Geograph88: Pembangunan Berkelanjutan | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Majalengka, Siap Menjadi Kutub Pertumbuhan Baru

Majalengka, Siap Menjadi Kutub Pertumbuhan Baru

Perkembangan dan pertumbuhan pembangunan infrastruktur di Jawa Barat begitu pesat saat ini. 

Jika dahulu, kota-kota di bagian utara dan selatan saja yang berkemnbang pesat karena dilalui oleh jalur utama propinsi kini wilayah tengah menjadi sasaran utama pembangunan selanjutnya. 

Kabupaten Majalengka menjadi salah satu wilayah yang siap tumbuh menjadi kutub pertumbuhan baru di Jawa Barat.

Pembangunan tol Cipali dengan exit tol di Kertajati membuat kota ini perlahan menjadi jalur transportasi alternatif. 

Selain itu pembangunan bandara Kertajati akan semaki menambah pesat pembangunan di Majalengka. 

Jalur tol lain yaitu Cisumdawu yang menembus perbukitan Sumedang siap untuk dilintasi beberapa tahun kemudian dan akan tembus hingga Kertajati. 

Jika dahulu Majalengka merupakan kota sunyi dan jauh dari hiruk pikuk pembangunan dan industri, maka kota ini kini tengah siap-siap untuk berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru. 

Ciri khas Majalengka yang saya sukai adalah kotanya yang masih tidak terlalu padat, udaranya masih segar, tidak ada kemacetan dan berada di kaki pegunungan. 

Suatu kota memang tinggal menunggu waktu saja untuk berkembang karena kapasitas kota lain yang sudah overload. Namun pembangunan harus tetap berprinsip pada kaidah keseimbangan lingkungan. 
Majalengka, Siap menjadi Kutub Pertumbuhan Baru
Dua Jalan Tol Membelah Majalengka, pic:http://3.bp.blogspot.com

Rencana pembangunan tata ruang kota harus didesain sebaik mungkin jangan sampai nanti kota ini menjadi kota maju namun sama seperti kota lainnya di Jawa seperti macet, sampah, polusi, banjir dan lainnya. Kota yang baik adalah kota yang layak huni artinya mementingkan kesehatan jiwa dan raga penduduknya. 

Citra inilah yang harus tetap dipelihara oleh Majalengka sebagai salah satu pusat agrobisnis di Jawa Barat. 

Majalengka dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan yang indah dan prospek wisata agrobisnis dan wisata alam menjadi potensi andalan kota ini. 

Kota haruslah dikembangkan sesuai dengan potensinya agar tidak terjadi bencana lingkungan seperti di kota-kota besar lain di Indonesia. Jika sudah terjadi maka untuk memperbaikinya sangat sulit.
Darimana Asal Energi Biogas?

Darimana Asal Energi Biogas?

Pernahkah kalian melihat di TV tentang kompor yang gas nya berasal dari kotoran hewan?, itulah yang namanya energi biogas.

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari sisa-sisa mahluk hidup yng diuraikan oleh mikroba melalui proses penguraian. 

Sebagai bahan dasar proses penguraian adalah sisa-sisa mahluk hidup berupa sampah pertanian seperti batang jagung, jerami, ampas kelapa atau tumbuhan lain. 

Sebagai bahan yang mengandung mikroba pengurai digunakan kotorna sapi. Kemudian kedua bahan tersebut diberi air dan diaduk agar bercampur. 

Agar proses penguraian berjalan cepat maka sampah organik itu dapat dipotong-potong.

Proses penguraian berjalan optimal pada suhu 35 - 37 derajat C. Adukan campuran bahan tadi tidak boleh bersifat asam juga tidak boleh bersifat basa tapi harus bersifat netral. 

Proses pembuatan biogas harus dilakukan di tempat tertutup rapat sehingga tidak kemasukkan udara karena mikroba pengurai sangat peka terhadap Oksigen. 

Selain itu jika terkena matahari maka mikroba pengurai akan mati sehingga proses penguraian tidak berjalan. Adukan itu ditempatkan dalam suatu bejana atau bak beton  yang diletakkan di dalam tanah.
Mekanisme Biogas
Gas yang timbul dari hasil penguraian itu sebagian besar adalah gas methan (CH4) yang sangat mudah terbakar dan gas lain yaitu karbondioksida (CO2) yang berkisar seperempatnya. 

Gas yang terjadi dalam jumlah yang sangat kecil antara lain karbon monoksida (CO) yang mudah terbakar dan bersifat racun, nitrogen (N2) sama sekali tidak berbahaya tapi tidak berguna karena tidak dapat terbakar dengan udara dan gas hidrogen sulfida (H2S) yang juga dapat dibakar dan berbau busuk.

Gas hasil penguraian tadi dapat dinaikkan mutunya dan dihilangkan baunya dengan cara dicuci yaitu dengan jalan mengalirkan air yang dibubuhi kapur. 

Dengan pencucian tersebut maka bau gas yang tidak enak menjadi hilang dan gas CO2 yang tidak berguna untuk bahan bakar akan diserap air kapur sehingga biogas yang diperoleh nantinya dapat dibakar dengan hasil panas yang tinggi. 

Biogas nantinya dapat ditampung dalam tangki penampungan gas dan disalurkan melalui pipa ke berbagai rumah atau tempat lain. Saat ini banyak sekali desa-desa yang sudah mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan ini. 

Sumber dan gambar:
Maskoeri Jasin. Ilmu Alamiah Dasar
disini
close