Geograph88: Geografi Lingkungan | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Perbedaan Ekosistem Rawa Gambut dan Air Tawar

Perbedaan Ekosistem Rawa Gambut dan Air Tawar

Postingan kali ini kita akan belajar memahami perbedaan antara eksosistem rawa gambut dengan ekosistem rawa air tawar. 

Ekosistem rawa gambut pada dasarnya ditumbuhi oleh vegetasi yang spesifik atau memiliki ciri khas. 

Sama halnya dengan hutan rawa, hutan gambut dengan hutan rawa sering disebut dengan hutan rawa saja. 

Daerah diantara hutan gambut dan hutan rawa disebut hutan bergambut. Di dalam daerah hutan bergambut terdapat elemen-elemen pembentuk hutan rawa dan hutan gambut.
http://www.asknature.org/
Hutan rawa dan hutan gambut terdapat pada satu daerah dan biasanya hutan gambut merupakan kelanjutan dari hutan rawa. 

Disamping itu terdapat perbedaan antara hutan gambut dan hutan rawa yaitu: Hutan gambut memiliki lapisan gambut, yaitu lapisan bahan organik yang tebal dan dapat mencapai 1-2 m sedangkan hutan rawa, tebal bahan organiknya lebih tipis yaitu sekitar 0,5 m. 

Kedua hutan ini selalu hijau dan memiliki tajuk yang berlapis-lapis dengan berbagai jenis namun tidak selengkap hutan hujan. 

Biasanya didominasi oleh jens dikotil dan ketinggian nya dapat mencapai 30 m terutama di bagian tepi.

Semakin ke tengah, vegetasi yang ada pada hutan gambut maka pohonnya akan semakin pendek. 

Ada saatnya di tengah hutan gambut dimana lapisan gambut dapat mencapai 2 m sering disebut hutan cebol.

Jenis vegetasi hutan gambut biasanya terdiri dari jenis Palmae, Pandanus, Podocarpus dan beberapa wakil dari famili yang terdapat pada hutan hujan seperti famili Dipterocarpaceae. 

Ph habitat rawa gambut berkisar di angka 3,2 dan bersifat hampir steril sehingga jumlah vegetasi di sana tidak terlalu banyak namun kebanyakan merupakan vegetasi khas. 

Komposisi vegetasi yang ada pada hutan gambut sangat tergantung pada gambutnya.
Gambut adalah suatu tipe tanah yang dibentuk dari sisa-sisa tumbuhan (akar, batang, dahan, ranting, daun dan lainnya) serta memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi. 

Permukaan gambut seperti kerak yang berserabut menutupi bagian dalam yang lembab berisikan potongan kayu-kayu besar dan sisa tumbuhan lain.Gambut terbagi dua yaitu Gambut Ombrogen dan Gambut Topogen.

Gambut Ombrogen adalah tipe yang umum dijumpai dan berlokasi di dekat pantai dengan kedalaman solum mencapai 20 m. Air bertipikal sangat asam dan miskin zat hara (oligotropik) terutama kalsium. 

Permukaan tanahnya lebih tinggi dari permukaan air disekelilingnya dan tumbuhan yang tumbuh pada tanah ini menggunakan zat hara dari tumbuhan itu sendiri, dari gambut dan air hujan. Tidak ada zat hara yang berasal dari sumber lainnya.

Gambut Topogen adalah tipe gambut yang kurang umum dijumpai dan biasanya dibentuk pada lekukan - lekukan tanah. 

Vegetasi yang ada pada tanah ini mendapatkan zat hara dari  mineral tanah, air sungai, sisa tumbuhan dan air hujan. 

Gambut Topogen terdapat di pantai-pantai di balik bukit pasir dan daerah pedalaman di mana drainase nya terhambat. 

Tebal gambut ini biasanya sekitar 4 m dengan air yang bersifat agak asam dan mengandung zat hara cukup banyak (mesotrofik).

Eksosistem Rawa Air Tawar merupakan ekosistem dengan tipe habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan pH di angka 6. 

Kondisi permukaan air tidak selalu tetap kadangkala naik dan kadang turun bahkan bisa mengering sekalipun. 

Ekosistem rawa air tawar ini ditumbuhi oleh beragam jenis vegetasi yang disebabkan oleh terdapatnya beragam jenis tanah pada rawa tersebut. Biasanya dalam ekosistem ini tidak terdapat banyak vegetasi.

Di beberapa daerah, rawa air tawar banyak ditumbuhi rumput dan ada pula yang hanya ditumbuhi pandan atau palem yang menonjol. 

Adapula yang menyerupai kenampakan hutan dataran rendah dengan akar tunggang atau akar napas maupun seperti penupang pohon. 

Cagar alam Way Kambas di Lampung termasuk dalam jenis ekosistem rawa air tawar. Berbeda dengan hutan rawa gambut, pada hutan rawa air tawar tidak terdapat kandungan gambut yang tebal dan sumber airnya berasal dari air hujan atau air sungai.
Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Kalian tentu sering mendengar kata pembangunan berkelanjutan baik itu di sekolah, televisi atau media lainnya. 

Negara-negara maju saat ini sudah mempraktikkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-harinya

Zero waste menjadi perhatian pemerintah dan meminilmasir polusi dan limbah sampai titik nol sudah menjadi kenyataan.

Pembangunan Konsep pembangunan berkelanjutan (suistanable development) dimulai sejak Konferensi PBB mengenai Lingkungan Hidup dan Manusia di Stockholm pada 5-16 Juni 1972. 

Keprihatinan negara-negara berkembang dan negara-negara maju mengenai degradasi lingkungan yang mulai merebak mendorong pemimpin negara-negara tersebut untuk berunding merumuskan solusi pemecahannya. 

Sejak saat itulah tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan hasil dari kerja dan gagasan Komisi Dunia untuk lingkungan dan pembangunan (WCED = World Commission on Environment and Development)

Pembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai usaha perbaikan mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. 

Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang diciptakan seiring makin parahnya kerusakan lingkungan hidup di bumi setelah era revolusi industri terjadi. 

Dalam praktiknya pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan memiliki 5 prinsip yaitu:
a. Pembangunan harus bisa memenuhi kebutuhan  masa kini  dengan tidak mengorbankan hak pemenuhan untuk generasi yang akan datang.
b. Pembangunan harus tetap memerhatikan ekosistem sesuai dengan kemampuan daya dukungnya, dengan demikian keberadaan ekosistem akan tetap terjaga dan kualitas lingkungan tidak mengalami penurunan.
c. Setiap pembangunan harus selalu mewujudkan kepentingan kelompok atau masyarakat lain dimanapun dan mengindahkan keberadaan kehidupan yang lain sekarang atau nanti.
d. Pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan mutu hidup manusia dalam segala aspek, termasuk agama, fisik, jiwa, dan budaya dengan tidak memboroskan sumberdaya alam yang tidak terbarukan.
e. Pembangunan berkelanjutan akan terwujud apabila masyarakat memiliki komitmen bersama untuk mewujudkannya dalam bentuk perilaku-perilaku positif.


Selang lima tahun setelah KTT Rio de Janeiro, Konferensi Kyoto diselenggarakan dengan mengusung tema utama meningkatnya emisi karbon. 

Konferensi ini menghasilkan kesepakatan mengenai pembatasan kadar maksimal gas efek rumah kaca. Hasil KKT Kyoto dinamakan Protokol Kyoto yang  salah satu isinya memasukan 6 jenis gas pemicu pemnasan global yaitu CO2, N2O, CH4, CFC, PFC dan SF6. 

Indonesia pernah menjadi salah satu tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim pada 3-14 Desember tahun 2007 di Bali. 

Konferensi ini digelar sebagai upaya lanjutan untuk menemukan solusi pengurangan efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global serta upaya bantuan terhadap negara miskin dalam mengatasi pemanasan global.


Konsep pembangunan berkelanjutan yang sudah puluhan tahun dicetuskan ternyata hingga saat ini masih jauh dari harapan. Fokus utama pada akhirnya hanya pada “pembangunan” sedangkan “keberlanjutan” menjadi kabur dan terkesan tidak berarti. 

Prinisp berkelanjutan harus tertanam pada setiap kebijakan yang diambil agar tidak bersifat sesaat namun jangka panjang dengan menitikberatkan pada aspek konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara arif dan bijaksana. 

Proses produksi dan konsumsi yang berbasis sumber daya alam daa lingkungan harus berlandaskan asas efisien yaitu hemat energi dan hemat bahan baku. 

Contoh negara yang sudah mempratekkan perilaku tersebut adalah Jepang yang dengan teknologinya mampu  mendaur ulang setiap produk. 

Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, kemudian diproses kembali hingga menjadi produk daur ulang dan setiap produk makanan dan minuman diberi label (ecolabel)

Saat ini keberhasilan pembangunan masih dominan diukur secara ekonomi bukan ekologi. Kepentingan manusia masih lebih diutamakan dibandingkan kelestarian sumber daya alamnya. 

Paradigma pembangunan berkelanjutan pada hakikatnya berlandaskan ideologi materialisme diterima begitu saja oleh negara-negara berkembang saat ini padahal dahulu kesalahan tersebut dilakukan oleh negara-negara maju sebelumnya. 

Negara maju saat ini melakukan berbagai pengembangan teknologi ramah lingkungan sedangkan negara berkembang melakukan pembangunan secara massal tanpa memerhatikan lingkungan.  

Hal tersebut tidak lain dilakukan untuk  mengejar ketertinggalan negara berkembang terhadap negara maju yang pada akhirnya membuat kehancuran pada lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Efek rumah kaca terhadap ozon
Pengelolaan Dampak Pencemaran Air

Pengelolaan Dampak Pencemaran Air

Di negara berkembang seperti Indonesia, kasus pencemaran sudah tentu menjadi salah satu kendala dalam menyukseskan program pembangunan berkelanjutan

Coba anda sesekali pergi ke sungai yang ada di perkotaan pasti ada saja salah satu sungai yang kotor, bau dan tentunya tidak enak dipandang karena tercemar oleh zat-zat tertentu. 

Permukaan bumi sebagian besar yaitu 2/3 nya ditutupi air sehingga keberadaan air sangat memengaruhi terhadap iklim di lingkungan tempat tinggal kita. Semua mahluk hidup sangatlah membutuhkan air, dalam tubuh manusia saja misalnya terkandung lebih dari 70% air. 

Di bumi ini terdapat 97% dari total jumlah air yang ada adalah air asin yaitu lautan dan hanya sekitar 3% dari total jumlah air tersebut berada di danau, sungai, tanah, tumbuhan dan manusia dan sisanya termanifestasi dalam bentuk gunung es yang terdapat di kutub utara dan selatan dan puncak pegunungan tinggi. 

Semua proses perputaran air di bumi dinamakan siklus air atau daur hidrologi. Baca juga: Animasi Siklus Air.


Ekosistem perairan adalah suatu tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara semua unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktifitas lingkungan hidup di perairan. 

Maka di dalam ekosistem perairan, unsur-unsur yang ada di dalamnya akan membentuk hubungan timbal balik yang bersifat kompleks antar organisme hidup dan tidak hidup secara bersama-sama membentuk sistem ekologi.
Peremajaan sungai ibukota. img: detik.com
Ekosistem perairan adalah suatu sistem ekologi yang meliputi badan air dengan segala kehidupan yang ada di perairan tersebut. 

Ekosistem perairan sangat dipengaruhi oleh daerah pengalirannya. Kondisi alam dan kegiatan-kegiatan yang terdapat di sepanjang aliran seperti topografi, geologi, tata guna lahan dan aktifitas sosial yang terdapat di sekitarnya ikut menentukan kualitas dan kuantitas limbah yang masuk ke dalam badan air. 

Kondisi ini selanjutnya akan memengaruhi kondisi fisik dan kimia badan air seperti kecepatan aliran, tegangan geser pada dasar air, ukuran partikel dasar air, suhu air, jumlah oksigen terlarut dan unsur hara yang terlarut dalam  perairan. 

Kondisi fisik dan kimia tersebut pada akhirnya akan memengaruhi pola kehidupan biota di dalamnya.

Contoh pada kasus sungai yang memiliki sifat aliran cukup deras umumnya dihuni oleh ikan-ikan bertubuh panjang, langsing dan kuat berenang melawan derasnya arus sungai. 

Tumbuhan yang hidup di air yang cukup deras tersebut biasanya berjenis ganggang berkerak atau ganggang yang bisa berenang serta lumut berbentuk daun. 

Daya dukung lingkungan pada perairan sangat ditentukan oleh besarnya daya asimilitaif yang menggambarkan besarnya daya tampung perairan untuk menerima dan menyerap limbah yang mengalir ke dalamnya. 

Daya asimilatif ini sangat erat kaitannya dengan sifat pemurnian air. Proses pemurnian alami yang terjadi dalam perairan dapat terjadi dalam empat tahap yaitu: tahap degradasi, tahap dekomposisi, tahap pemulihan dan tahap pembentukkan air bersih atau air normal. Baca juga: sumber-sumber pencemaran air

Untuk mengukur besarnya dampak pencemaran pada air maka dapat digunakan model matematik yang didasarkan pada hukum keseimbangan maassa, dimana besaran massa yang masuk dan besaran massa yang keluar adalah sama. 

Penyebaran bahan pencemar air sungai sangat dipengaruhi oleh faktor: kecepatan arus pada badan air, berat jenis bahan pencemar, sifat bahan pencemar dan kondisi kualitas badan air. 

Parameter pencemar air yang lazimnya digunakan untuk menganalisis limbah cair adalah:
1. Parameter fisika: suhu, warna, bau, rasa, kekeruhan, zat tersuspensi.
2. Parameter kimia: pH, zat organik, zat anorganik seperti logam berat.
3. Parameter bakteriologi: bakteri coliform, bakteri parasitik, bakteri patogenik.
4. Radioaktifitas.
5. Pestisida

Besarnya dampak pencemaran air sungai adalah konsentrasi pencemar di sungai sebelum mendapat beban pencemaran dikurangi dengan konsentrasi pencemar setelah mendapat beban pencemaran baru.

Bila besar dampak negatif (-) maka konsentrasi pencemar di sungai setelah mendapat beban pencemar baru lebih besar dibanding konsentrasi pencemar di sungai sebelum mendapat beban pencemar. 

Ini menandakan telah terjadi pencemaran pada badan sungai. Semakin besar besaran negatif maka semakin besar pula dampak negatifnya. Baca juga: Struktur tata ekologi kota 
Permasalahan Tata Kelola Sumberdaya Pesisir Indonesia

Permasalahan Tata Kelola Sumberdaya Pesisir Indonesia

Sumber daya air adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang merupakan anugerah Tuhan.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki kekayaan wilayah perairan yang luar biasa namun saat ini wilayah pesisir di Indonesia masih banyak yang belum begitu berkembang. 

Lantas apa yang menyebabkan wilayah pesisir Indonesia masih lambat berkembang?.

1.    Kualitas Sumberdaya Manusia Kelautan
Sampai dengan tahun 2000, laju pertumbuhan penduduk berkisar 1,6 persen dan menjelang tahun 2018 diperkirakan akan menurun menjadi 1,5 persen  per tahun, sehingga mendekati tahun 2018 Indonesia akan memiliki junlah sumberdaya manusia lebih kurang 256 juta jiwa.  

Sebanyak 157 juta dari  256 juta diperkirakan tinggal di Pulau Jawa dan Bali, dan sebagian besar di wilayah pesisir (BPS, 2001).

Dari jumlah yang demikian besar, profil tenaga kerja yang ada pada saat ini diperkirakan 74% berpendidikan dasar termasuk 13% buta huruf, sebanyak 10,9% berpendidikan SLTP dan 13% SLTA, yang berpendidikan tinggi kurang lebih 2,3%.  

Walaupun pada saat ini telah terjadi pergeseran latar belakang pendidikan ke arah yang semakin tinggi, namun masih timbul pertanyaan apakah kualifikasi pendidikan sumberdaya manusia tersebut dapat mendukung pengembangan dan penguasaan IPTEK kelautan seperti yang diharapkan.

Kenyataan diatas juga terjadi di dalam proporsi SDM setiap pemerintah daerah yang memiliki wilayah pesisir dan laut.  Hal ini tentu saja sangat ironis, mengingat beberapa propinsi/kabupaten/kota tersebut merupakan daerah dengan luasanan wilayah laut yang sangat besar (Aceh, Sulawesi, dll.)

2.    Kerusakan Fisik Lingkungan Pesisir
Tingkat intensitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan di sebagian besar wilayah pesisir tertentu telah menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap kondisi fisik lingkungan pesisir dan laut.  

Secara ringkas kondisi saat ini kerusakan lingkungan pesisir tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pencemaran di pesisir
a.     Kerusakan Fisik Habitat Ekosistem Pesisir dan Lautan
Kerusakan fisik baitat ekosistem wilayah pesisir dan laut di ndonesia umumnya terjadi pada hutan mangrove dan terumbu karang.  

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang paling produktif dan merupakan sumber hara untuk perikanan pantai.  Hutan ini menyokong kehidupan sejumlah besar sepesies binatang dengan menyediakan tempat berbiak, berpijah, dan makan. 

Spesies tersebut meliputi berbagai jenis burung, ikan, kerang dan krustasea seperti udang, kepiting.  Hutan bakau juga berfungsi sebagai pelindung pantai dan penstabilisasi serta berperan sebagai penyangga pencegah erosi yang disebabkan oleh arus, gelombang, dan angin.  

Mereka juga memainkan peranan penting sebagai pengendali banjir dan pemelihara permukaan air di bawah tanah.

Luas hutan mangrove di Indonseia terus mengalami penurunan dari luas areal yang mencapai 5.209.543 hektar pada tahun 1982, menurun menjadi 3.235.700 hektar pada tahun 1987 dan menurun lagi hingga sekitar 2.496.185 pada tahun 1993 ( Dahuri, dkk, 2001) seperti terlihat pada gambar 1 berikut ini.

Penurunan luasan mangrove hampir merata terjadi di seluruh kawasan pesisir Indonesia. Penyebab dari penurunan luasan mangrove tersebut adalah karena adanya peningkatan kegiatan yang mengkonversi hutan mangrove menjadi peruntukan ikan seperti pembukaan tambak, pengembangan kawasan industri dan pemukiman di kawasan pesisir serta eksploitasi (penebangan) hutan mangrove secara besar-besaran.

Nasib yang sama juga terjadi pada ekosistem terumbu karang.  Berdasarkan Walters (1994) luas terumbu karang Indonesia lebih kurang 60.000 km2.  Sedangkan menurut Tomascik, dkk (1997) menyebutkan 85.707 km2 yang tersebar luas di perairan Indonesia.  

Kondisi terumbu karang di Indonesia telah banyak yang rusak.  Berdasarkan hasil penelitian Coral Reef Rehabilition and Management Project (COREMAP) dari luasan seluruhnya hanya tinggal 6,48% kondisinya masih baik, 22,53% baik, dan 28,39% rusak serta 42,59% rusak berat (Gambar 2).  

Dari kondisi terumbu karang tersebut, ternyata terumbu karang di kawasan barat indonesia memiliki kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan terumbu karang di kawasan tengah dan timur Indonesia.

Pada umumnya, kerusakan terumbu karang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat desktruktif, yaitu penggunaan bahan-bahan peledak, bahan beracun (cyanida), dan juga aktivitas penambangan karang untuk bahan bangunan, reklamasi pantai, kegiatan pariwisata yang kurang bertanggung jawab, dan sedimentasi akibat meningkatnya erosi dan lahan atas.  

b.    Pencemaran dan Sedimentasi
Dari sekian banyak penyebab kerusakan lingkungan laut dan pesisir, pencemaran merupakan faktor yang paling penting.  

Hal ini disebabkan karena pencemaran tidak saja dapat merusak atau mematikan komponen biotik (hayati) perairan, tetapi dapat pula membahayakan kesehatan atau bahkan mematikan manusia yang memanfaatkan biota atau perairan yang tercemar.  Selain itu pencemaran juga dapat menurunkan nilai estetika perairan laut dan pesisir yang terkena pencemaran.

Tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan lautan di Indonesia pada saat ini telah berada pada kondisi yang sangat memperhatinkan.  

Tingkat beban pencemaran (pollution load) di Indonesia dapat dibagi atas tigga kategori, yaitu tingkat pencemaran tinggi, tingkat pencemaran sedang, dan tingkat pencemaran rendah.  Kawasan yang termasuk kategori tingkat pencamaran yang tinggi adalah Propinsi Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Lampung dan Sulawesi Selatan.  

Kawasan dengan kategori tingkat pencemaran sedang adalah Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, DI Aceh, Sumatera Barat, Jambi, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Maluku.  

Sedangkan kawasan dengan tingkat pencemaran rendah adalah Propinsi Irian Jaya, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, dan Nusatenggara Timur.

Sumber utama pencemaran pesisir dan lautan terdiri dari tiga jenis kegiatan, yaitu kegiatan industri, kegiatan rumah tangga, dan kegiatan pertanian.  

Sementara itu bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah dan ketiga sumber tersebut berupa sedimen, unsur hara, pestisida, organisme patogen, dan sampah.  

Jika dianalisis secara mendalam, dapat disimpulkan bahwa kawasan-kawasan yang termasuk kategori tingkat pencemaran yang tinggi merupakan kawasan-kawasan pesisir yang padat penduduk, kawasan industri dan juga pertanian.  

Perairan Indonesia merupakan jalur transportasi yang strategis yang menghubungkan negara-negara dari benua Asia maupun Eropa yang akan menuju ke Asia Tenggara maupun Australia ataupun sebaliknya, serta terletak diantara negara-negara produsen minyak dibagian barat dan negara-negara  konsumen di bagian Timur.
Indahnya Raja Ampat
Dari seluruh perairan Indonesia, wilayah yang rentan terhadap pencemaran yang dikaibatkan oleh tumpahan minyak adalah Selat Malaka, Selat Makasar, Pelabuhan, dan jalur-jalur laut atau selat yang dilalui oleh tangker.  

Posisi strategis tersebut disamping memberikan manfaat secara ekonomi, dilain pihak juga mengandung resiko terhadap bahaya kerugian dari segi ekologis.  Kerugian secara ekologis tersebut berdampak cukup luas baik secara ekonomis maupun kerusakan sumberdaya alam.   
          Sementara itu, laju sedimentasi yang masuk ke perairan pesisir juga terus meingkat.  Laju sedimentasi yang cukup tinggi terutama terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.  Bebearapa muara sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa mengalami pendangkalan yang sangat besar, akibat tingginya laju sedimentasi.  

Sebagai contoh laju sedimentasi di Sungai Citandui sebesar 5 juta m3 per tahun, Sungai Cikonde sebesar 770 ribu m3 per tahun.  Setiap tahun sekitar 1 juta m3 endapan dari kedua sungai tersebut diendapkan di Segera Anakan (ECI, 1995).  

Penyebab dari tingginya laju sedimentasi ini adalah karena sistem pengelolaan kegiatan di lahan atas tidak dilakukan dengan benar, seperti HPH, pertanian, dan lain-lain yang cenderung mengabaikan pembangunan yang berwawasan lingkungan, khusunya azas konservasi tanah.

c.     Over Eksploitasi Sumberdaya Hayati Laut
Banyak sumberdaya alam di wilayah pesisir dan laut telah mengalami overeksploitasi. Sebagai contoh adalah sumberdaya perikanan laut, meskipun secara agregat (nasional) sumberdaya perikanan laut baru dimanfaatkan sekitar 58% dari total potensi lestarinya (MSY), (Aziz, et al, 1997), namun dibeberapa kawasan (perairan), beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (overfishing).

Kondisi overfishing ini bukan hanya disebabkan oleh tingkat penangkapan yang melampaui potensi sumberdaya perikanan, tetapi juga disebabkan karena kualitas lingkungan laut sebagai habitat hidup ikan mengalami penurunan atau kerusakan oleh pencemaran dan degradasi hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang merupakan tempat pemijahan, asuhan, dan mencari makan bagi sebgian besar biota laut tropis.
Pengertian Etika Lingkungan

Pengertian Etika Lingkungan

Sebagai manusia kita tidak bisa hidup semena-mena dengan lingkungan. Manusia memang mahluk yang mendominasi dalam lingkungan (man ecological dominant), tapi dalam praktiknya kita perlu menanamkan etika tertentu agar kehidupan berjalan serasi dan berkelanjutan.

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan.

Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban.

Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Lingkungan asri dan bersih
Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a.    Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
b.   Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk emnjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c.    Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
d.   Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.
Mengukur Baku Mutu Lingkungan

Mengukur Baku Mutu Lingkungan

Lingkungan hidup adalah kesatuan aspek biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Dalam memahami lingkungan kita bisa melihatnya dalam hal kuantitas dan kualitas. 

Menurut United Nations (2007), Kualitas lingkungan dalam kaitannya dengan kualitas hidup adalah keadaan wilayah sekitar yang baik dan berpotensi untuk mengembangkan kualitas hidup yang tinggi.

Namun kualitas hidup dan kualitas lingkungan bersifat subjektif dan relatif.
Kualitas hidup dapat diukur dengan kriteria sebagai berikut.

a) Derajat terpenuhinya kebutuhan hidup sebagai makhluk hayati. Kebutuhan hidup jenis ini bersifat mutlak dan didorong oleh keinginan manusia untuk menjaga kelangsungan hidup hayati. 

Kelangsungan hidup hayati tidak hanya menyangkut dirinya, melainkan juga masyarakat dan keturunanya. 

Kebutuhan hidup hayati terdiri atas udara dan air yang bersih, pangan, kesempatan mendapatkan keturunan, perlindungan dari serangan penyakit dan bahaya.

b) Derajat terpenuhinya kebutuhan hidup manusiawi. Kebutuhan hidup jenis ini bersifat relatif, walaupun ada kaitannya dengan kebutuhan hidup jenis
pertama. Misalnya, rumah dan pakaian bukan merupakan kebutuhan mutlak, tetapi termasuk dalam kebutuhan primer.

Menurut UU no. 32 tahun 2009, baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemaran yang ditolerir keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebgai unsur lingkungan hidup. 

Dengan kata lain, baku mutu adalah peraturan pemerintah yang berisi spesifikasi dari jumlah bahan pencemar yang boleh dibuang atau boleh berada dalam sumber daya atau lingkungan.

Secara objektif baku mutu lingkugan menunjukkan sasaran pengelolaan lingkungan. Berkaitan dengan baku mutu lingkungan, terdapat nilai ambang batas yang merupakan batas-batas daya toleransi atau kemampuan lingkungan

Jenis-Jenis Baku Mutu Lingkungan
Jenis-jenis baku mutu lingkungan diatur dalam berbagai peraturan pemerintah dapat diuraikan sebagai berikut. Peraturan yang digunakan dalam penetapan baku mutu lingkungan adalah UU No. 32 tahun 2009.

a) Baku mutu air adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat dalam air, namun air tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

b) Baku mutu air limbah adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dibuang dari sumber pencemaran ke dalam air pada sumber air sehingga tidak menyebabkan dilampauinya baku mutu air.

c) Baku mutu udara ambien adalah batas kadar yang diperblehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di udara, namun tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, dan benda.

d) Baku mutu air laut adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain yang ada atau harus ada, dan zat atau bahan pencemar yang ditenggang adanya dalam air laut.

e) Baku mutu udara emisi adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dikeluarkan dari sumber pencemaran ke udara sehingga tidak mengakibatkan dilaluinya baku mutu udara ambien.

f) Baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

g) Baku mutu udara ambien dan emisi ditetapkan untuk melindungi kualitas udara di suatu wilayah. Baku mutu udara ambien dan emisi limbah gas yang dibuang ke udara harus mencantumkan secara jelas dalam ijin pembuangan gas.

Semua kegiatan yang membuang limbah gas ke udara ditetapkan mutu emisinya dengan pengertian emisi dari limbah gas yang dibuang ke udara tidak melampaui baku mutu udara emisi yang telah ditetapkan.

Parameter baku mutu udara ambien antara lain:
(1) Amoniak
(2) Timah hitam/timbal
(3) Debu
(4) Sulfur dioksida
(5) Karbon monosikda
(6) Nitrogen dioksida
(7) Oksidan
(8) Hidrogen sulfida
(9) Hidrokarbon
Alat Ukur Kualitas Udara
Hukum Keseimbangan dan Adaptasi Dalam Ekosistem

Hukum Keseimbangan dan Adaptasi Dalam Ekosistem

Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan prinsip keseimbangan yang sempurna. Kehidupan di Bumi juga sebuah planet kehidupan yang diciptakan dengan keseimbangan sempurna. 

Ekosistem memiliki keteraturan, berwujud sebagai kemampuan untuk memelihara dirinya sendiri, serta mengadakan keseimbangan kembali. 

Oleh sebab itu dalam sistem kehidupan ada cenderung untuk melawan perubahan atau usaha agar berada dalam suatu zona keseimbangan atau homeostatis. 


Homeostatis adalah istilah yang umumnya diterapkan kepada kecenderungan sistem-sistem biologi untuk bertahan terhadap perubahan-perubahan dan tetap berada dalam keadaan seimbang. 

Homeostatis merupakan kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Faktor-faktor yang mengaturnya sangat rumit yang meliputi:

- Mekanisme yang mengatur penyimpanan bahan-bahan.
- Pelepasan hara makanan
- Pertumbuhan organisme dan produksi
- Dekomposisi bahan-bahan organik

Di sini terlihat bahwa ekosistem mampu memelihara dan mengatur dirinya sendiri. Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh komponen populasi dan organisme-organisme lainnya. 

Namun dalam pengendalian ini ada batas kritisnya yaitu jika gangguan meningkat mungkin tidak akan mampu kembali ke tingkat yang benar-benar sama dengan keadaan semula. 


Ekosistem-ekosistem baru seperti tipe pertanian modern akan kurang tahan terhadap gangguan luar jika dibandingkan dengan sistem lain yang matang seperti hutan tropis. 

Dalam sistem yang matang, komponen-komponennya memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian antara satu dengan lainnya. Walaupun gangguan bersifat kecil, akan menimbulkan pengaruh yang jangkauannya di dalam ekosistem. 

Dalam situasi ini pengendalian homeostatis akan terjadi dengan baik jika masa penyesuaian dari komponen-komponen ekosistem tersebut berjalan secara evolusi.
Deforestasi merusak ekosistem
Setiap individu dalam suatu ekosistem akan mengalami adaptasi terhadap lingkungannya yang telah berubah itu. Pengertian mengenai adaptasi ini dapat bersifat dinamis dan dapat pula bersifat statis. 

Adaptasi dapat bermakna dinamik berupa suatu proses penyesuaian diri kepada suatu proses dalam rangka penyesuaian diri kepada suatu sistem. Istilah lain yang mirip dengan pengertian ini adalah perubahan yang bersifat responsif.


Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki organisme yang berfaedah bagi kelanjutan hidupnya pada perubahan keadaan di sekeliling habitatnya. 

Sifat tersebut memungkinkan tanaman menggunakan lebih banyak unsur-unsur hara, suhu, cahaya yang tersedia dan memiliki sifat resisten terhadap penyakit maupun hama.


Bentuk adaptasi ada dua yaitu adaptasi morfologis dan adaptasi fisiologis. Adaptasi morfologis adalah adaptasi yang berkaitan seperti pada kekuatan batang dan bentuk daun. 

Adaptasi fisiologis adalah usaha penyesuaian diri yang menghasilkan ketahanan terhadap parasit, kemampuan yang lebih besar dalam mengambil unsur hara atau tahan terhadap kekeringan.

Adaptasi dapat diartikan juga sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan lingkungan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih banyak untuk mempertahankan hidupnya dalam relung atau habitat yang mereka duduki. 

Ini artinya setiap organisme memiliki sifat adaptasi untuk hidup pada berbagai macam keadaan lingkungan. Jika adaptasi itu adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.

Diharapkan manusia dapat berfikir bahwa dia adalah bagian dari ekosistem dan bukan terpisah atau manusia berada di luar ekosistem. 

Artinya manusia memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan pengelolaan sumber daya alam agar tidak merusak keseimbangan ekosistem. 

Manusia harus dibukakan kesadarannya akan pentingnya keberlanjutan ekologi untuk masa depan. Alam tidak memiliki homeostatis untuk menaklukan buldozer,beton-beton tiang, pencemaran udara, air, tanah yang sukar dikendalikan selama populasi manusia terus melesat. 

Sumber: Prinsip-Prinsip Ekologi. Zoer'aini D.I.
Pengertian Hutan Kota dan Fungsinya

Pengertian Hutan Kota dan Fungsinya

Pengertian Hutan Kota dan Fungsinya- Hutan kota (urban forest) adalah suatu lahan yang ditumbuhi pohon-pohonan di wilayah perkotaan, di tanah negara atau tanah milik, berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam hal pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna, yang memiliki  nilai estetika dan dengan luasan yang solid merupakan ruang terbuka hijau pohon-pohonan, serta areal tersebut ditetapkan sebagai hutan kota.

Hutan kota juga dapat didefinisikan sebagai pepohonan dan hutan di dalam kota dn di sekitar kota yang berguna dan berpotensi sebagai pengelola lingkungan perkotaan oleh tumbuhan dalam hal ameliorasi iklim, rekreasi, estetika, fisiologi, sosial, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat kota. 

Fakuara (1987) mendefinisikan hutan kota sebagai tumbuhan atau vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan yang sebesar-besarnya  dalam kegunaan-kegunaan proteksi, estetika, rekreasi, dan kegunaan khusus lainnya.

Fungsi Hutan Kota
Hutan kota dapat berfungsi sebagai komponen perlindungan kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan sekitarnya, karena dapat berfungsi sebagai penyerap polutan,  penyerap bau, peredam kebisingan, habitat satwa liar, ameliorasi iklim, mengurangi bahaya banjir, mengurangi intrusi air laut, pengelolaan air tanah, penahan angin dan lainnya.

1. Identitas Kota dan Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan kota dapat dijadikan tempat koleksi  keaneka-ragaman hayati, dengan flora dan fauna yang spesifik-endemik untuk suatu daerah.  Beberapa jenis tanaman dan hewan merupakan simbol suatu kota atau daerah. Misalnya Enau, Kayu Manis, Trulek kayu, Pelatuk Jambul Jingga, Kambing Gunung, dan lainnya.
Hutan Kota, pic: http://m.c.lnkd.licdn.com/
2. Penahan dan Penyaring Partikel dari udara
Daun yang berbulu dan berlekuk, seperti daun bunga matahari, mempunyai kemampuan tinggi menyerap partikel dari udara. Jenis pohon berdaun lebar mampu mereduksi partikel dalam udara kota hingga 30%, sedangkan pohon berdaun jarum mampu mereduksi partikel dalam udara kota hingga 42%.

3.  Penyerap dan penyerap partikel Timbal
Umasda (1989) mengklasifikasikan kemampuan jenis pohon dalam menyerap partikel timbal dari udara sbb:
- Jenis pohon dengan kemampuan menyerap sangat baik: Jambu batu, Ketapang, dan Bungur
- Jenis pohon dengan kemampuan menyerap sedang: Mahoni, Mangga, Cemara gunung, Angsana
- Jenis pohon dengan kemampuan menyerap rendah: Daun kupu-kupu, Kersen, Kenanga,  Kere payung, Karet munding, Kenari, Akasia, Dadap.

4. Penyerap dan penjerap Debu Semen
Jenis tanaman yang cocok untuk tujuan ini adalah Mahoni, Tanjung, Kenari, Meranti merah, Kere payung, dan Kayu Hitam (Irawati, 1990).  

5. Peredam Kebisingan
Jenis tumbuhan yang efektif meredam suara ialah yang tajuknya tebal dengan daun yang rindang.  

6. Menanggulangi Hujan Asam
Pohon dapat membantu mengatasi dampak hujan asam melalui proses fisiologis yang disebut GUTASI. Proses ini akan menghasilkan unsur alkalis seperti Ca, Na, K, dan Mg, serta senyawa organik seperti glutamin dan gula (Smith, 1981). Unsur alkalis ini akan menhgikat sulfat atau nitrat yang terdapat dalam air hujan.

7. Penyerap Karbon-monoksida
Hutan kota dapat menyerap gas CO hingga 2.2 ton/ha/tahun (Smith, 1981).  Gas CO bersenyawa dengan O2  menjadi CO2, dan selanjutnya gas CO2 ini serap daun untuk fotosintesis.

8. Penyerap CO2 dan Penghasil O2
Umumnya tanaman C3 lebih responsif  terhadap kenaikan konsentrasi CO2 dalam udara, dibandingkan dengan tanaman C4. Titik kompensasi CO2 tumbuhan C3 dapat mencapai 50-150 ppm. 

9. Penahan Angin
Hutan kota mempunyai kemampuan mengurangi kecepatan aliran angin kencang hingga 75-80%. Persyaratan jenis pohon untuk keperluan ini adalah (1) memiliki dahan yang kuat, biasanya berat jenis kayunya > 0.4, (2) daunnya tidak mudah rontok oleh terpaan angin, (3) akarnya menghunjam kuat masuk ke dalam tanah, (4) mempunyai kerapatan yang cukup (50-60%). 

10. Peredam Bau
Tanaman dapat menyerap bau busuk secara langsung, pepohonan mampu menahan gerakan angin yang mengalir dari sumber bau.  Tanaman tertentu dapat mengeluarkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk; jenis tanaman ini seperti Cempaka dan Tanjung.

11. Mengurangi Penggenangan
Akar tanaman berfugnsi untuk menyerap air permukaan sehingga jika akan mengurangi genangan air di atas permukaan tanah.

12. Mengatasi Intrusi Air Laut
Jenis tanaman yang dipilih adalah tahan salinitas tinggi, evapo-transpirasi rendah, mempunyai kemampuan memperbesar infiltrasi dan perkolasi air hujan.

13. Ameliorasi Iklim
Daun mempunyai kemampuan memantulkan sinar infra merah sebesar 70%, dan visible light 6-12%. Cahaya hijau yang paling banyak dipantulkan daun (10-20%), sedangkan jingga dan merah paling sedikit dipantulkan daun (3-10%). Ultra violet yang dapat dipantulkan daun tidak lebih dari 3% (Larcher, 1980).

Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman  daaripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman.  Suhu udara yang dianggap nyaman untuk manusia di Indonesia adalah sekitar 25 derajat C.

14. Konservasi Air Tanah
Besarnya intersepsi tajuk ditentukan oleh jenis tanaman, jarak tanam, kondisi angin, evaporasi, intensitas hujan, lamanya hujan, dan curah hujan.  Sistem perakaran pohon dan seresah yang berubah menjadi bahan organik tanah akan memperbesar jumlah pori tanah, infiltrasi dan perkolasi air hujan.

15. Peredam Cahaya Silau
Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya matahari tergantung pada ukuran dan kerapatannya.  Jenis pohon dapat dipilih  berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan tajuknya.

16. Meningkatkan Keindahan
Tanaman dengan bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadukan dengan benda-benda buatan seperti bangunan gedung, jalan dan lainnya untuk mendapatkan komposisi tertentu. Warna daun,  bunga, atau buah menjadi komponen yang kontras atau untuk memenuhi rancangan yang bergradasi lembut.

17. Sebagai Habitat Burung
Salah satu saywa liar yang dapat dikembangkan di wilayah perkotaan adalah burung. Beberapa manfaat dari satwa ini adalah (1) membantu mengendalikan serangga hama, (2) membantu penyerbukan bunga, (3) mempunyai nilai ekonomi tinggi, (4) memiliki suara yang khas, menimbulkan suasana yang menyenangkan, (5) atraksi rekreasi, (6) sumber plasma nutfah, (7) objek pendidikan dan penelitian.

Beberapa jenis tumbuhan yang banyak difatangi burung adalah (1) Ficus spp., (2) dadap, (3) Dangdeur berbunga merah, (4) aren, dan (5) Bambu. 

close