Geograph88: Desa | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Dampak Positif dan Negatif Interaksi Desa Kota Bagi Desa

Dampak Positif dan Negatif Interaksi Desa Kota Bagi Desa

Petani tradisional di desa
Interaksi desa dan kota adalah fenomena umum yang dijumpai pada sebuah negara dan menjadi ciri khas dari sebuah peradaban. Interaksi desa dan kota lahir dari adanya permintaan dan penawaran.

 Desa sebagai sumber penyedia bahan mentah sementara kota sebagai pemasok barang jadi. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Mobilitas penduduk dalam hal ini urbanisasi adalah motor utama terjadinya interaksi desa dengan kota. Di Indonesia sendidi sejak kemerdekaan, kota-kota baru tumbuh subur dan sangat memikat bagi penduduk desa yang mencari tuntutan ekonomi.

Interaksi desa dan kota berdampak positif dan negatif bagi desa dan bagi kota itu sendiri. Di postingan ini akan dibahas mengenai dampak bagi desa terlebih dahulu.

1. Dampak Positif
a. Sarana Prasarana Desa Berkembang
Dengan semakin intensnya mobilitas penduduk dari dan menuju desa maka sarana prasarana penunjang akan semakin baik. Jalan desa dan jembatan penghubung akan dibangun dengan kualitas terbaik tentunya. Jalan adalah urat nadi perekonomian masyarakat, jadi memang sangat perlu untuk ditingkatkan pembangunannya.

b. Tingkat Pendidikan dan Kesehatan Masyarakat Membaik
Banyak masyarakat desa yang sekolah atau kuliah di perkotaan sehingga secara langsung akan meningkatkan taraf pendidikan mereka. Selain itu pembangunan sarana prasarana pendidikan di desa akan membaik. Begitupun dengan layanan kesehatan karena setiap desa kini telah disediakan posyandu dan puskemas dengan standar pelayanan nasional.
 
c. Pola Pikir Masyarakat Semakin Rasional
Pendidikan yang baik akan mengubah pola pikir masyarakat yang tadinya irrasional menjadi rasional. Masyarakat desa dulu identik dengan hal takhayul, klenik dan magic. Dengan pendidikan semua fenomena tadi akan semakin berkurang.
 
d. Teknologi Semakin Maju
Saat ini setiap desa sudah dibangun tower penerima sinyal telekomunikasi, hal ini untuk meningkatkan kualitas layanan telekomunikasi masyarakat. Kini masyarakat desa dapat menjual hasil panennya secara online dengan bekal internet saja. Interaksi desa kota dapat terjalin secara digital.
 
e. Pemasaran Hasil Desa Lancar
Desa adalah interland atau penyokong kota, yang artinya kota sangat bergantung pada hasil tani di desa. Besarnya permintaan kota akan bahan mentah menjadi pangsa pasar tersendiri bagi masyarakat desa. Hal ini akan mempermudah dan memperluas pemasaran hasil tani di desa.
 
f. Kesejahteraan Meningkat
Dengan semakin lancarnya interaksi desa dan kota, pemasaran hasil tani dan lainnya maka lambat laun masyarakat desa akan semakin sejahtera secara ekonomi. Saat ini banyak pula konsep desa wisata yang membuat pengangguran dapat ditekan.

2. Dampak Negatif
a. Lahan Pertanian Menyusut
Para penduduk desa yang mencari nafkah di kota tentu akan mendapat kesejahteraan dari tahun ke tahun sehingga aliran uang akan kembali ke desa dalam bentuk aset. Beberapa penduduk lebih memilih untuk menjual lahan pertaniannya atua mengubahnya menjadi rumah.
 
Hal ini secara langsung akan mengurangi jumlah lahan pertanian. Modal-modal besar semakin banyak menyerang pedesaan, akhirnya lahan pertanian akan hilang karena diubah menjadi aset seperti villa, pabrik, permukiman atau lahan ekonomi bisnis lain.
 
b. Kehilangan Pekerja Produktif
Beragamnya jenis pekerjaan di kota membuat masyarakat desa yang berusia produktif akan lari dari desa yang ragam profesinya minim. Ini berdampak pada penurunan jumlah penduduk usia produktif di desa.

c. Pencemaran
Semakin menjamurnya invasi industri ke pedesaan maka semakin banyak pula pencemaran di sungai, tanah dan udara. Penggunaan pestisida yang intens akan membuat tanah tercemar dalam jangka panjang. Kegiatan desa wisata yang padat saat musim liburan membuat sampah berserakan dimana-mana. Limbah domestik juga dari deterjen juga mulai banyak mencemari sungai.

d. Mengikis Kearifan Lokal
Invasi budaya luar dan pola hidup barat, modern dan sekuler melalui TV, medsos dan internet membuat kearifan lokal masyarakat semakin terkikis. Mereka merasa kearifan lokal begitu mengikat sehingga lambat laun lebih memilih budaya kebarat-baratan yang sekuler dan bebas.
 
e. Konsumerisme 
Kesejahteraan meningkat dan masifnya teknologi digital membuat gaya hidup masyarakat desa lambat laun akan menyerupai kota yang konsumtif. Hal ini didorong oleh faktor media sosial dan iklan-iklan yang menjamur di gadget. Pengaruh tontonan di televisi dan internet juga sangat besar terhadap perilaku konsumerisme masyarakat desa.
Pola Pemukiman Desa Menurut Bentang Alamnya

Pola Pemukiman Desa Menurut Bentang Alamnya

Masyarakat desa sangat dipeganruhi kondisi fisiografis alamnya. Perbedaan kenampakan alam akan memengaruhi budaya masyarakat desa tersebut.

Pola pemukiman desa adalah salah satu hal yang dipengaruhi kondisi bentang alam atau geografis wilayah desa tersebut.

Pola persebaran dan pemusatan penduduk desa dapat dipengaruhi oleh keadaan tanah, tata air, topografi dan ketersediaan sumberdaya alam yang terdapat di desa yang bersangkutan.

Pola persebaran permukiman desa dalam hubungannya dengan bentang alamnya, dapat dibedakan atas:

a. Pola terpusat (nucleated)
Bentuk permukiman terpusat merupakan bentuk permukiman yang mengelompok (aglomerated, compact rural settlement).

Pola seperti ini banyak dijumpai didaerah yang memiliki tanah subur, daerah dengan relief sama, misalnya dataran rendah yang menjadi sasaran penduduk bertempat tinggal.

Banyak pula dijumpai di daerah dengan permukaan air tanah yang dalam, sehingga ketersediaan sumber air juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap bentuk pola permukiman ini.

Demikian pula di daerah yang keamanan belum terjamin, penduduk akan lebih senang hidup bergerombol atau mengelompok.

b. Pola tersebar atau terpencar ( fragmented rural settlement type)
Bentuk permukiman tersebar, merupakan bentuk permukiman yang terpencar, menyebar di daerah pertaniannya (farm stead), merupakan rumah petani yang terpisah tetapi lengkap dengan fasilitas pertanian seperti gudang mesin pertanian, penggilingan, kandang ternak,penyimpanan hasil panen dan sebagainya.

Bentuk ini jarang ditemui di Indonesia, umumnya terdapat di negara yang pertaniannya sudah maju. Namun demikian, di daerah-daerah dengan kondisi geografis tertentu, bentuk ini dapat dijumpai, misalnya daerah banjir yang memisahkan permukiman satu sama lain,daerah dengan topografi kasar, sehingga rumah penduduk tersebar, serta daerah yang kondisi air tanah dangkal sehingga memungkinkan  rumah penduduk dapat didirikan secara bebas.
Pola desa mengikuti lembah gunung
c. Pola memanjang atau linier (line village community type)
Pola memanjang memiliki ciri permukiman berupa deretan memanjang di kiri kanan jalan atau sungai yang digunakan untuk jalur transportasi, atau mengikuti garis pantai.

Bentuk permukiman seperti ini dapat dijumpai di dataran rendah. Pola atau bentuk ini terbentuk karena penduduk bermaksud mendekati prasarana transportasi, atau untuk mendekati lokasi tempat bekerja seperti nelayan di sepanjang pinggiran pantai.

d. Pola mengelilingi pusat fasilitas tertentu. (circle)
Bentuk permukiman seperti ini umumnya dapat ditemukan di daerah dataran rendah, yang di dalamnya terdapat fasilitas-fasilitas umum yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, misalnya mata air, waduk dan fasilitas lainnya.
Interaksi Desa-Kota: Pengertian Kota Berbagai Ahli

Interaksi Desa-Kota: Pengertian Kota Berbagai Ahli

Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan yang kompleks di permukaan bumi. Apakah kamu tinggal di kota saat ini?

Jika iya tentu kamu bisa mendefiniskan kota berdasarkan ciri fisik dan sosialnya. Nah kali ini saya akan coba bagikan beberapa pengertian kota menurut berbagai pakar.

Pada dasarnya kota berkembang dari unit-unit kegiatan tertentu seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, pemerintahan hingga industri.

Biasanya kota-kota besar banyak berkembang di daerah pantai atau dataran rendah karena faktor kemudahan dalam pembangunan.
Pengertian ruang lingkup kota
a. Bintarto (1983:36) menyebutkan bahwa kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. Hal menonjol yang membedakan desa dengan kota adalah desa merupakan masyarakat agraris, sedang kota nonagraris;

b. Wirth, kota adalah suatu permukiman yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kehidupan sosialnya;

c. Max Weber, kota adalah sustu daerah tempat tinggal yang penghuni setempat dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal.

.J.M.Nas, kota dapat dilihat dari berbagai segi:
1) Dari segi morfologi kota, adanya cara membangun dan bentuk fisik bangunan yang berjejal-jejal;
2) Dari segi ekonomi, merupakan daerah bukan agraris. Fungsi kota yang khas adalah kegiatan budaya, industri, perdagangan dan niaga, serta kegiatan pemerintahan;
3) Dari segi sosial, bersifat kosmopolitan, hubungan sosial impersonal, sepintas lalu, terkotak-kotak.

d. Peraturan Dalam Negeri No 1 Tahun 2008 menyatakan kota adalah wilayah memiliki kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

e. Michael Pacione, kota adalah pusat produksi dan konsumsi ekonomi, arena jaringan sosial dan kegiatan budaya serta pusat pemerintahan dan administrasi.

f. Burkhard Hofmeinster, kota adalah uatu pemusatan keruangan dari tempat tinggal dan tempat kerja manusia.

Di kota pembagian kerja sangat khusus atau adanya spesialisasi pekerjaan. Kegiatan utama penduduk kota di sektor sekunder dan tersier seperti jasa dan pelayanan masyarakat. Kota semakin berkembang karena adanya urbanisasi yang terus-menerus.
Zona Interaksi Desa-Kota (City, Suburban, Suburban fringe, Urban fringe, Rural urban fringe, Rural)

Zona Interaksi Desa-Kota (City, Suburban, Suburban fringe, Urban fringe, Rural urban fringe, Rural)

Desa dan kota adalah dua wilayah yang saling melengkapi sebagai suatu elemen ruang. Kedua wilayah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara fungsional.

Interaksi desa dan kota menimbulkan pengaruh tertentu pada setiap zona. Pengaruh pada setiap zona ini dipengaruhi oleh jarak zona ke pusat kota.

Baca juga: Soal UTBK 2020 Pewilayahan + Kunci

Makin jauh dari pusat kota maka interaksinya makin lemah. Menurut Bintarto wilayah zona interaksi desa kota terbagi menjadi 6 zona yaitu:
Zona interaksi ruang desa kota Bintarto
a. City, identik dengan kota atau pusat kegiatan. Kota adalah tempat semua aktifitas manusia berkumpul dan menjadi jaring utama perputaran ekonomi.

b. Suburban, atau subdaerah perkotaan adalah wilayah yang lokasinya dekat dengan pusat kota. Wilayah suburban menjadi tempat tinggal para penglaju atau pekerja yang melakukan mobilitas setiap hari ke kota.

c. Suburban fringe, adalah wilayah yang melingkari wilayah suburban. Wilayah ini merupakan daerah peralihan antara kota dengan desa.

d. Urban fringe atau daerah perkotaan terluar adalah wilayah batas terluar suatu kota dengan ciri sifat mirip dengan wilayah kota, kecuali inti kota.

e. Rural urban fringe atau daerah batas desa-kota adalah jalur wilayah yang terletak antara kota dan desa yang dicirikan dengan penggunaan lahan campuran antara sektor pertanian dan non pertanian.

f. Rural atau pedesaan adalah suatu wilayah yang menitikberatka pada sektor pertanian atau kehidupan agraris.

Baca juga: Soal AKM Geografi + Kunci
Pemukiman di wilayah suburban Amerika
Dampak Interaksi Desa Dan Kota Bagi Desa

Dampak Interaksi Desa Dan Kota Bagi Desa

Desa dan kota merupakan sebuah fenomena wilayah yang unik. Kedua wilayah dengan perbedaan karakter ini selalu berinteraksi satu sama lain. 

Interaksi antara desa dan kota memiliki unsur timbal balik atau adanya permintaan dan penawaran. 

Walaupun demikian, arah atau arus pengaruh itu masih juga tergantung pada kekuatan dominasi dari salah satu pihak. 

Interaksi ini meninggalkan dampak positif maupun negatif bagi kedua pihak. 

Urbanisasi, ruralisasi, sirkulasi, ulang-alik adalah berbagai wujud dari hubungan atau interaksi antar-desa kota. Sejatinya pengaruh kota saat ini begitu kuat terhadap wilayah desa. 

Dampak Interaksi Desa Dan Kota
Kota Semakin Padat, pic:http://msutoday.msu.edu/

Pengaruh positif dari penetrasi kota ke desa adalah:
1. Pemerintah; dalam hal ini melewati petugas-petugas pemerintah, lembaga atau instansi pemerintah, mass media seperti harian, radio, televisi.
2. Mahasiswa; dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan tugas akademis KKN di desa-desa, pelaksanaan survei kecil.
3. Tenaga Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) yang telah sejak lama membantu pemerintah desa di bidang pembangunan desa.
4. ABRI yang dalam progam manunggalnya dengan rakyat pedesaan telah banyak membantu dan mengajak masyarakat pedesaan bersama-sama membina wilayah desanya. 
5. Migrasi atau mobilitas yang terjadi antar kota–desa seperti urbanisasi, sirkulasi, dan nglaju yang membawa juga arus teknologi, kebudayaan, dan gaya hidup dari kedua belah pihak.
6. Lembaga swasta yang juga nampak ikut aktif dalam membina masyarakat pedesaan.
7. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.
8. Kemajuan di bidang pendidikan desa.
9. Meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi karena perkembangan transportasi.
10. Kemajuan teknologi membantu pengembangan sektor pertanian.
11. Kemajuan dalam pelestarian lingkungan karena banyaknya interaksi dengan ahli dari berbagi ilmu.
12. Meningkatnya wiraswasta.
13. Pengetahuan dan kesadaran pentingnya keluarga kecil.
14. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial.

Pengaruh negatif yang dialami daerah pedesaan:
1. Pengaruh fashion trend dari kota menyebabkan orientasi ke pertanian berubah.
2. Pengaruh televisi memberikan gambaran tentang kejahatan yang meningkatkan kriminalitas.
3. Banyaknya pemuda yang bekerja ke kota menyebabkan desa kekurangan tenaga produktif.
4. Masuknya investor mengubah tata guna lahan desa menjadi pemukiman maupun bangunan lain.
5. Penetrasi kebudayaan kota yang tidak sesuai cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problem pangan, problem pengangguran, problem lingkungan, dll. 
Karakteristik Masyarakat Desa

Karakteristik Masyarakat Desa

Dimana kalian tinggal selama ini?di pedesaan atau perkotaan?. 

Jika kalian pernah tinggal di kedua wilayah tersebut tentunya dapat diamati perbedaan mendasar antara gaya hidup masyarakat desa dan kota dan lingkungan fisiknya. 

Kali ini kita bahasa dulu tentang karakteristik masyarakat pedesaan. Sebuah desa seringkali ditandai dengan kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduknya ramah, saling mengenal satu sama lain, mata pencaharian penduduknya mayoritas agraris. 

Orang desa memiliki hubungan lebih erat dan mendalam antar sesama warganya. Sistem kehidupan mereka biasanya berkelompok dan berdasarkan asas kekeluargaan. 

Penduduk masyarakat desa pada umumnya hidup dari pertanian atau nelayan meskipun ada pekerjaan lain seperti tukang kayu, wiraswasta dan lainnya. 

Banyak sekali fakta bahwa ketika musim bertani datang (biasanya musim penghujan) mereka yang bekerja di luar agraris akan kembali ke sawah/ladang. Mereka bekerja di luar pertanian hanya untuk sementara saja dan ketika pekerjaan bertani sedang tidak dilakukan mereka mencari pekerjaan di luar pertanian. 

Kegiatan bertani sering dilakukan bersama-sama anggota masyarakat desa lainnya dan akibatnya adalah timbullah kebiasaan gotong royong. Oleh karena itu pada masyarakat desa sangat jarang sekali dijumpai pekerjaan berdasarkan keahlian namun biasanya pekerjaan didasarkan pada usia (karena kekuatan fisiknya) dan jenis kelaminnya.
Gotong Royong ciri khas masyarakat desa
Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan masyarakat desa. Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan pada umumnya memegang peranan penting. Orang-orang akan selalu meminta nasihat-nasihat kepada mereka bila ada kesulitan yang mendera. 

Kesulitannya adalah bahwa orang-orang tua itu memiliki pandangan-pandangan yang didasarkan pada tradisi yang kuat sehingga perubahan akan sangat sulit terjadi. Menurut Soerjono Soekanto, di desa perhatian utama masyarakat adalah keperluan pokok dan fungsi-fungsi lainnya diabaikan. Orang desa menilai bahwa makanan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan biologis bukan sebagai kebutuhan sosial.

Masyarakat desa memiliki jenis pekerjaan yang sama seperti bertani, berladang, atau nelayan. Kehidupan masyarakat desa yang memiliki jenis pekerjaan sama (homogen) sangat menggantungkan pekerjaannya kepada keluarga lain. Mereka tidak bisa mengerjakan semuanya oleh keluarga sendiri. Untuk mengolah tanah, memanen, atau pekerjaan tani lainnya mereka harus epakat dengan yang warga lain menunggu giliran.

Begitupun jika ada pekerjaan lain seperti membuat rumah, jembatan atau fasilitas umum, mereka sudah atur waktunya agar bisa dikerjakan secara bersama-sama. Saling ketergantungan pada masyarakat yang disebabkan oleh persamaan dalam bidang pekerjaan ini oleh Emile Durkheim disebut sebagai solidaritas mekanis (mechanic solidarity)

Sedangkan Ferdinand Tonnies mengemukakan istilah gemeinschaft atau paguyuban yaitu kelompok masyarakat di mana anggotanya saling terikat secara emosional satu sama lain.
Sumber dan Gambar:
Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Elly M Setiadi
H. Kama. A. Hakam, Ridwan Effendi. disini
close