Geograph88: Sosiologi | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Karakteristik Lembaga Sosial Masyarakat

Karakteristik Lembaga Sosial Masyarakat

Lembaga sosial muncul di masyarakat sebagai akibat dari adanya kesamaan ide atau gagasan diantara masyarakat tersebut. Lembaga sosial memiliki karakteristik atau ciri tertentu yang membedakannya dengan sistem norma yang bukan lembaga sosial. Karaktersitik atau ciri tersebut antara lain:

1. Memiliki simbol sendiri. Setiap lembaga sosial memiliki simbol tersendiri guys yang digunakan untuk menandaai suatu kekhasan atau memberi ciri khusus dari setiap lembaga. Dengan demikian lembaga sosial tersebut dapat memberi identitas tertentu bagi anggota masyarakat yang terlibat aktif di dalamnya. Contohnya:
- Dalam lembaga hukum ada simbol wanita memagang neraca dan pedang dengan mata tertutup.
- Dalam lembaga keluarga terdapat simbol cincin kawin.
- Dalam lembaga politik terdapat simbol bendera.

Karakteristik Lembaga Sosial Masyarakat
Lembaga sosial dan cirinya
2. Memiliki tata tertib dan tradisi. Lembaga sosial memiliki tata tertib dan tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis yang dijadikan panutan bagi pengikutnya. Contohnya:
- Dalam lembaga keluarga terdapat aturan tentang bagaimana menghormati orang yang lebih tua dan melindungi orang yang lebih muda.
- Dalam lembaga kepolisian ada aturan tentang bagaimana cara menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat.

3. Usianya lebih lama. Pada umumnya usia lembaga sosial lebih lama dibandingkan dengan usia orang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Contohnya:
- Dalam lembaga keluarga, sistem pertunangan atau pewarisan sudah ada sejak dulu dan masih dilakukan hingga sekarang.

4. Memiliki alat kelengkapan. Lembaga sosial memiliki alat kelengkapan tertentu yang digunakan untuk mewujudkan tujuan lembaga sosial tersebut. Contohnya:
- Buku dalam lembaga pendidikan merupakan alat mencapai tujuan pendidikan.
- Bajak dalam lembaga ekonomi digunakan untuk membajak sawah agar siap ditanami.

5. Memiliki ideologi. Lembaga sosial memiliki ideologi atau paham tersendiri. Ideologi adalah gagasan atau ide dasar yang harus dipatuhi oleh pendukung sebuah lembaga sosial. Ideologi bisa bersumber dari mana saja selama tidak melanggar konstitusi di Indonesia.

6. Memiliki tingkat kekebalan/daya tahan. Lembaga yang sudah terbentuk tidak akan mudah lenyap begitu saja ditelan jaman. Contohnya:
- Lembaga pendidik punya kurikulum yang mengatur kegiatan belajar mengajar agar tujuan belajar dapat terwujud.
- Adat istiadat dalam lembaga sosial dijadikan pedoman perlikau dalam kehidupan masyarakat.
Teori Konflik Sosial Masyarakat

Teori Konflik Sosial Masyarakat

Dalam bermasyarakat tentu pastinya akan dijumpai konflik-konflik diantara individu. 

Konflik sosial terjadi karena adanya perbedaan kepentingan tertentu. Konflik jika dikelola dengan baik maka akan menyatukan dan menguatkan suatu komunitas. 

Manajemen konflik sosial di negara heterogen seperti Indonesia harus dilakukan dengan handal agar persatuan tetap terjaga. Berikut ini teori-teori konflik sosial.

1. Teori hubungan masyarakat
Teori  hubungan  masyarakat  berasumsi  konflik  disebabkan  oleh  polarisasi  yang terus  terjadi, ketidakpercayaan, dan permusuhan antara kelompok  berbeda  dalam masyarakat.  

Perbedaan  umumnya  menyangkut  suku,  agama,  ras,  antar golongan, maupun pilihan ideologi politik. 

2. Teori identitas 
Teori  ini  mengemukakan  konflik  disebabkan  karena  ancaman  terhadap  identitas kelompok yang seringkali berakar pada hilangnya warisan masa lalu, hak-hak adat, ulayat, dan  tergerusnya nilai-nilai budaya.

3. Teori kebutuhan manusia
Teori ini  berasumsi  konflik  yang   berakar   disebabkan   oleh   tidak   terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. 

Banyaknya warga miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok memang  rawan menimbulkan konflik sosial. 

4. Teori kesalahpahaman antar budaya
Teori ini melihat konflik sebagai suatu proses yang disebabkan adanya ketidakcocokan dalam cara-cara berkomunikasi di antara berbagai ragam budaya dalam masyarakat. 

Ketidakcocokan tersebut  dapat  menimbulkan  kesalahpahaman, prasangka, bahkan   perbenturan  yang  mengarah pada   konflik. 

Untuk menanggulanginya perlu  diupayakan  untuk memperluas wawasan, mengurangi  stereotip  negatif  dan meningkatkan efektivitas komunikasi antar budaya.
Konflik adalah hal biasa dalam masyarakat

5. Teori negosiasi prinsip

Teori negosiasi prinsip menjelaskan konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik antara pihak yang terlibat di dalamnya.  Untuk  menyelesaikan  konflik  perlu  diadakan  dialog  dan  perundingan  sehingga kesepakatan dapat diterima semua pihak.



6. Teori permainan
Menurut teori ini, konflik sama halnya dengan permainan, di mana  dua pihak atau lebih menggunakan taktik atau strategi tertentu guna mengalahkan pihak lawan. 

7. Teori proses konflik
Teori ini menjelaskan adanya sejumlah tahapan dalam perkembangan konflik yakni:
a. sistem sosial masyarakat terdiri atas kelompok yang saling berhubungan;
b. di dalam kelompok terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan;
c. kelompok yang tidak berkuasa mulai mempertanyakan keadaan
d. pertanyaan  pada  keadaan  kemudian  membawa  kesadaran  harus  memperjuangkan kekuasaan dan penghasilan;

e. kesadaran  tersebut  membuat  mereka  mudah  terpancing   untuk  meluapkan kemarahan;
f. kemarahan sering diluapkan dengan cara-cara yang tidak terorganisasi;
g. luapan kemarahan menyebabkan meningkatnya ketegangan;
h. meningkatnya ketegangan mendorong  kelompok  mengorganisasi  diri  guna menantang kelompok yang berkuasa;
i. akhirnya konflik terbuka pecah antara kelompok yang berkuasa dan kelompok yang tidak berkuasa. 

8. Teori psikodinamika
Menurut teori psikodinamika, konflik muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara ide (dorongan) dalam diri individu dengan nilai-nilai atau keadaan di masyarakatnya. 

9. Teori sistem
Menurut Ludwig  von  Bertalanffy,  konflik  dalam  masyarakat  disebabkan  oleh  hal 
berikut.
a. Perbedaan pendapat mengenai tujuan sistem atau masyarakat.
b. Benturan fungsi dan tugas antar subsistem atau bagian-bagian dalam masyarakat.
c. Perebutan sumber daya antar subsistem atau bagian-bagian dalam masyarakat.
d. Persaingan antarsubsistem untuk memperebutkan kepemimpinan (persaingan kekuasaan).
e. Perbedaan latar belakang budaya.

10.     Teori transformasi konflik
Teori transformasi konflik menganggap  bahwa  konflik disebabkan oleh ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya, dan ekonomi. 

Penyelesaian konflik dapat diupayakan melalui pembenahan sistem agar memberi  kesempatan  yang  sama  kepada  seluruh  anggota  masyarakat  terutama kelompok rentan, seperti warga miskin dan kaum minoritas.

Gambar: disini
Pengertian, Bentuk Perilaku Menyimpang Di Masyarakat

Pengertian, Bentuk Perilaku Menyimpang Di Masyarakat

Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat atau kelompok. 

Perilaku menyimpang disebut juga nonkonformitas. Perilaku yang tidak menyimpang disebut konformitas yaitu bentuk interaksi seseorang yang berusaha bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. 

Perilaku menyimpang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kehidupan sosial dalam masyarakat. 

Menurut penelitian, 70% perilaku manusia memang dibentuk lingkungan. Jika lingkungan tidak baik maka individu di dalamnya akan tidak baik pula. 

Berikut ini beberapa bentuk perilaku menyimpang dalam masyarakat.
Pengertian, Bentuk Perilaku Menyimpang Di Masyarakat
Tawuran adalah perilaku menyimpang dan bodoh
a. Tawuran antar pelajar
Perkelahian pelajar berkaitan dengan krisis moral karena tindakannya berlawanan dengan norma agama atau norma sosial. 

Tujuan perkelahian bukan mencapai nilai posistif melainkan sekedar untuk balas dendam atau pamer kekuatan. Biasanya pelajar berbuat demikian tanpa pikir panjang alias sumbu pendek.

b. Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual ada banyak contoh misalnya homoseksual yaitu suka sesama jenis. Jika pria suka pria maka disebut homosek dan jika bagi wanita disebut lesbian. Pada umumnya kasus homoseksual ini dipengaruhi oleh lingkungan. 

Tindakan tersebut bertentangan dengan nilai agama dan sosial. Hubungan asusila sesama jenis juga sangat berbahaya karena akan menularkan penyakit seks.

c. Hubungan seksual di luar nikah
Hubungan seksual diluar nikah tidak dapat dibenarkan oleh norma sosial, agama dan moral. Hubungan seksual hanya dibenarkan bila pasangan sudah menikah resmi. Kekerasan asusila banyak terjadi karena pengaruh lingkungan dan dorongan nafsu tidak terkendali.

d. Pembunuhan
Pembunuhan adalah kejahatan berat yang tidak berperikemanusiaan. Pembunuhan adalah tindakan kriminal karena menghilangkan nyawa orang lain. Pembunuhan jika direncanakan bisa dituntut hukuman mati atau seumur hidup.

e. Minum minuman keras
Minuman yang mengandung alkohol memiliki efek negataif bagi saraf. Miras akan memicu lahirnya kriminalitas lain mulai dari pencurian, pemerkosaan hingga pembunuhan. 

Orang yang mabuk miras tidak akan bisa mengontrol emosi dan pikiran akan sudah dibawah sadar. Kasus miras pembawa petaka banyak terjadi di Indonesia saat ini yang membunuh banyak orang. 

f. Narkotika
Penyalahgunaan narkotika adalah menggunakan zat aditif yang tidak sesuai penggunaan semestinya. Kejahatan narkotika kini menjadi ancaman nyata, besar dan sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa Indonesia. 

Narkotika bisa membuat orang ketagihan dan sulit untuk sehat kembali. Contoh narkotika adalah ganja, ekstasi, sabu dan morphin.
Macam-Macam Media Sosialisasi Keluarga, Sekolah dan Lingkungan

Macam-Macam Media Sosialisasi Keluarga, Sekolah dan Lingkungan

Sosialisasi merupakan suatu kegiatan pengenalan suatu invididu dalam masyarakatnya. 

Tanpa sosialisasi yang baik maka suatu individu akan sulit diterima oleh lingkungan dan biasanya akan menjadi masalah. 

Lalu apa saja media-media sosialisasi masyarakat?.

Media sosialisasi merupakan tempat di mana sosialisasi itu terjadi. Paling tidak ada tiga media sosialisasi, yaitu: keluarga, sekolah, dan lingkungan bermain.


1. Keluarga  
Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak yang baru lahir mengalami proses sosialisasi. 

Di keluarga inilah seorang anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya, dan juga mengenal anggota keluarganya: ayah, ibu, kakak, kakek, dan nenek. 

Pembentukan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh bagiamana keluarga itu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya baik melalui kebiasaan, teguran, nasihat, perintah, atau larangan. Kelurga merupakan lembaga yang paling penting pengaruhnya dalam sosialisasi manusia.

Kepribadian anak ditetukan oleh bagaimana orangtua dan anggota keluarga lain memotivasi anak agar mau mempelajari pola perilaku yang diajarkan kepadanya. Motivasi bisa positif, bisa juga negatif. 

Motivasi positif dengan memberikan ganjaran (reward) kepada anak bila berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat. Motivasi negatif dengan memberikan hukuman (punishment) bila anak tidak mentaati perintah atau melanggar larangan. 
Macam-Macam Media Sosialisasi Keluarga, Sekolah dan Lingkungan
Sekolah adalah media sosialisasi manusia

Pada nuclear family (keluarga inti) sosialisasi hanya dilakukan oleh ayah dan ibunya, atau mungkin oleh saudara kandung. 

Pada extended family (keluarga luas) agen sosialisasi bisa berjumlah lebih banyak dan mencakup pula kakek, nenek, paman, bibi, dan sebagainya. 

Pada keluarga menengah dan atas di perkotaan pembantu rumahtangga pun juga memegang peran penting dalam sosialisasi anak, setidak-tidaknya pada tahap awal.  


2. Sekolah
Baiklah saya akan mengajak Anda untuk mengenal agen sosialisasi berikutnya yaitu sekolah, paling tidak bagi masyarakat yang sudah mengenal pendidikan formal. 

Di sekolah seseorang mempelajari hal baru yang belum dikenalnya dalam keluarga. Pendidikan formal mempersiapkan anak untuk menguasai peran-peran baru di kemudian hari pada saat dia tidak tergantung lagi pada orangtuanya. 

Menurut Robert Dreeben, yang dipelajari anak di sekolah – di samping membaca, menulis, dan menghitung – adalah aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universalism), dan spesifitas (specificity).  

Di sekolah seorang anak harus belajar untuk mandiri. Di sekolah sebgian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh tanggungjawab. 

Ketergantungan terhadap orangtua seperti di rumah tidak terjadi, guru menuntut kemandirian dan tanggungjawab pribadi bagi tugas-tugas sekolah.



Peran yang diraih dengan prestasi di sekolah merupakan peran yang menonjol. Peringkat prestasi anak di kelas hanya dapat diraih melalui prestasi. Peran sekolah dalam prestasi anak lebih besar dibandingkan dengan peran keluarga. 

Sekolah menunut siswa untuk berprestasi, baik dalam kgiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler. Seorang siswa didorong untuk giat berusaha mengembangkan kemampuan dan bersaing agar meraih keberhasilan dan menghindari kegagalan. 

Keberhasilan maupun kegagalan selama di sekolah menjadi dasar bagi penentuan peran di masa mendatang.


Aturan ketiga yang dipelajari anak di sekolah adalah universalime. Di sekolah setiap anak mendapatkan perlakuan yang sama. 

Perlakuan yang berbeda hanya dibenarkan bila didasarkan pada kelakuan siswa di sekolah – apakah ia berkemampuan, bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah. 

Spesifisitas merupakan aturan keempat dan merupakan kebalikan dari kekaburan (diffuseness). Di sekolah kegiatan siswa atau penilaian terhadap kelakuan mereka dibatasi secara spesifik. 

Kekeliruan yang dilakukan oleh seorang siswa dalam matapelajaran sosiologi, misalnya, sama sekali tidak mempengaruhi penilaian gurunya terhadap prestasinya dalam matapelajaran bahasa Indonesia. 


3.  Kelompok Bermain
Nah, Anda sudah mempunyai pemahaman dua agen sosialisasi yang baru kita pelajari bersama yaitu keluarga dan sekolah. Marilah kita sekarang memahami agen sosialisasi yang ketiga yaitu kelompok bermain. 

Setelah mulai dapat berpergian seorang anak memperoleh agen sosialisasi lain yaitu teman bermain, baik yang terdiri atas kerabat atau tetangga dan teman sekolah. 

Di dalam kelompok bermain ini seorang anak mempelajari berbagai kemampuan baru. 

Di rumah seorang anak mempelajari hubungan antaranggota keluarga yang tidak sederajat, dalam kelompok bermain seorang anak belajar berinteraksi dengan orang yang sederajat karena sebaya. 

Pada tahap inilah seorang anak memasuki game stage – mempelajari aturan yang mengatur peran orang yang kedudukannya sederajat. 

Dalam kelompok ini pula seorang anak mempelajari nilai-nilai keadilan, kebersamaan, tolong menolong, kerjasama, solidaritas, dan sebagainya. 

Sumber: Modul P2KGS Mapel Sosiologi
Gambar: disini
Faktor-Faktor Perubahan Sosial Budaya Menurut Soerjono Soekanto

Faktor-Faktor Perubahan Sosial Budaya Menurut Soerjono Soekanto

Perubahan sosial selalu terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Mengapa perubahan itu senantiasa terjadi pada kehidupan sosial manusia?. 

Soerjono Soekanto (1994) mengidentifikasi sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebab-sebab yang berasal dari dalam dan sebab-sebab dari luar masyarakat. 

Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri antara lain:


1.  Laju Pertumbuhan Penduduk
Bertambah atau berkurangnya penduduk menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur sosial masyarakat. 

Perpindahan penduduk dari desa ke kota, misalnya, di satu sisi menyebabkan penduduk di wilayah kota bertambah, di lain sisi, penduduk di wilayah pedesaan berkurang. 

Pertambahan jumlah penduduk di wilayah perkotaan, misalnya, menyebabkan kota semakin padat dan menambah jumlah angkatan kerja. 

Bila tidak diimbangi dengan penyediaan sarana perumahan dan penyerapan tenaga kerja maka akan mengakibatkan munculnya gelandangan dan pengangguran. 

Akibat berikutnya adalah menuculnya berbagai macam penyimpangan sosial seperti prostitusi, kejahatan, dan sebagainya. 

Sementara wilayah pedesaan yang ditinggalkan akan mengalami kekurangan tenaga kerja.

2.  Penemuan-penemuan Baru
Penemuan baru juga disebut sebagai inovasi, yautu suatu proses yang meliputi penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan baru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsur kebudayaan baru diterima, dipelajari dan dipakai dalam masyarakat. Inovasi sebagai sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: discovery dan invention. 

Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan baru baik berupa alat maupun gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. 

Discovery baru menjadi invention bila masyarakat sudah mengakui, menerima, serta menerapkan penemuan baru tersebut. 

Acapkali proses dari discovery sampai ke invention membutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta. Seperti telah dicontohkan di atas bahwa penemuan mobil oleh George Selden telah melalui serangkaian penemuan-penemuan sebelumnya.

3.   Pertentangan (Conflict)
Konflik atau pertentangan adalah suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan individu-individu atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. 

Pertentangan dapat terjadi antara individu dengan kelompok atau antarkelompok. Pertentangan dapat menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. 

Acapkali terjadi perbedaan antara kepentingan individu dengan kepentingan kelompok. Misalnya, seorang istri yang bekerja di sektor publik. 

Seorang perempuan pada masyarakat  berbudaya patriarkhi dikontruksi menjalankan pekerjaan-pekerjaan di sektor domestik. 

Dengan bekerja di sektor publik maka akan membawa perubahan besar pada peran perempuan di masyarakat. 

Perempuan tidak lagi  hanya di sektor domestik, melainkan sama dengan laki-laki bisa bekerja di sektor publik.
Faktor-Faktor Perubahan Sosial Budaya Menurut Soerjono Soekanto
Perubahan sosial adalah keniscayaan
Pertentangan antar kelompok juga bisa menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan. Misalnya, pertentangan antara generasi tua dengan generasi muda pada masyarakat yang sedang mengalami transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat moderen. 

Generasi muda lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan baru, sementara generasi tua lebih konservatif. 

Kondisi demikian dapat menyebabkan perubahan-perubahan, seperti, pergaulan laki-laki dan perempuan lebih bebas, dan sebagainya.

4.  Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi 
Terjadinya pemberontakan atau revolusi juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. 

Pemberontakan terhadap Raja Louis XVI di Perancis telah menyebabkan runtuhnya aristokrasi absolut, kemudian lahir tatanan masyarakat baru yang menjadi adanya kebebasan dan kemerdekaan individu yang kemudian kita kenal dengan asas demokrasi. 

Demikian juga, revolusi industri di Inggris yang berlangsung sekitas satu abad menyebabkan perubahan-perubahan struktur sosial antara lain hubungan buruh dan majikan, mata pencaharian, runtuhnya feodalisme, dan sebagainya. 

Perubahan sosial dan kebudayaan dapat juga bersumber pada sebab-sebab dari luar masyarakat, antara lain:

1.  Bencana Alam
Bencana alam yang dialami oleh suatu masyarakat dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada masyarakat itu. 

Bencana alam bisa berupa gunung meletus, gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami, badai, dan sebagainya. 

Bencana-bencana tersebut bisa disebabkan karena ulah manusia seperti banjir dan tanah longsor, bisa juga disebabkan karena faktor alam seperti gempa bumi, tsunami, dan badai.

Misalnya, bencana tsunami yang melanda masyarakat Aceh telah menyebabkan perubahan besar bagi masyarakat Aceh yaitu perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial seperti lembaga pendidikan, lembaga keluarga, dan lembaga ekonomi. 

Pada lembaga keluarga, misalnya, banyak anak yang berstatus sebagai yatim-piatu, banyak suami atau istri yang menjadi single parent, dan sebagainya. 

Demikian juga dengan bencana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur. 

Bencana ini telah menghancurkan tatatnan masyarakat beberapa desa yang telah dibangun dari generasi ke generasi. 

2.  Peperangan
Peperangan antarkelompok dalam suatu negara atau antarnegara dapat menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan. 

Perang antarnegara, misalnya, menyebabkan diterimanya kebudayaan negara yang memenangkan perang oleh negara yang kalah perang. 

Kondisi seperti ini pernah dialami oleh Jerman dan Jepang yang kalah perang dunia dua. 

Sumber: Modul P2KGS Mapel IPS
Gambar: disini
Pengertian Teori-Teori Interaksi Sosial

Pengertian Teori-Teori Interaksi Sosial

Mempelajari interaksi sosial sangat luas sekali dan salah satunya adalah tentang beragamnya teori-teori interaksi sosial. 

Apa bedanya simbol dengan tanda. Pengertian sebuah tanda biasanya berhubungan dengan bentuk fisiknya dan dapat ditangkap dengan pancaindera. 

Di perempatan jalan dipasang lampu berwarna merah, kuning, dan hijau adalah tanda yang artinya berhenti, peringatan, dan boleh jalan. Simbol bersifat abstrak. 

Ketika saya menyebut kata ayam, segera Anda membayangkan dalam pikiran bentuk fisik ayam tanpa harus didukung kehadiran fisik ayam tersebut, karena Anda  memiliki daya khayal dan memiliki kesepakatan bersama akan pengertian kata ayam. 

Namun perlu diingat makna simbol tertentu tidak selalu bersifat umum: berlaku sama di setiap situasi dan daerah. Budaya yang berbeda melahirkan arti atau makna yang berbeda terhadap bahasa isyarat.

Seperti sudah saya contohkan di atas bahwa suatu simbol tertentu tidak selalu bersifat universal yaitu berlaku sama di setiap situasi dan daerah. Nilai atau makna sebuah simbol tergantung kepada kesepakatan  orang-orang atau kelompok yang menggunakan simbol itu. 

Menurut Leslie White (Ritzer, 1992), makna suatu simbol hanya dapat ditangkap melalui cara-cara nonsensoris, yaitu melalui proses penafsiran  (interpretative process). 

Makna dari suatu simbol tertentu dalam proses interaksi sosial tidak begitu saja bisa langsung diterima dan dimengerti oleh semua orang, melainkan harus terlebih dahulu ditafsirkan. 
Pengertian Teori-Teori Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah fitrah manusia
Anda juga bisa mempelajari interaksi sosial dengan pendekatan tertentu. Salah satu pendekatan tersebut adalah interaksionisme simbolik (simbolic interactionism). Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. 

Kata interaksionisme menunjukkan bahwa sasaran pendekatan ini adalah interaksi sosial, sedangkan kata simbolik merujuk pada penggunaan simbol-simbol pada interaksi sosial tersebut. 

Menurut Leslie White (Ritzer, 1992), simbol merupakan sesutau yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang mempergunakannya. Makna atau nilai itu tidak berasal dari atau ditentukan oleh ciri-ciri yang secara intinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya. 

Seperti sudah saya jelaskan pada paragraph di atas bahwa makna atau niali suatu simbol, menurut White, hanya dapat ditangkap melalui cara-cara nonsensoris, yaitu melalui proses penafsiran.


Herbert Blumer (Poloma, 1992), salah seorang penganut pemikiran Mead, pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga: pertama, bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. 

Saya ambil contoh tindakan seorang muslim ketika menyembelih ayam dan tindakan seorang pedagang ayam non muslim karena makna menyembelih ayam bagi orang muslim dan non muslim berbeda; Kedua, makna yang dipunyai sesuatu berasal atau muncul dari interaksi sosial. Marilah kita ambil contoh warna merah dan putih. 

Bagi masyarakat di luar Indonesia memaknai warna merah dan putih sebagai warna biasa saja, tetapi bagi masyarakat Indonesia warna merah putih mempunyai makna sebagai warna bendera pusaka yang harus dihormati dan dijunjung tinggi; 

Ketiga, makna diperlakukan atau diubah melalui proses penafsiran (interpretative process) yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Makna yang muncul dari interaksi sosial tidak begitu saja diterima, melainkan ditafsirkan terlebih dahulu. 

Apakah seseorang perempuan akan menerima atau tidak ajakan makan malam dari teman laki-lakinya atau tidak tergantung dari itikad baik atau buruk dari laki-laki tersebut.


Pendekatan lain dikemukakan oleh W.I. Thomas tentang definisi situasi. Berbeda dengan pendekatan behavioristik bahwa interaksi manusia merupakan pemberian tanggapan (respon) terhadap rangsangan (stimulus). 

Menurut Thomas, seseorang tidak langsung memberikan tanggapan ketika mendapatkan rangsangan dari luar. Tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan atau rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakan definisi situasi atau penafsiran situasi. 

Dalam proses ini seseorang memberikan makna pada rangsangan yang diterimanya itu. Pada contoh di atas, terhadap tawaran makan malam dari seorang teman laki-laki, seorang perempuan akan melakukan penafsiran makna tawaran makan malam tersebut. Dalam kaitan dengan definisi situasi ini Thomas terkenal dengan ungkapannya: 

“When men define situations as real, they are real in their concequences” (“Bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata”).


Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life juga mempunyai kontribusi penting terhadap interaksi sosial. 

Goffman menggunakan prinsip yang dinamakan dramaturgi (dramaturgy) yang oleh Margaret M. Poloma (1992) didefinisikan sebagai pendekatan yang menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subjektif dan objektif dari interaksi sosial. 

Usaha Goffman untuk mempelajari interaksi sosial diilhami oleh pendapat Sheakespeare bahwa dunia merupakan suatu pentas dan semua laki-laki dan perempuan merupakan pemain. 

Menurut Goffman (Poloma, 1992), individu yang berjumpa orang lain akan mencari informasi mengenai orang tersebut dan akan menggunakan informasi itu untuk mendefinisikan situasi. 

Dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak, disengaja atau tidak, membuat pernyataan (expression) dan pihak lain memperoleh kesan (impression). Goffman membedakan dua pernyataan: pernyataan yang diberikan (expression given) dan pernyataan yang dilepaskan (expression given off). 

Pernyataan yang diberikan merupakan pernyataan yang dimaksudkan untuk memberikan informasi sesuai dengan apa yang lazim berlaku, sedangkan pernyataan yang dilepas mengandung informasi yang menurut orang lain memperlihatkan ciri si pembuat pernyataan. 


Mungkin Anda masih bingung dengan uraian di atas. Untuk memperjelas uraian di atas saya akan mengajak Anda untuk mencermati contoh berikut ini: Seorang yang mengucapkan terima kasih kepada orang lain dengan wajah cemberut. 

Ucapan terima kasih merupakan pernyataan yang diberikan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, namun wajah cemberut marupakan pernyataan yang dilepaskan yang memberikan informasi tentang perasaan sebenarnya dari si pembuat pernyataan.

Sumber: Modul Pelatihan P2KGS Mapel IPS
Gambar: disini
close