. Hal ini karena pohon berfugnsi menyerap panas matahari dan polusi udara. Kota-kota wajib membangun ruang terbuka hijau untuk menjaga iklim mikro agar seimbang dan tidak berdampak buruk bagi kehidupan.
Tata Cara Pengolahan Limbah Padat dan Cair

Tata Cara Pengolahan Limbah Padat dan Cair

Limbah tentunya sangat berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan mahluk hidup.

Di era industri jaman now, dimana-mana pasti kita menemukan limbah mulai dari rumah, selokan hingga dekat pabrik. Pengelolaan limbah masih menjadi masalah di Indonesia dan harus segera dicari solusinya.

Berikut ini contoh manajemen limbah padat dan cair yang bisa diaplikasikan di masyarakat agar lingkungan tetap bersih, sehat dan nyaman ditinggali mahluk hidup.

Pengolahan limbah padat bisa dilakukan dengan metode menimbun (sanitary landfill), pembakaran (insinerasi), dan pembuatan kompos.

a. Sanitary landfill
Limbah padat bisa dikurangi dengan cara menimbun dalam lubang galian. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai. Masyarakat di Jawa sudah biasa melakukan hal ini di desa-desa. Pada metode penimbunan ini sampah ditimbun dalam lubang yang diberi alas lapisan tanah liat dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah.

Penimbunan limbah padat yang tidak didesain baik maka akan menyebabkan masalah lingkungan seperti bau busuk, sarang hama dan penyakit, genangan air dan gas metana serta CO2 yang bisa berbahaya bagi kesehatan atau meledak sewaktu-waktu.

b. Insinerasi
Insinerasi adalah proses pembakaran sampah atau limbah padat menggunakan alat yang disebut insinerator. Keuntungan dari mekanisme ini adalah volume sampah berkurang banyak hingga 90%. Selain itu proses insinerasi menghasilkan panas yang bisa dimanfaatkan untuk penggerakan turbin untuk pembangkit listrik atau pemanas ruangan.

c. Kompos
Pembuatan kompos adalah mengolah sampah organik seperti sayuran, daun kering atau kotoran hewan melalui proses penguraian oleh mikroorganisme tertentu. Pembuatan kompos adalah cara terbaik mengolah sampah organik dan sudah banyak dilakukan masyarakat secara individual. Kompos juga bisa digunakan untuk pupuk pertanian.
Pengolahan limbah cair
Pengolahan Limbah Cair
Pengolahan limbah cair dilakukan utnuk menghilangkan zat yang mengontaminasi air dari limbah domestik dan industri. Pengolahan limbah air meliputi proses fisika, kimia dan biologi. Tujuannya adalah menghasilkan limbah yang tanpa polutan sehingga tidak mengganggu ekosistem dan lingkungan.

Pabrik-pabrik semestinya punya sistem penampungan dan pengolahan limbah yang baik agar tidak mencemari lingkungan seperti yang terjadi saat ini di kota-kota Indonesia. Di negara maju seperti Singapura, limbah cair ini bisa diproses sehingga dapat kembali menjadi air siap konsumsi dengan melalui serangkaian
Aliran Energi Ekosistem (Produsen-Konsumen-Pengurai)

Aliran Energi Ekosistem (Produsen-Konsumen-Pengurai)

Jika hanya ada satu hal yang perlu kamu pahami tentang ekosistem, kamu harus paham bahwa penghuni dari suatu ekosistem itu slaing bergantung satu sama lain untuk kelangsungan hidup mereka. Seperti apa ketergantungan dalam ekosistem itu?

Setiap organisme yang hidup pada ekosistem memainkan peran penting dalam aliran energi dalam bentuk jaring makanan.

 Peran seekor burung sangat berbeda dengan bunga. Tapi keduanya sama-sama diperlukan untuk kelangsungan hidup secara keseluruhan ekosistem, dan semua makhluk hidup lainnya.

Ekologi telah mendefinisikan tiga cara bahwa makhluk hidup menggunakan energi dan berinteraksi dengan satu sama lain. Organisme terbagi  sebagai produsen, konsumen, atau pengurai. Berikut adalah melihat masing-masing peran dan tempat mereka dalam suatu ekosistem.

Produsen

Peran utama produsen adalah untuk menangkap energi dari matahari dan mengubahnya menjadi makanan. Tanaman, alga, dan beberapa bakteri adalah produsen.

Melibatkan proses yang disebut fotosintesis, produsen menggunakan energi matahari untuk mengubah air dan karbon dioksida menjadi energi makanan.

Jadi hanya tumbuhan yang bisa menghasilkan makanan sendiri alias otomatis. Produsen (vegetasi) adalah sumber asli dari semua makanan dalam suatu ekosistem.

Pada kebanyakan ekosistem, matahari adalah sumber energi yang digunakan produsen untuk menciptakan energi. Tetapi dalam beberapa kasus yang jarang terjadi-seperti ekosistem yang ditemukan di lapisan jauh di bawah tanah-produsen bakteri dapat menggunakan energi yang ditemukan dalam gas yang disebut hidrogen sulfida, yang ditemukan di dalam lingkungan, untuk menciptakan makanan bahkan dengan tidak adanya sinar matahari!
Aliran energi ekosistem

Konsumen


Sebagian besar organisme dalam ekosistem tidak dapat membuat makanan mereka sendiri. Mereka bergantung pada organisme lain untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka.

Mereka disebut konsumen-karena itulah apa yang mereka lakukan-mengkonsumsi. Konsumen dapat dipecah menjadi tiga klasifikasi: herbivora, karnivora dan herbivora

Herbivora adalah konsumen yang hanya memakan tanaman. Rusa dan ulat adalah herbivora yang umumnya ditemukan di sejumlah lingkungan.

Karnivora adalah konsumen yang hanya makan hewan lain. Singa dan laba-laba adalah contoh karnivia. Ada kategori khusus karnivora yang disebut scavengers. Scavengers adalah hewan yang hanya makan hewan mati. Lele adalah contoh scavenger.

Omnivores adalah konsumen yang makan baik tanaman dan hewan tergantung pada musim dan ketersediaan makanan. Beruang, sebagian besar burung, dan manusia adalah omnivores.

Pengurai

Konsumen dan produser dapat hidup bersama dengan baik, tapi setelah beberapa waktu, bahkan burung nasik dan lele tidak akan mampu bersaing dengan semua mayat yang akan menumpuk tahun. Di situlah pengurai datang.

Dekomposer adalah organisme yang memecah dan mengurai makanan dari limbah dan organisme mati dalam ekosistem.

Dekomposer adalah sistem daur ulang alam yang natural. Dengan memecah bahan-dari pohon mati atau limbah dari hewan lain, pengurai kembali mentransfer nutrisi ke tanah dan menciptakan sumber makanan lain untuk herbivora dan omnives dalam ekosistem. Jamur dan bakteri adalah pengurai umum.

Setiap makhluk hidup dalam ekosistem memiliki peran untuk dimainkan. Tanpa produsen, konsumen dan pengurai tidak akan bertahan karena mereka tidak memiliki makanan untuk dimakan. Tanpa konsumen, populasi produsen dan pengurai akan tumbuh di luar kendali.

Dan tanpa pengurai, produsen dan konsumen akan segera menjadi dimakamkan di limbah mereka sendiri.

Piramida energi


Piramida enrgi adalah alat lain yang digunakan oleh para ahli ekologi untuk memahami peran organisme dalam ekosistem dan berapa banyak energi yang tersedia di setiap tahap dari jaring makanan.

Sebagian besar energi dalam ekosistem tersedia di tingkat produsen. Ketika Anda bergerak ke atas piramida, jumlah energi yang tersedia menurun secara signifikan.

Secara umum, hanya sekitar 10 persen dari energi yang tersedia dari satu tingkat dari Piramida energi transfer ke tingkat berikutnya.

Sisanya 90 persen energi baik dimanfaatkan oleh organisme dalam tingkat itu atau hilang ke lingkungan sebagai panas.

Piramida energi menunjukkan bagaimana ekosistem alami membatasi jumlah setiap jenis organisme yang dapat dipertahankan.

Organisme yang menduduki tingkat atas dari Piramida-tersier konsumen-memiliki sedikitnya jumlah energi yang tersedia.

Oleh karena itu jumlah mereka dibatasi oleh jumlah produsen dalam suatu  ekosisistem.
Ekosistem - 5 Tahapan Sikus Nitrogen

Ekosistem - 5 Tahapan Sikus Nitrogen

Nitrogen merupakan salah satu komponen yang ditemukan dalam sel termasuk protein. Nitrogen dari udara diubah menjadi ion terlarut hingga mampu diserap akar tanaman.

Komponen nitrogen ini menjadi senyawa dalam tanaman dan kemudian diteruskan dari satu organisme ke organisme lain.

Lalu senyawa nitrogen ini dilepaskan lagi ke atmosfer dalam bentuk gas nitrogen. Ini adalah proses daur nitrogen.

Berikut ini tahapan proses siklus nitrogen.
1. Tahap Fiksasi
Sekitar 78 persen udara tersusun atas nitrogen akan tetapi nitrogen tidak terlalu reaktif untuk digunakan secara langsung oleh tanaman untuk menghasilkan protein.

Nitrogen harus diubah menjadi ion terlarut seperti nitrat. Bakteri pengikat nitrogen yang ditemukan pada akar dapat melakukan proses ini. Petir juga dapat mengubah gas nitrogen menjadi nitrat.

2. Penyerapan ke akar dan penggabungan ke tubuh tanaman
Tanaman menyerap nitrat dari tanah dan menggunakannya untuk membuat protein

3. Bergerak sepanjang rantai makanan dan ekskresi
Ekskresi urea dalam urine binatang melepaskan nitrogen kedalam tanah. Bakteri dalam tanah manghasilkan enzim bernama urease yang mampu mengubah urena menjadi amonia.

Bakteri nitrifikasi mengubah amonia menjadi nitrat yang membuat tanaman mampu menyerapnya.

4. Kematian binatang
Dekomposer memecah protein dalam tubuh bangkai yang mati menjadi amonia. Bakteri nitrifikasi kemudian mengubah amonia menjadi nitrit dan nitrat.

5. Pelepasan ke atmosfer
Bakteri denitrifikasi dalam tanah memecah nitrat dan mengembalikan nitrogen ke udara. Hal ini terjadi dalam kondisi anaerob.

Petani mencoba mencegah denitrifikasi selama pertumbuhan tanaman karena tanaman akan tumbuh dengan baik saat banyak kandungan nitrat dalam tanah yang digunakan untuk membuat protein untuk pertumbuhan.
Ekosistem - 5 Tahapan Sikus Nitrogen
Daur nitrogen
Langkah-langkah petani mencegah denitrifkasi adalah:
1. Bajak tanah teratur untuk mendorong kondisi anaerob
2. Mengeringkan area yang tergenang air
3. Rotasi tanaman dengan menanam kacang-kacangan setiap jeda beberapa bulan atau tahun. Kacang-kacangan punya nodul akar yang dapat diisi bakteri pengikat nitrogen yang dapat dapat mengubah gas nitrogen langsung dari udara menjadi senyawa nitrogen yang dapat digunakan tanaman meningkatkan kesuburan tanah.

 Gambar: disini
close