Geograph88: Geografi | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Sejarah Perkembangan Ilmu Geografi Klasik Sampai Modern

Sejarah Perkembangan Ilmu Geografi Klasik Sampai Modern

Geografi itu ilmu yang udah tua lho, masa iya sih?.Emangnya sejak kapan manusia mengenal geografi?. Di pelajaran sekolah nampaknya sejarah perkembangan geografi jarang diulas oleh guru, padahal sangat penting untuk memahami seperti awal mula geografi itu berasal.

Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang terus berkembang sepanjang masa. Perkembangan ilmu pengetahuan ini berawal dari mitologi-mitologi yang berkembang di masyarakat pada kala itu. Jadi intinya dulu manusia percaya semua kejadian alam dikaitkan mitologi alias mitos.

Setelah itu seiring perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan hidup, manusia mulai melakukan penjelajahan ke berbagai tempat di muka bumi sehingga melahirkan catatan-catatan mengenai daerah yang disinggahi yang dinamakan logografi.

Dari situlah ilmu geografi kemudian berkembang dan sampai saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Istilah geografi dikemukakan pertama kali oleh Erastothenes(276-195 SM) yang berarti geo = bumi dan graphein = gambaran, jadi secara harfiah geografi adalah gambaran tentang bumi. Sejarah perkembangan ilmu geografi dibedakan menjadi 5 periode yaitu:

1. Geografi Klasik/Kuno
Geografi sudah dikenal sejak zaman Romawi kuno dan pengetahuan tentang bumi pada masa itu masih dipengaruhi oleh mitologi dan cerita rakyat. Mereka sering menghubungkan fenomena geosfer dengan cerita rakyat atau mitos sehingga aspek ilmiahnya belum ada. 

Pada awalnya ruang muka bumi banyak digambarkan oleh para pelancong, mereka menjelaskan pengalaman mereka ketika menemukan daerah yang berbeda dengan daerah asalnya. Beberapa tokoh geografi klasik antara lain Amaximandaros, Thales, Herodotus, Eratosthenes dan Ptolomeus.

2. Geografi Abad Pertengahan 
Pada akhir abad pertengahan, uraian-uraian tentang geografi masih berisikan laporan perjalanan baik hasil perjalanan darat maupun laut. Pada abad ini motif para pelancong menjelajahi berbagai tempat di belahan bumi sudah meliputi gold, glory, gospel. 

Pada masa ini banyak ditemukan wilayah-wilayah baru oleh para penjelajah dan masa ini sering disebut juga dengan Revolusi Geografi. Beberapa tokoh geografi abad pertengahan antara lain Marcopolo, Bartholomeus Diaz,  Vasco da Gama, Columbus, Amerigo Vespucci, Copernicus, Ibnu Batutta dan Ibnu Khaldun.

Peta dunia di abad pertengahan

3. Geografi Modern (abad 18)
Pada masa ini geografi sudah dianggap suatu disiplin ilmu ilmiah bukan lagi hanya sebatas catatan-catatan perjalanan para penjelajah. Geografi sudah dipandang dari segi praktis yaitu kebermanfaatannya bagi kehidupan manusia dan diajarkan pada kurikulum pendidikan formal di Eropa khususnya. 

Pada masa ini geografi sudah menjadi ilmu yang sistematis dan memiliki dasar keilmuaan yang jelas. Beberapa tokoh geografi modern antara lain: Immanuel Kant, Alexander Van Hummbolt, Karl Ritter dan Charles Darwin.

4. Geografi Akhir abad ke 19 sampai abad ke 20
Ciri pandangan geografi akhir abad ke 19 adalah fokus kajian fenomena geosfer terhadap iklim, tumbuhan, hewan serta terhadap bentang alam (landscape) pada permukaan bumi. Kebanyakan ahli geografi pada periode ini memperdalam aspek geologi pada penelitiannya dan kajian geografi manusia semakin berkurang. Beberapa tokoh geografi zaman ini adalah Friederich Ratzel, Ferdinand Von Richthofen, Hartshorne, Vidal De la Blache, Preston E. James dan Frank Debenham.

5. Geografi Mutakhir
Perkembangan geografi mutakhir lebih mengarah pada upaya pemecahan masalah yang dihadapi manusia. Geografi tidak bisa lepas dari ilmu lainnya dan sudah menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dalam penyelidikannya. 

Pada era digital seperti saat ini telah bermunculan berbagai macam software komputer yang membantu para geograf untuk menganalisis gejala atau fenomena di permukaan bumi. Tokoh geografi mutakhir antara lain Wrigley dan  Peter Haggett.

Dalam perkembangannya ilmu geografi dibagi menjadi dua paham yaitu fisis determinis  dan possibilisme. Fisis determinis beranggapan bahwa kehidupan manusia ini sepenuhnya dikendalikan oleh faktor alam seperti iklim, cuaca dan lain sebagainya. Artinya paham fisis determinis menganggap manusia sebagai mahluk yang pasif.

Possibilisme beranggapan bahwa faktor manusialah yang paling dominan dalam kehidupan ini sehingga faktor  alam dapat diantisipasi oleh perkembangan teknologi manusia. Artinya possibilisme  menganggap manusia sebagai mahluk yang aktif dan bisa memodifikasi alam.

Penanggulangan dan Pemulihan Lahan Kritis

Penanggulangan dan Pemulihan Lahan Kritis

Fungsi lingkungan yang sudah mengalami pencemaran akan menurun dan merugikan kehidupan didalamnya.

Apabila keadaan ini dibiarkan saja dan tidak diperbaiki maka usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk akan terganggu, lingkungan  akan rusak, berkurang, atau tidak lagi menunjang pembangunan. 

Akibatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga akan dirasakan generasi akan datang, karena lahan kritis, tidak diupayakan perbaikannya.

Lahan kritis tidak dapat menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan dan pencegahan. Perwujudan lahan kritis akibat kesalahan manusia, misalnya:
  1. penebangan hutan secara besar-besaran,
  2. peladangan berpindah-pindah
  3. kebakaran hutan, dan
  4. perusakan hutan lindung (tanah menjadi terbuka).
Upaya penanggulangannya dan pemulihan, antara lain dapat dilakukan dengan cara berikut.
Penanggulangan dan Pemulihan Lahan Kritis
Lahan kritis bisa dipulihkan

a.    Reboisasi ialah penghijauan hutan kembali dan rehabilitasi lahan.

Bentuknya bisa berupa penanaman kembali hutan-hutan yang telah gundul dan usaha penanaman tanah milik penduduk dengan tanaman budidaya, serta mengganti tanaman yang rusak, sudah tua dan mati.

b.    Pengawetan tanah guna mempertahankan kesuburannya. 

Tanah, air, dan tumbuh-tumbuhan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tanah merupakan tempat hidup tumbuh-tumbuhan, gudang makanan, dan juga tempat menyimpan air.

Agar tanah dapat berproduksi dengan baik, harus dijaga sebaik-baiknya dan di-awetkan supaya tidak rusak. Pengawetan tanah bertujuan untuk mempertahankan kesuburannya dan untuk menyimpan air.

Kesuburan tanah tergantung kepada unsur haranya, unsur hara dapat berkurang atau habis jika tanah rusak akibat erosi atau salah olah

Upaya pemulihan antara lain dapat dilakukan dengan cara berikut.
  1. Pemberian pupuk untuk menambah unsur hara di dalam tanah.
  2. Pembuatan pematang. Apabila tanah miring harus dibuat teras dengan penguat batu atau pohon besar, agar tanah tidak mudah longsor.

c. Pengawetan tanah guna menyimpan air.

Air dapat hilang dari dalam tanah karena menguap, meresap jauh ke dalam tanah, atau mengalir ke tempat lain.

Untuk mencegah hilangnya air dari dalam tanah dilakukan cara sebagai berikut.
  1. Mengusahakan agar permukaan tanah selalu tertutup oleh tanaman penutup sehingga mengurangi kerusakan tanah akibat penyinaran untuk penguapan.
  2. Menanam pohon-pohon besar. Akar pohon dapat menahan air sehingga tidak meresap jauh ke dalam tanah atau mengalir ke tempat lain.
  3. Lahan di daerah Iereng atau yang terlalu miring sebaiknya dijadikan tanah perkebunan atau dihutankan karena tanaman berakar kuat mengikat butir-butir tanah (dengan maksud tanah tersebut terhindar dari erosi).
  4. Daerah yang tanahnya kritis sebaiknya ditanami jenis kacang-kacangan atau tanaman yang berbiji polong.
  5. Di daerah yang tanahnya miring, dapat dibuat parit atau teras dan pematang hams melintang atau tegak lurus dengan arah kemiringan tanah. Dengan sistem ini bisa ditanam sejenis padi. Gambar: disini
Cara Membuat Proyeksi Peta dan Skala Peta

Cara Membuat Proyeksi Peta dan Skala Peta

Bumi bentuknya bulat, terus cara buat peta yang ebntuknya datar gimana?. Bagaimana memindahkan bidang bulat bumi ke bentuk datar?. 

Disinilah diperlukan sebuah teknik proyeksi peta. Syarat-syarat untuk menyatakan bentuk bola ke bentuk bidang datar dengan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di bumi dan peta adalah sebagai berikut. Baca juga: Kaitan geografi dan paleoklimatik

1. Jarak antara satu titik dengan titik lainnya di atas permukaan yang diubah harus benar.
2. Luas permukaan yang diubah harus benar.
3. Bentuk yang diubah hars benar.
4. Arah yang diubah harss tetap/benar.


Untuk dapat memenuhi keempat syarat itu sekaligus adalah suatu hal yang tidak mungkin dan satu saja dari syarat di atas untuk seluruh bola dunia juga merpakan hal yang tidak mungkin. 

Sebab itu untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah lebih besar, kita harus mengadakan kompromi antara keempat syarat itu.



Baca juga:



Sebagai akibat dari kompromi itu keluarlah bermacam jenis proyeksi peta. Setiap proyeksi mempunyai kebaikan dan kelemahan,sesuai dengan tujuan peta dan bagian dari muka bumi yang digambarkan.

Cara Membuat Proyeksi Peta dan Skala Peta
Proyeksi peta normal


Pembagian proyeksi berdasarkan bidang asal, yaitu

a.    proyeksi azimutal/zenithal (bidang datar),

b.    proyeksi conical (kerucut),
c.    proyeksi sylindrical (silinder tabung), dan
d.    proyeksi arbitrary (gubahan).


a. Proyeksi Bidang Datar (Proyeksi Zenithal)

Bidang proyeksinya datar yang berpusat pada satu titik. Proyeksi normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah kutub. Contoh peta proyeksi azimutal dapat dilihat pada gambar diatas.



Proyeksi Azimut/Zenithal dibedakan menjadi 3 macam Proyeksi.

1. Proyeksi azimuth normal, yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
2. Proyeksi azimuth transversal, yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
3. Proyeksi azimuth oblique, yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu di sembarang tempat pada bola bumi.

b. Proyeksi Kerucut (Proyeksi Conical)


Proyeksi kerucut adalah pemindahan dari garis-garis meridian dan paralel pada suatu globe ke sebuah kerucut. Proyeksi tersebut normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring). Proyeksi yang termasuk pada proyeksi kerucut adalah:



1. proyeksi kerucut dengan sebuah patokan lintang.

2. proyeksi kerucut dengan dua buah patokan lintang.

Proyeksi kerucut dibedakan menjadi 3 macam proyeksi kerucut normal, transversal, dan oblique.

1. Proyeksi kerucut normal, jika garis sing-gung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada suatu paralel (paralel standar).
2. Proyeksi kerucut transversal, apabila kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bagi tegak lurus.
3. Proyeksi kerucut oblique, apabila sumbu kerucut terhadap sumbu bumi berbentuk miring.

Cara Membuat Proyeksi Peta dan Skala Peta
Sudut proyeksi peta
c. Proyeksi Silinder (Proyeksi Cylindrical)

Proyeksi ini berdasarkan prinsip pemin-dahan garis-garis meridian dan paralel bumi dari bidang silinder yang diselubungkan ke bola bumi dan kemudian dibentangkan menjadi peta datar. 

Bidang proyeksi silinder ini dalam keadaan proyeksi normal cocok untuk daerah ekuator. Proyeksi yang termasuk pada proyeksi tabung atau silinder, yaitu proyeksi silinder sama luas (equal area) disebut juga proyeksi mumi.



Ciri-cirinya:

1. Meridian adalah garis-garis yang sejajar dan beijarak sama antara satu dengan lain.

2. Paralel garis lurus, sejajar satu sama lain, tetapi jarak antara satu dengan lainnya makin kecil ke arah kutub. 
3. Proyeksi ini tidak pemah dipakai.

d. Gubahan (Proyeksi Arbitrary)

Biasanya Dipergunakan untuk menggambarkan peta-peta yg sudah kita jumpai sehari-hari, merupakan proyeksi atau rangka peta yang diperoleh secara perhitungan.



Contoh:

1.  Proyeksi Mollweide
2. Proyeksi Gall. Sifatnya sama luas dan bentuknya sangat. Berbeda pada lintang-lintang mendekati kutub.
3. Proyeksi Mercator dan proyeksi silinder mumi 
SKALA PETA
Sebuah peta harus memiliki skala karena komponen penting peta adalah skala. Skala peta bisa muncul di bagian bawah atau samping peta.
Cara Membuat Proyeksi Peta dan Skala Peta
Skala peta angka dan garis
Skala peta merupakan perbandingan jarak di peta dngan jarak sebenarnya di lapangan. Skala peta terbagi menjadi skala angka dan skala garis. 

Skala peta umum menggunakan satua centimeter di Indonesia sementara di AS menggunakan inchi. Baca juga: Trik menjawab soal UN Geografi

Perubahan Hidrosfer Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

Perubahan Hidrosfer Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

Hidrosfer adalah Sebuah lapisan air yang akan menutupi sekitar 71% di area muka bumi. Lapisan air tersebut juga dapat ditemukan dalam bentuk padat (es), cair (air), dan gas (uap air).


Berdasarkan letaknya, air di bumi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu air permukaan dan air bawah permukaan. 

Air permukaan meliputi air yang berada di sungai, danau, laut, atmosfer, biosfer (metabolisme tumbuhan), serta air yang membeku (es). Adapun air bawah permukaan ditemukan dalam bentuk air tanah. 

Berdasarkan  jenisnya, air di bumi dapat dibedakan dalam bentuk air asin dan air tawar. Sekitar 97,5% air di bumi yang merupakan air asin.


Bagi kehidupan di muka bumi, air memiliki peranan yang sangat penting. Keperluan akan air bersih dari hari ke hari semakin meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, pertambahan aktivitas perindustrian, dan pertanian Dengan demikian, kelangkaan air bersih merupakan masalah yang perlu segera ditanggulangi.

Perlu diketahui, sebenarnya jumlah air di permukaan bumi secara keseluruhan relatif tetap hanya sebarannya yang berubah-rubah. 

Hal itu karena air bersirkulasi secara terus menerus dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer mengikuti siklus hidrologi. 

Dalam siklus tersebut yang berubah adalah wujud, tempat, dan kualitasnya. Dalam siklus hidrologi, air mengalami perubahan melalui proses evaporasi, transpirasi, kondensasi, dan presipitasi.
Perubahan Hidrosfer Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan
Siklus air di bumi
Pemanasan air oleh sinar matahari merupakan awal terjadinya siklus hidrologi yang beijalan secara kontinyu. Air mengalami evaporasi dan transpirasi kemudian jatuh sebagal presipitasi dalam bentuk hujan, hujan gerimis, hujan es, dan salju.

Apa yang terjadi jika air hujan jatuh di daratan? Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah (Infiltrasi). 

Sebagian lagi akan mengalir di permukaan (run-off) ke daerah yang lebih rendah dan kemudian berkumpul membentuk danau atau sungai dan akhirnya mengalir kembali ke laut.

Air yang meresap ke dalam tanah atau yang mengalir di permukaan kembali ke atmosfer karena adanya evaporasi dari tanah, sungai, dan danau.

Air dalam tanah juga akan diserap oleh tumbuhan dan akan kembali menguap ke atmosfer melalui proses fotosintesis yang disebut transpirasi.

Berdasarkan proses perjalanannya, siklus dapat dibedakan menjadi tiga jenis berikut.
  • Siklus pendek: air laut/darat — uap air - embun -awan — hujan — laut/perairan darat.
  • Siklus sedang: air laut/darat — uap air — embun — awan — hujan — air tanah, limpasan air permukaan - sungai - kembali ke laut.
  • Siklus panjang: air laut/darat - uap air - embun -awan - kristal es — dibawa ke puncak gunung -hujan es - gletser — mencair — Lalu kemudian mengalir ke sungai — kembali ke laut. Gambar: disini
Degenerasi Lahan Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

Degenerasi Lahan Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

Sebagian lahan yang ada di permukaan bumi kini telah mengalami beberapa kerusakan yang sangat serius, baik oleh proses alam maupun aktivitas manusia itu sendiri. 

Proses alam yang juga akan akan mengakibatkan suatu kerusakan lahan antara lain dengan adanya letusan gunung api, banjir, dan kebakaran hutan itu sendiri. Kerusakan yang sangat hebat pada lahan terutama diakibatkan oleh manusia. 

Kebutuhan manusia akan lahan dan sumber daya yang ada pada lahan seperti tumbuhan dan hewan yang semakin meningkat memungkinkan eksploitasi terhadap lahan secara berlebihan. Akibatnya, lahan menjadi rusak atau mengalami degradasi lahan.


Apa yang dimaksud dengan degradasi lahan?. Degradasi lahan berarti hilangnya suatu pemanfaatan atau bisa jadi potensi manfaat dari suatu lahan. 

Degradasi lahan juga dapat diartikan sebagai terjadinya suatu peristiwa penurunan kualitas lahan,dan juga hilang atau berubahnya berbagai organisme yang ada pada lahan yang tidak dapat digantikan dengan yang lain. 

Jadi, kerusakan lahan tidak hanya menyangkut kerusakan pada tanah tetapi juga sumber daya berupa organisme yang ada di atas tanah. Kerusakan tersebut bisa terjadi karena faktor manusia maupun faktor alam.

1. Faktor manusia

Bukti dari berbagai aktivitas manusia yang dapat menyebabkan timbulnya degradasi lahan. Aktivitas-aktivitas tersebut antara lain adalah sebagi berikut:


a. Penebangan hutan yang dilakukan oleh para pengusaha hutan secara besar-besaran atau penebangan sedikit demi sedikit oleh para perambah hutan.

b. Kerusakan lahan disebabkan oleh kegiatan manusia yang juga sangat sering didasari oleh kepentingan ekonomi semata tanpa memperhatikan suatu kelestarian fungsi lingkungannya itu sendiri.

c. Lahan-lahan yang menjadi bekas penambangan bahan galian seringkali akan dibiarkan begitu saja jika bahan galiannya memang telah habis, sehingga lahan menjadi sangat rusak parah.
Degenerasi Lahan Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan
Degradasi lahan tidak terkendali di masa sekarang

2. Faktor Alam

Semua faktor penyebab tersebut memberikan dampak yang merugikan terhadap lahan. Kerugian tersebut seringkali tidak ternilai atau tidak dapat dinilai dengan uang. 

Kerugian yang diderita akibat degradasi lahan itu sendiri sudah sangat seringkali dan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari pada suatu pemanfaatan lahan itu sendiri. 

Dampak yang kedepannya yang akan ditimbulkan akibat degradasi lahan antara lainnya adalah sebagai berikut:


a. Terjadi perubahan suatu kondisi iklim serta akan tumbuhan berfungsi meningkatkan penguapan melalui dedaunan (transpirasi) dan juga akan menyerap panas. 

Jika tumbuhan sudah banyak ditebang, maka suhu pada udara itu sendiri akan meningkat dengan cepat dan penguapan menjadi berkurang . 

b. Spesies makhluk hidup yang ada dalam hutan akan menjadi hilang dan tidak ada lagi atau bahkan punah karena hutan karena habitatnya sudah dirusak dan mengalami kerusakan yang begitu parah. 

Dan mengakibatkan Sebagian hewan bermigrasi ke wilayah lain yang kondisi hutannya yang memang masih layak dan lebih baik atau terpaksa masuk ke permukiman penduduk

b. Banjir dan kekeringan semakin sering terjadi karena berkurangnya infiltrasi dan meningkatnya limpasan permukaan. Berkembangnya masalah kemiskinan di kalangan petani karena produktivitas lahannya terus menurun.

c. Terbukanya lahan karena kerusakan hutan memungkinkan teijadinya erosi yang sangat intensif pada lahan, sehingga tanah menjadi tidak subur.

d. Dari beberapa Hasil-hasil hutan yang dilihat dari segi ekonomi dapat memberikan keuntungan seperti kayu, buah-buahan, dan tanaman obat, menjadi hilang. 

Gambar: disini
Ciri Bentang Alam Akibat Proses Pengikisan Dan Pengendapan

Ciri Bentang Alam Akibat Proses Pengikisan Dan Pengendapan

Bentang alam yang terbentuk melalui berbagai proses di atas, pada gilirannya akan mengalami proses lanjutan yaitu pengikisan dan pengendapan. 

Akibatnya, bentuk patahan, lipatan, dan rekahan, tidak akan tampak seperti bentuk asalnya ketika pertama kali terbentuk. 

Puncak sebuah patahan yang tadinya runcing menjadi tumpul karena bagian atasnya telah terkikis, sehingga nampak seperti perbukitan biasa. 

Begitu pula dengan lipatan yang seringkali sulit untuk dilihat bentuk lipatannya karena telah tererosi.


Baca juga:



Proses yang mengubah muka bumi setelah terbentuk dapat dikelompokkan atas proses pengikisan, dan pengendapan. 

Wilayah kikisan adalah bagian dari muka bumi yang mempunyai kemiringan lereng yang memungkinkan tenaga pengikis (air, angin, dan gletser) untuk mengikis dan tidak mengendapkan hasil kikisannya itu. 

Sementara itu, wilayah endapan adalah bagian muka bumi yang rendah dan datar atau hampir tidak berlereng, sehingga memungkinkan tenaga pengikis untuk mengendapkan material yang dibawanya.


Ciri bentang alam pengikisan
Suatu bentang alam dikelompokkan sebagai wilayah kikisan dengan memperhatikan ciri-ciri berikut ini.


a. Wilayah kikisan dengan mudah dapat dikenali pada wilayah dengan lereng yang miring serta merupakan bentukan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya seperti gunung, bukit, plato, dan kubah.
b. Pada wilayah dataran rendah dimungkinkan pula terjadi erosi jika proses pembentukan tanah lebih lambat dari proses pengikisannya.
c. Alur-alur erosi menandai adanya proses pengikisan.
d. Pengikisan membawa partikel-partikel tanah, sehingga biasanya lapisan tanah yang menutupi batuan induk relatif tipis.
e. Lapisan tanah yang terbawa oleh pengikisan merupakan lapisan tanah yang subur. Akibatnya, pada wilayah yang mengalami proses pengikisan dapat mengalami hilangnya kesuburan tanah. 

Ciri Bentang Alam Akibat Proses Pengikisan Dan Pengendapan
Bentukkan hasil erosi angin di gurun


Dilihat dari ketinggiannya, wilayah kikisan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian berikut.



a. Wilayah dataran rendah, berada di atas wilayah endapan sampai kira-kira 100 m di atas muka laut.
b. Wilayah pertengahan, terletak kira-kira antara 100-500 m di atas permukaan laut dengan bentuk lahan tidak sedatar wilayah dataran rendah atau bergelombang.
c. Bagian wilayah pegunungan, berada pada ketinggian 500-1.000 m di atas muka laut.
d. Bagian wilayah pegunungan tinggi, berada di atas 1.000 m di atas muka laut.

Ciri bentang alam pengendapan
Material-material yang dibawa dari wilayah kikisan akan diendapkan pada wilayah-wilayah pengendapan. 

Hal ini terjadi karena tenaga yang membawa hasil kikisan telah berkurang, sehingga sebagian atau seluruh material yang dibawanya diendapkan. 

Tentu saja material-material yang berukuran lebih besar akan diendapkan terlebih dahulu dibanding material yang lebih halus. 

Karena proses tersebut, maka ciri-ciri dari wilayah endapan adalah sebagai berikut. Baca juga: Jenis-jenis proyeksi peta
Ciri Bentang Alam Akibat Proses Pengikisan Dan Pengendapan
Delta sungai akibat pengendapan di muara
a. Daerah cekungan dan dataran merupakan, daerah endapan dari bentuk muka bumi di sekitarnya yang lebih tinggi.
b. Berdasarkan hal tersebut, maka lingkungan tertentu dapat menjadi petunjuk bahwa daerah tersebut merupakan wilayah endapan.Misalnya, danau, kipas aluvial, dataran sekitar sungai (dataran aluvial), gugus pasir gurun (barkhan), dan ujung gletser. Di daerah sekitar pesisir ditemukan beberapa wilayah endapan seperti delta, laut dangkal, laguna, dan dataran pasang.
c. Karena material tanah banyak diendapkan pada wilayah endapan, maka wilayah ini memiliki kedalaman tanah yang relatif tebal atau dalam.
d. Biasanya, tanah yang dibawa dari wilayah kikisan merupakan tanah yang subur.Akibatnya, pada wilayah endapan akan terbentuk endapan tanah yang subur pula.
e. Biasanya, ditemukan adanya struktur pelapisan atau stratifikasi pada lapisan tanahnya sebagai akibat dari pengendapan material yang tidak sama ukurannya atau karena proses pemilahan (butiran kasar berada di bawah butiran halus).


Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat kita sebutkan bisa terdiri atas bentukan hasil proses pengendapan antara lain yang dapat dihasilkan berupa delta, tanggul sungai, tanggul pantai, beting, gosong, meander, dan sungai mati.



a. Delta merupakan hasil pengendapan sungai. Adanya delta juga menunjukkan aliran air di daerah tersebut adalah tenang.
b. Tanggul sungai terdapat di tepi sungai dan juga posisinya tepat sejajar dengan sungai.
c. Tanggul pantai juga merupakan buah dari hasil pengendapan oleh beberapa material yang dibawa sungai tetapi juga nantinya akan dibantu oleh arus laut dengan arah tegak lurus terhadap tanggul sungai tersebut.
d. Beting merupakan bagian dari beberapa endapan yang letaknya tepat di tengah sungai, atau di muara karena menurunnya daya angkut air sungai dengan tiba-tiba.
e. Gosong sama dengan beting, hanya saja permukaan gosong kadang-kadang nampak di permukaan air, kadang-kadang tidak.
f.  meander merupakan belokan sungai 180 derajat atau lebih.
g. Sungai mati merupakan bagian sungai yang terpotong yang berbentuk bulan sabit dan merupakan sungai mati, sehingga nampak seperti danau.


Baca juga: 

Lipatan Dan Gejala Perlipatan Pada Bumi

Lipatan Dan Gejala Perlipatan Pada Bumi

Gejala perlipatan terjadi karena penyebab dari adanya gaya tektonik yang menekan secara terus menerus dan secara posisi horizontal pada suatu lapisan batuan, baik pada salah satu tepi lapisan maupun pada kedua tepi lapisan. 

Akibatnya, lapisan yang mengalami tekanan tersebut terlipat pada bagian-bagian yang relatif lemah.  

Bagian-bagian yang membentuk struktur lipatan terdiri atas sinklin, antiklin, dan sayap. Antiklin adalah bagian dari struktur lipatan yang berbentuk cembung ke atas. Sinklin adalah bagian dari struktur lipatan yang berbentuk cekung ke atas. 

Sayap (limb) adalah bagian dari struktur lipatan yang terletak miring, dimulai dari puncak suatu antiklin sampai titik paling bawah suatu sinklin.
Lipatan Dan Gejala Perlipatan Pada Bumi
Horst dan graben
Bentuk gejala perlipatan di muka bumi bermacam-macam. Perbedaan bentuk lipatan ini terjadi karena kekuatan pembentuk lipatan yang berbeda serta lapisan batuan yang berbeda pula. Secara umum ditemukan beberapa variasi bentuk lipatan berikut.
  1. Lipatan tegak, merupakan bagian lipatan dengan bidang poros dalam posisi yang vertikal.
  2. Lipatan condong, yaitu lipatan dengan bidang poros miring.
  3. Lipatan isoklin, yaitu lipatan dengan posisi kedua sayap hampir sejajar. Bidang porosnya bisa tegak lurus maupun miring.
  4. Lipatan menggantung, yaitu lipatan yang kemiringan sayap dan kecuramannya sudah melalui poros vertikal.
  5. Lipatan rebah, yaitu lipatan yang bidang porosnya sudah mendekati horizontal.
  6. Monoklin, yaitu suatu pencuraman setempat di suatu daerah yang umumnya ditandai oleh kemiringan yang sangat landai.  
  7. Lipatan terbuka, yaitu lipatan yang masih memiliki potensi untuk lebih melengkung lagi.
Proses perlipatan terjadi saat tumbukan antara dua lempeng litosfer (lempeng benua dengan lempeng benua) yang bergerak dan arah berlawanan secara mendatar. Proses perlipatan menyebabkan terbentuknya pegunungan lipatan. 

Contoh jalur pegunungan lipatan di dunia adalah Sirkum Mediteran, Sirkum Pasifik dan jalur pegunungan lipatan Busur Australia (Irian Jaya).
Lipatan Dan Gejala Perlipatan Pada Bumi
Lipatan pegunungan
Pegunungan Sirkum Mediterania memanjang mulai dari Pegunungan Atlas (di Afrika Utara) berlanjut ke Pegunungan Alpen (di Eropa Selatan) ke Pegunungan Himalaya (di Asia), hingga ke rangkaian pegunungan yang ada di wilayah Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan berakhir di Kep. Maluku). 

Di Indonesia sendiri jalur pegunungan lipatan Sirkum Mediteran tersebut terbagi menjadi dua bagian berikut.


a.Busur Dalam yaitu jalur pegunungan yang bersifat vulkanik (kegunungapian). Termasuk ke dalam jalur pegunungan ini adalah Bukit Barisan di Pulau Sumatera, pegunungan yang ada di Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, Solor, Wetar, Kepulauan Banda, dan berakhir di Pulau Saparua.



b.Busur Luar yaitu jalur pegunungan yang bersifat non vulkanik (tidak menampakkan sifat-sifat kegunungapian). Rangkaian pegunungan ini hanya merupakan rangkaian pegunungan lipatan saja. 

Sebagian jalur pegunungan ini berada di atas permukaan laut (daratan) dan sebagian lainnya berada di bawah permukaan laut. 

Termasuk jalurpegunungan ini adalah Pulau Simulue, Pulau Nias, Kepulauan Mentawai, Pulau Enggano, kemudian tenggelam (di sepanjang bagian selatan Pulau Jawa). Pegunungan ini muncul kembali ke atas permukaan laut sebagai Pulau Sawu, Pulau Roti, Pulau Timor, Pulau Babar, Kepulauan Kai, Pulau Seram, dan berakhir di Pulau Burn.



Pegunungan Sirkum Pasifik dimulai antara Pegunungan Andes yang ada (di Amerika Selatan) kemudian akan berlanjut ke Pegunungan Rocky (Rocky Mountains) tepatnya yang ada di Amerika Utara, kemudian berbelok ke daerah Kepulauan Jepang lalu kemudian bersambung dengan pegunungan di Kepulauan Filipina. 

Selanjutnya, di Kepulauan Indonesia, jalur pegunungan ini bercabang dua. Kedua cabang tersebut adalah sebagai berikut. 

a.Cabang pertama, dimulai dari Pulau Luzon di Filipina berlanjut ke pegunungan di Pulau Kalimantan melalui Pulau Palawan dan Kepulauan Sulu.


b.Cabang kedua, dimulai dari Pulau Luzon, berlanjut ke Pulau Samar, Pulau Mindanau, Kepulauan Sangihe, dan berakhir di Pulau Sulawesi.



Jalur pegunungan lipatan Busur Australia (Irian Jaya), jika kita amati lebih seksama sesungguhnya lebih merupakan cabang kelanjutan dari Sirkum Pasifik. 

Jalur ini menyusuri sisi barat daya Samudera Pasifik, dimulai dari Puluu Luzon, Pulau Mindanau di Filipina, kemudian berlanjut ke Pulau Halmahera, Pulau Irian (Papua), dan bersambung ke Pegunungan Alpen di Australia. 

Hanya saja, di wilayah Indonesia seolah jalur pegunungan ini merupakan jalur pegunungan lipatan tersendiri.

Demikian artikel tentang Lipatan Dan Gejala Perlipatan Pada Bumi.Semoga bermanfaat.
Gambar: disini, disini
Bentuk Muka Bumi Akibat Proses Diatropisme

Bentuk Muka Bumi Akibat Proses Diatropisme

Sebagaimana telah kita ketahui, muka bumi bukan merupakan satu lempengan berbentuk bulat. 

Muka bumi terdiri atas beberapa lempengan yang saling bergerak relatif dalam berbagai arah. Akibat pergerakan lempeng-lempeng tersebut, maka terjadilah perubahan bentuk muka bumi.


Perubahan bentuk muka bumi dapat terjadi karena aktivitas tektonik atau proses diatropisme. 

Pergerakan antara lempeng yang satu dengan Iainnya menghasilkan fenomena yang menakjubkan berupa gunung dan pegunungan, daerah lipatan dan sesar, lembah, dan lain-lain. 

Perubahan tersebut terjadi karena adanya aktivitas pergerakan lempeng yang saling menumbuk, menjauh, dan saling bergesekan.



Dilihat dari kecepatan gerak dan ukuran muka bumi yang terkena efeknya, diatropisme dapat dibedakan menjadi orogenesa dan epirogenesa. 

Sementara itu dilihat dari bentuk hasilnya, diatropisme dapat dibedakan menjadi sesar, lipatan, dan rekahan.



Orogenesa berarti proses pembentukan pegunungan. Proses tersebut teijadi akibat adanya gerakan-gerakan kerak bumi (lempeng litosfer) yang saling mendekat dan bertumbukan satu sama lain. 

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, akibat proses tumbukan dua buah lempeng litosfer ini maka pada zone sepanjang sisi tumbukannya akan terbentuk jalur pegunungan lipatan dan pegunungan patahan. Misalnya, rangkaian pegunungan lipatan Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. 


 
Bentuk Muka Bumi Akibat Proses Diatropisme
Patahan Sumatera

Dilihat dari kecepatan gerakan tektoniknya dan Iuas areal terbentuknya, proses orogenesa relatif cepat dibandingkan dengan proses epirogenesa. 

Tentunya ukuran kecepatan di sini tidak dapat menggunakan ukuran usia manusia, karena proses pembentukan pegunungan (orogenesa) dapat memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.


Adapun epirogenesa adalah proses penurunan atau penaikan benua (kontinen) yang nantinya akan berdampak dan akan memakan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan proses orogenesa. 

Salah satu contoh dari peristiwa epirogenesa akan menjadi benua-benua seperti yang ada sampai detik ini. Sebagaimana juga yang telah dijelaskan oleh ilmuwan dulu dan juga menurut para ahli geologi bahwa lebih dari 200 juta tahun lalu pada planet bumi kita ini cuma ada satu benua tanpa pecah yaitu yang disebut Pangaea


Karena adanya tenaga tektonik, Pangaea terpecah perlahan-lahan menjadi Benua Laurasia dan Gondwana yang dipisahkan oleh lautan yang disebut Tethys. 

Kemudian, Benua Gondwana pernah mengalami penurunan sehingga tenggelam di bawah permukaan laut dan menjadi dasar samudra Hindia.

Sesar (faults)
Sesar atau sering pula disebut patahan adalah suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran. 

Akibatnya, teijadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan, baik secara vertikal maupun horizontal. 

Jika rekahan tersebut tidak menimbulkan pergeseran, maka tidak dikatakan sebagai sesar. Jarak pergeseran dapat mencapai beberapa sentimeter saja sampai ratusan kilometer. Dilihat dari bagian-bagiannya, sebuah sesar terdiri atas beberapa bagian berikut.
  1. Gawir yang merupakan bidang atau sisa dari suatu bidang rekahan. Gawir tersebut dinamakan gawir sesar.
  2. Bidang sesar adalah bidang rekahan pada sesar.  
  3. Garis sesar (fault line) adalah perpotongan bidang sesar dengan permukaan tanah. 
  4. Atap sesar (hangingwall) adalah bongkah patahan yang berada di bagian atas bidang sesar.  
  5. Alas sesar (footwall) adalah bongkah yang berada di bagian bawah bidang sesar.
Sesar dapat dibedakan antara satu dengan lainnya. Berdasarkan arah pergeserannya, sesar dapat dibedakan atas sesar normal atau sesar turun, sesar naik dan sesar mendatar.


Sesar normal (normal fault) terbentuk karena atap sesar bergeser relatif turun terhadap alas sesar. 

Sudut yang dibentuk dari penurunan tersebut mencapai 45° atau lebih. Beberapa sifat atau ciri penting dari sesar ini adalah adalah:


1. adanya bidang-bidang garis gores sebagal hasil dari proses pensesaran;
2. kemiringan lereng yang terbentuk cukup besar yaitu antara 45°-70°;
3. karena kemiringannya yang besar, maka mudah terpengaruh oleh longsoran;
4. biasanya dijumpai sebagai sesar-sesar yang berpasangan.


Contoh sesar turun antara lain adalah Sesar Semangko di Sumatera, Lembah Rhein (Eropa), dan Lembah Curam Afrika Timur (Afrika).



Sesar naik (reverse fault) terbentuk ketika atap sesar bergeser relatif ke atas terhadap alas sesar. 

Berbeda dengan sesar normal, sesar naik memiliki kemiringan bidang sesar kurang dari 45°, bahkan kemiringannya bisa kurang dari 30°. Sesar normal yang memiliki kemiringan bidang sesar kurang dari 30° disebut thrust fault.
Bentuk Muka Bumi Akibat Proses Diatropisme
Tipe patahan kulit bumi
Sesar mendatar/sesar jurus mendatar (strike slip faults) adalah sesar yang memiliki arah gerakan dominan horizontal. 

Walaupun demikian, tidak berarti seluruhnya adalah mendatar, dalam jumlah terbatas juga terdapat gerak vertikal. Contoh sesar mendatar yang terkenal adalah Sesar San Andreas di Amerika Serikat.


Bagaimanakah cara menentukan ada tidaknya gejala pensesaran di lapangan? Dalam menentukan ada atau tidaknya gejala pensesaran di lapangan ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai petunjuk, yaitu sebagai berikut:



a.    Karena adanya pergeseran bidang sesar maka akan ditemui gejala suatu lapisan yang terputus atau seperti hilang. Lapisan yang hilang tersebut akan terlihat bersambung pada bagian lainnya.
b.    Fenomena yang mudah dilihat antara lain adalah adanya gawir sesar, pembelokan sungai yang tiba-tiba, adanya jalur jalan yang hancur, dan perbedaan vegetasi pada bagian yang berhadapan.
c.    Walaupun tidak selalu, gejala berupa air terjun dapat pula menjadi petunjuk adanya sesar. Adanya pergeseran (naik/turun) pada bidang sesar dapat menyebabkan sungai yang tadinya normal tiba-tiba turun sebagai air terjun.
d.    Adanya goresan pada pada bidang sesar akibat gesekan pada proses penurunan atau penaikan.
e.    Adanya batuan yang berumur muda dan batuan yang berumur tua dalam posisi berdampingan. 


Gambar: disini, disini
Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jenisnya

Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jenisnya

Gempa bumi atau earthquake adalah fenomena alam yang terjadi di kulit bumi. Gempa dapat dibedakan mcnjadi beberapa jenis. 

Pembagian jenis gempa tersebut dapat didasarkan pada penyebabnya, hiposentrum, bentuk episentrum, jarak eplsentrum, dan letak episentrum.


Berdasarkan penyebabnya, gempa dapat dibedakan menjadi tiga Jenis berikut:

Gempa tektonik, yaitu gempa yang mengiringi gerakan tektonik berupa patahan atau pergeseran lapisan batuan (dislokasi). Kekuatan gempa ini biasanya sangat besar dan meliputi areal yang sangat luas.

Gempa vulkanik, yaitu gempa yang terjadi sebelum, pada saat dan mengiringi letusan gunung apl, maupun sesudahnya.

Gempa runtuhan (terban), merupakan gempa yang aakan terjadi akibat runtuhnya bagian dari atas rongga yang ada di dalam litosfer dan juga runtuhnya massa batuan yang mengisi ruang kosong di dalam litosfer. 

Misalnya saja pada, runtuhnya gua-gua kapur atau terowongan di daerah pertambangan.
Hiposentrum atau pusat gempa ialah suatu titik di dalam litosfer yang merupakan tempat terjadinya gempa. Berdasarkan hiposentrumnya, gempa dibedakan sebagai berikut.

Gempa dalam, yaitu jika hiposentrumnya berada pada kedalaman 300-700 km di bawah permukaan bumi. Sampai saat ini gempa terdalam tercatat terjadi pada kedalaman 700 km.

Gempa intermediet, yaitu gempa dengan kedalaman hiposentrum antara 100-300 km.

Gempa dangkal, yaitu gempa yang terjadi pada kedalaman hiposentrum kurang dari 100 km atau lebih. 
Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jenisnya
Retakan akibat gempa bumi
Episentrum adalah suatu titik di permukaan bumi sebagai tempat gelombang gempa dirambatkan. Letak episentrum tegak lurus terhadap hiposentrum. Berdasarkan bentuk episentrumnya, gempa dapat dibedakan sebagai berikut:

Gempa linier, merupakan suatu gempa yang episentrumnya juga berbentuk garis. Gempa tektonik juga bisa jadi merupakan gempa linier. Hal ini disebabkan beberapa patahan dimana peristiwa yang terjadi pada satu garis, tidak mungkin patahan merupakan sebuah titik.

Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk titik. Gunung api pada erupsi sentral adalah sebuah titik Ietusan, demikian juga runtuhan kerak bumi.

Berdasarkan jarak episentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi tiga jenis berikut.
  1. Gempa setempat, jika jarak episentrumnya kurang dari 10.000 km.
  2. Gempa jauh, jika jarak episentrumnya sekitar 10.000 km.
  3. Gempa sangat jauh, jika jarak episentrumnya lebih dari 10.000 km.
Tentu saja, tempat yang lebih dekat ke episentrum gempa akan menerima getaran lebih kuat daripada daerah yang lebih jauh.
Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jenisnya
Episentrum dan hiposentrum gempa

Berdasarkan letak episentrumnya, gempa dapat dibedakan sebagai berikut. 

Gempa laut, yaitu jika episentrumnya terletak di dasar laut atau juga dikatakan episentrumnya terletak di permukaan laut. 

Getaran permukaan dirambatkan pada permukaan laut bersama dengan yang dirambatkan pada permukaan bumi di dasar laut. 

Kadang-kadang, gempa di dasar laut yang terjadi dengan kekuatan yang tinggi mengakibatkan air laut pasang dengan tiba-tiba disertai dengan gelombang yang dahsyat (tsunami). 

Gempa daratan, merupakan gempa yang titik episentrumnya terdapat di daratan. Dari hiposentrum (pusat gempa), getaran juga akan dirambatkan di permukaan bumi dalam bentuk gelombang-gelombang gempa atau juga bisa dengan gelombang seismik. 

Gelombang yang merambat tersebut juga telah dibedakan atas gelombang primer (P) dan juga dengan gelombang sekunder (S). 

Gelombang P merupakan gelombang gempa yang terdiri dari atas pertama kali dirasakan di permukaan bumi, kemudian dilanjutkan dengan gelombang-gelombang S. Karena itu yang pertama tercatat dalam seismograf adalah gelombang P. 

Setelah sampai di permukaan bumi, gelombang seismik dirambatkan ke segala arah dalam bentuk gelombang permukaan dengan cepat rambat gelombang antara 3,5-3,9 km/detik. 

Karena gelombang permukaan bumi ini seolah-olah bergerak di permukan bumi, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih luas dibandingkan dengan pada saat gelombang P atau S dirasakan di permukaan bumi. 

Alat pencatat gelombang gempa adalah seismograf. Data rekaman yang tercatat pada seismograf disebut seismogram.

Demikian  Klasifikasi Gempa Berdasarkan Jenisnya.Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan akan gempa. 

Gambar: disini, disini
close