Geograph88: Astronomi | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Teori-Teori Terbentuknya Alam Semesta

Teori-Teori Terbentuknya Alam Semesta

 

Alam semesta adalah ruang maha luas yang terdiri atas triliyunan galaksi beserta komponen-komponen lain seperti energi gelap dan materi gelap.

Ada berbagai teori yang menyatakan tentang asal usul terbentuknya alam semesta sejak era ilmu pengetahuan mulai mengemukan di peradaban manusia.

Ada beberapa teori yang berbeda tentang terbentuknya alam semesta, diantaranya adalah:

Teori Big Bang: menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dari suatu titik singkat yang sangat padat dan panas yang kemudian melebar dan menjadi semakin dingin.

Teori Stasioner: menyatakan bahwa alam semesta selalu ada dan tidak pernah berubah.

Teori Oscillating: menyatakan bahwa alam semesta terus berulang, dengan periode pembentukan dan kehancuran yang berulang-ulang.

Teori kosmologi konstan: menyatakan bahwa alam semesta selalu memiliki jumlah materi yang sama dan tidak berubah dalam waktu.

Teori Multiverse: menyatakan bahwa alam semesta hanya satu dari banyak alam semesta yang ada di dalam ruang yang lebih besar.

Dari teori-teori tersebut, Big Bang adalah teori yang paling banyak didukung oleh bukti-bukti ilmiah saat ini. Namun, masih banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai asal usul alam semesta ini.

Salah satu bukti teori Big Bang adalah spektrum bintang yang semakin mengarah ke warna merah jika diamati dari bumi. Hal ini menandakan bahwa bintang semakin menjauh dari bumi sehingga materi dapat disimpulkan semakin menyebar ke segala arah.
Fenomena Akibat Pengaruh Rotasi Bumi

Fenomena Akibat Pengaruh Rotasi Bumi

Setiap planet di tata surya ini mengalami rotasi atau perputaran pada porosnya. Bumi juga melakukan gerakan yang sama seperti planet pada umumnya.

Bumi berotasi dari arah barat ke rimut dengan waktu 23 jam 56 menit dan 4,09 detik atau dibulatkan jadi 24 jam satu kali rotasi. Kecepatan rotasi bumi adalah 1.670 km/jam, cepat sekali bukan?.

Gerakan rotasi bumi memiliki dampak terhadap beragam fenomena yaitu sebagai berikut:
1. Gerak semu harian benda langit
Gerakan rotasi bumi menyebabkan benda-benda langit seolah bergerak mengelilingi bumi, seperti matahari terbit di pagi hari dan tenggelam sore hari. Pada kenyataannya matahari itu diam dan tidak bergerak.

Bintang di langit juga seolah bergerak serta posisi rasi bintang saat awal malam dan akhir malam berubah. Fenomena pergerakan posisi benda langit harian ini adalah karena rotasi bumi.

2. Pergantian siang dan malam
Periode rotasi bumi membutuhkan waktu 24 jam. Bagian bumi yang terkena sinar matahari akan mengalami siang dan sebaliknya yang membelakangi matahari akan menjadi malam. Hal ini konsisten terus terjadi bergantian selama bumi berotasi.
Pergantian siang dan malam

3. Pembelokan angin
Berotasinya bumi menghasilkan suatu efek pembelokan bernama efek Corriolis. Efek Corriolis adalah suatu gaya semu yang dihasilkan dari efek dua gerakan yaitu gerak rotasi bumi dan gerak benda relatif terhadap bumi. Angin dibelokan ke arah kanan di belahan bumi utara dan ke arah kiri di belahan bumi selatan.

4. Pembelokan arus laut
Arus laut dipengaruhi oleh gesekan angin di permukaan . Angin mengalami pembelokan karena gaya corriolis makanya arus laut juga ikut-ikutan mengalami pembelokan. Arus laut dibelokan ke kanan di belahan bumi utara dan dibelokan ke arah kiri di belahan bumi selatan. Oleh karena itu kita mengenal sistem arus bumi seperti yang ada pada peta arus laut.

5. Perbedaan percepatan gravitasi
Rotasi bumi mengakibatkan bagian kutub menjadi lebih pepat dibanding ekuator. Jari-jari bumi ke arah kutub lebih pendek dibandingkan dengan bagian ekuator. Dampaknya akan terjadi perbedaan gaya gravitasi antara kutub dan ekuator. Gravitasi di kutub lebih besar dibandingkan ekuator/khatulistiwa.

6. Perbedaan pembagian waktu
Garis bujur menjadi patokan pembagian zonasi waktu dunia. Indonesia dibagi menjadi 3 zona waktu yaitu WIB, WITA dan WIT. Selisih perbedaan waktu di bumi adalah 1 jam setiap 15 derajat bujur. Angka ini didapat dari 360 derajat (satu putaran) : 24 jam = 15 derajat. Jadi selisih satu jam itu adalah 15 derajat bujur.
Rotasi membelokan arah angin

Teori Tata Surya Nebula, Planetesimal, Pasang Surut, Protoplanet

Teori Tata Surya Nebula, Planetesimal, Pasang Surut, Protoplanet

Tata Surya adalah suatu sistem planet dengan matahari sebagai bintang dan 9  planet yang mengitarinya.

Dari sembilan planet di tata surya, hanya Bumi yang memiliki kehidupa kompleks. Para astronom masih belum tahu pasti bagaimana tata surya terbentuk.

Namun beberapa ahli sudah mencoba membuat teori berdasarkan hasil observasi dan imajinasi mereka.

Sebelum tata surya terbentuk, alam semesta bermula dari Big Bang atau ledakan satu titik tunggal bervolume nol di salah satu sudut ruang jagat raya. Berikut ringkasan teori terbentuknya tata surya
a. Hipotesis Kabut
Immanuel Kant (1724–1804), Bumi, dan planet lain awalnya merupakan satu kesatuan yang berupa gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan, kemudian inti kabut menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari, sedangkan bagian kabut di sekelilingnya membentuk planet-planet dan satelit-satelit.

b. Hipotesis Planetesimal
Thomas C. Chamberlin, seorang ahli geologi Dalam teori ini dikatakan awal pembentukan planet mirip kabut pijar, karena di dalam kabut itu terdapat material padat yang berhamburan yang disebut planetesimal berhamburan di angkasa sekitar matahari membentuk planet-planet kecil yang beredar pada orbit masing-masing.

c. Hipotesis Pasang Surut Gas
Pasang tersebut berbentuk menyerupai cerutu yang sangat besar. Bentuk cerutu tersebut bergerak mengelilingi matahari dan pecah menjadi sejumlah butir-butir tetesan kecil partikel yang melayang-layang.

Karena perbedaan besar kecilnya butir partikel sehingga massa butir yang lebih besar menarik massa butir yang lebih kecil, dari proses tersebut membentuk gumpalan yang semakin besar sebesar planet-planet. Teori ini dikemukakan James-Jeffrey

e. Hipotesis Kuiper
Hipotesis ini dikemukakan oleh astronom bernama Gerard P. Kuiper (1905–1973). Ia mengatakan bahwa semesta terdiri atas formasi bintang-bintang, di mana dua pusat yang memadat berkembang dalam suatu awan antar bintang dari gas hidden.

 Pusat yang satu lebih besar daripada pusat yang lainnya dan kemudian memadat menjadi bintang tunggal yaitu matahari.

Kemudian kabut menyelimuti pusat yang lebih kecil yang disebabkan oleh adanya gaya tarik dari massa yang lebih besar yang menyebabkan awan yang lebih kecil menjadi awan yang lebih kecil lagi yang disebut protoplanet.

Kata kunci untuk memahami perbedaan teori terbentuknya tata surya
Nebula = kabut berputar membentuk cakram
Planetesimal = dua bintang berpapasan dan partikel berhamburan lalu memadat
Pasang surut = pasang surut hasil gaya tarik dua bintang berpapasan membentuk cerutu
Kuiper = awan debu mengalami gaya tarik dan membentuk protoplanet
Pengertian Jagat Raya atau Alam Semesta

Pengertian Jagat Raya atau Alam Semesta

Jagat raya atau alam semesta (universe) merupakan ciptaan Tuhan dan hingga saat ini masih banyak misteri yang belum terpecahkan tentang alam semesta. 

Mungkin sampai kiamat pun akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya. Berikut ini pengertian jagat raya menurut berbagai sumber:


a. Jagat raya adalah ruang yang meluas ke segala arah dan memiliki batas-batas yang belum dapat diketahui.
b. Jagat raya diduga berbentuk melengkung dan dalam keadaan memuai.
c. Jagat raya tersusun atas galaksi-galaksi atau sistem perbintangan yang sangat banyak sekali.


  1. Pengertian Jagat Raya atau Alam Semesta
    Gugusan galaksi di alam semesta

Di dalam ruang angkasa atau jagat raya terdapat ribuan galaksi yang merupakan gugusan bintang dan salah satunya adalah Bima Sakti atau Milky Way. 

Jadi jagat raya adalah ruang yang sulit dibayangkan dan diketahui dengan pasti wujud sebenarnya. Berbagai penelitian pun tidak mampu menjangkaunya hingga saat ini dan hanya sebatas hipotesa saja.

Jara antar galaksi dengan galaksi lain rata-rata lebih dari 1 juta tahun cahaya. Galaksi adalah kumpulan bintang, planet, gas, nebula dan benda langit lainnya yang membentuk pulau di angkasa yang luas. 

Keberadaan galaksi ini dapat dideteksi dengan teleskop bintang. Teleksop yang kuat mampu melihat 1 milyar galaksi dengan diameter mulai dari seribu hingga 6 juta tahun cahaya. Secara umum bentuk galaksi dibagi ke dalam 4 macam yaitu:

a. Galaksi Spiral
Galaksi ini berbentuk seperti roda atau kincir dengan lengan-lengan berbentuk spiral keluar dari pusat yang terang. (jumlahnya 60% dari total galaksi di alam semesta).

b. Galaksi Spiral Palang
Galaksi ini punya lengan spiral dan keluar dari bagian ujung suatu pusat yang berbentuk memanjang. Jumlah galaksi ini sekitar 18% di alam semesta.

c. Galaksi Elips
Galaksi ini berbentuk agak bulat memanjang atau lonjong. Jumlahnya 18% dari total galaksi di alam semesta.

d. Galaksi Tak Beraturan
Galaksi ini berjumlah 4% dari keseluruhan galaksi dan punya bentuk yang tidak jelas.

Galaksi memiliki beberapa ciri yaitu:
1. Galaksi memiliki cahaya sendiri
2. Galaksi lain terlihat di luar galaksi Bima Sakti
3. Jarak antar galaksi dengan galaksi lain sangat jauh
4. Galaksi memiliki bentuk

Menurut ahli astronomi, ruang antar galaksi dengan galaksi lain tidaklah kosong melainkan ada zat antar galaksi yang tersusun atas proton, elektron dan ion. 

Mereka bergerak bebas di alam semesta. Galaksi terdekat dengan Bima Sakti adalah Andromeda dan Magellan.

Gambar: disini
Struktur dan Pemanfaatan Litosfer Pada Bumi

Struktur dan Pemanfaatan Litosfer Pada Bumi

Berdasarkan komposisi penyusunnya, bumi dibagi menjadi tiga lapisan. Lapisan teratas disebut litosfer. Lapisan kedua disebut astenosfer. 

Lapisan yang terdalam disebut mesosfer. Litosfer merupakan lapisan yang sangat tipis, bersifat kaku (rigid), padat, keras, dan kuat.

Litosfer terdiri atas batuan yang relatif lebih ringan (light rock) dibanding astenosfer dan mesosfer.  

Litosfer dibentuk oleh berbagai unsur. Sebagian besar lapisan ini terdiri atas sekelompok mineral yang disebut silikat (Si0₂). 

Silikat merupakan gabungan antara oksigen dan silikon. Selain silikon, terdapat pula unsur lainnya seperti yang tampak pada gambar berikut ini


Berdasarkan data pada tabel, terlihat bahwa litosfer terdiri atas beberapa unsur utama yang memiliki persentase jauh lebih tinggi dibanding unsur lainnya. 

Unsur-unsur tersebut mencakup hampir 90% dari unsur-unsur yang ada dalam litosfer. Unsur yang dimaksud adalah oksigen, silikon, aluminium, dan besi.


Litosfer yang memiliki ketebalan sekitar 100 km mencakup kerak bumi dan bagian atas mantel bumi. Karena itulah pembahasan mengenai litosfer tidak dapat dilepaskan dari kerak bumi.

Struktur dan Pemanfaatan Litosfer Pada Bumi
Lapisan kulit bumi secara vertikal

Ketebalan kerak bumi di setiap tempat berbeda-beda dari 8 hingga 40 km. Kerak bumi terdiri atas dua bagian, yaitu kerak benua (continental crust) dan kerak samudra (oceanic crust). 

Kerak benua terdiri atas batuan yang sangat tua dengan kepadatan lebih rendah dibanding kerak samudra. 

Penyusun kerak benua terdiri atas batuan yang bersifat granitis. Unsur-unsur utama pembentuk kerak benua adalah mineral silikat yang kaya aluminium,potassium,dan sodium


Unsur-unur tersebut memiliki sifat yang ringan. Akibatnya, kerak benua terletak di atas kerak samudera yang mengandung unsur-unsur yang lebih berat. 

Karena mengandung unsur aluminium dalam jumlah besar, maka kerak benua disebut lapisan Si-al (silisium aluminium).



Kerak samudra terdiri atas batuan basaltis yang berusia lebih muda serta belum mengalami perubahan karena tekanan. 

Batuan penyusun kerak samudra lebih berat (padat) dibanding kerak benua. Dilihat dari strukturnya, kerak samudra tersusun atas mineral silikat yang kaya akan magnesium — besi, kalsium, dan sedikit aluminium. 

Karena mengandung unsur magnesium dalam jumlah yang lebih besar dibanding kerak benua, maka kerak samudra sering disebut lapisan Si-ma (silisium magnesium).

2.    Pemanfaatan litosfer


Litosfer merupakan tempat berpijak dan beraktivitas bagi manusia dan makhluk lainnya serta menjadi tempat tumbuh bagi berbagai jenis tumbuhan. Walaupun lapisan ini relatif tipis, semua kehidupan berada pada lapisan ini. 

Litosfer mengandung berbagai jenis mineral yang sangat berguna bagi kehidupan. Litosfer juga merupakan sumber garam-garaman yang ada di laut, gas yang ada di atmosfer, dan semua air yang ada di laut, atmosfer, serta daratan.


Pada lapisan ini terdapat berbagai unsur dalam jumlah berlimpah yang diperlukan bagi tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. 

Demikian pula manusia dan hewan mempcroleh manfaat sccara langsung dan tidak langsung dari litosfer. Berikut ini adalah beberapa jenis pemanfaatan litosfer.

Unsur besi dan aluminium dalam jumlah berlimpah dimanfaatkan terutama untuk keperluan industri seperti industri kendaraan bermotor, peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, atau bangunan.

Aktivitas pertanian juga memanfaatkan unsur dari kerak benua. Misalnya, pupuk buatan berupa NPK (nitrogen-phosfor-kalium).

Berbagai pcrhiasan seperti intan, emas, perak, serta beragam batu mulia juga diperoleh dari lapisan litosfer.

Unsur-unsur tertentu yang diperlukan tubuh manusia seperti sodium dalam bentuk natrium klorida (NaCl) atau garam dapur, phosfor, dan kalsium dapat diperoleh dari litosfer.

Unsur-unsur tertentu seperti uranium (tidak dicantumkan pada tabel karena jumlahnya sangat sedikit/terbatas) dan titanium yang ada dalam litosfer dimanfaatkan sebagai sumber energi dan pembuatan bahan peledak. Gambar: disini
Teori Kehanyutan Benua Pada Bumi

Teori Kehanyutan Benua Pada Bumi

Apa rasanya jika kamu hanyut di aliran air sungai?. Menakutkan bukan?. Nah gimana kalau benua kita hanyut diatas magma?.

Ada satu teori bernama teori kehanyutan benua, berikut ulasannya:

1. (Continental Drift Theory)

Pada tahun 1910, Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi Jerman melakukan penelitian antarbenua secara geologis, kartografis, paleontologis, dan klimatologis. 

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Wagener menyimpulkan bahwa semua benua masa sekarang, pada zaman dahulu pernah tergabung menjadi sebuah benua besar yang disebut Pangaea.

Sebagian besar terbentuk dari batuan granit, terapung pada batuan basalt yang mengelilinginya (granit lebih ringan daripada basalt) seperti es terapung. Kemudian Pangaea terpecah-pecah, kepingannya hanyut ke mana-mana.

Pada awalnya, banyak para ahli menolak konsep ini karena tidak dapat membayangkan suatu kekuatan di bumi yang cukup hebat untuk mendorong benua (yang dalam konsep ini dinilai ringan dan agak rapuh) melalui batuan basalt yang padat. 

Namun demikian, akhirnya, para ahli tersebut dapat menerima bahwa benua memang hanyut, tetapi tidak di atas dasar batuan basalt. 

Perdebatan tentang kehanyutan benua mulai terpecahkan setelah penemuan alat pengukur magnetometer pada pasca Perang Dunia II. Alat yang peka terhadap magnetisme dalam batuan ini diciptakan di Inggris. 

Temuan lain adalah pendugaan kedalaman laut dengan menggunakan gema yang dilakukan Angkatan Laut AS.  Pendugaan kedalaman laut ini menghasilkan corak topografi yang dominan, yakni sebuah rantai pematang dan pegunungan sepanjang 75.600 km yang melengkung di tengah-tengah antara Benua Amerika pada satu sisi dan Eropa serta Afrika di sisi lainnya. 

Fakta ini menghidupkan kembali spekulasi tentang hubungan antara benua yang satu dengan benua lainnya. Apalagi pematang tersebut ternyata mengeluarkan sejumlah besar panas bumi pada banyak tempat.  

Dengan teknologi komputer dan pemetaan bawah air, para ilmuwan mencoba membandingkan kesesuaian antara Amerika Selatan dan Afrika bagian barat terutama tepi paparan benuanya hingga kedalaman beberapa ratus meter. 

Hasil perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa terdapat sedikit kesesuaian antara kedua garis pantai tersebut dan kesesuaian yang hampir sempurna antara paparan benua wilayah Amerika Selatan dan bagian barat Afrika.

Berdasarkan teori kehanyutan benua, pada awalnya semua benua yang ada sekarang merupakan satu benua besar yang disebut Pangea. Pangea tersebut dikelilingi oleh Laut Tethys.
Pangaea land
Demikian Teori Kehanyutan Benua Pada Bumi. Semoga bermanfaat
Bahan-Bahan Yang Di Keluarkan Oleh Gunung Berapi

Bahan-Bahan Yang Di Keluarkan Oleh Gunung Berapi

Gunung api seringkali meletus dan mengeluarkan bahan-bahan dari dalam perut bumi. 

Kita tentu sering melihat hanya asap dan lava saja yang keluar dari gunung api, namau ada banyak bahan lepas yang dikeluarkan gunung api. 

Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung api dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: 

a. Bahan-bahan padat atau efflata
Menurut ukuran besarnya, efflata dapat dibagi menjadi:
1.    bom, merupakan batu-batu besar
2.    lapili, ukuran sebesar kerikil
3.    pasir
4.    abu atau debu

Menurut asalnya, efflata dibedakan:
1.    Efflata allogen, berasal dari batu-batuan sekitar kawah yang, terlempar ketika terjadi letusari.
2.    Efflata autogen, berasal dari magma, disebut juga bahan piroklastika efflata yang merupakan hasil kerja eksplosif gunung api.
Bahan-Bahan Yang Di Keluarkan Oleh Gunung Berapi
Erupsi Gunung Api

b. Bahan-bahan cair

Bahan cair terjadi jika magma bersifat cair, tak terdapat sumbat magma di puncaknya. Bahan cair merupakan hasil kerja efusif dairi gunung api.


Bahan-bahan cair itu dapat dibedakan:


1.    lava, magma yang meleleh di luar pada lereng gunung api
2.    lahar panas, merupakan campuran magma dan air, jadi merupakan lumpur panas yang mengalir
3.    lahar dingin, terjadi karena efflata porus' di puncak gunung menjadi lumpur pada waktu hujan lebat dan mengalir pada lereng dan lembah-lembah.

c. Bahan-bahan gas atau ekshalasi
Gas-gas yang dikeluarkan oleh gunung api, dapat berupa gas belerang (HS) yang disebut solfatar.

Daerah ini menghasilkan belerang (sebagai tambang belerang atau sulfur). Sedang sumber gas yang mengeluarkan H0 (uap air) disebut fumarol. 

Sumber gas yang mengeluarkan C0 disebut mofet. Gas C0 lebih berat daripada oksigen. Oleh karena itu letaknya di tempat-tempat yang rendah (lembah). Gas C0 berbahaya bagi kehidupan.


Contoh: di Dieng terdapat solfatar, fumarol, dan mofet Tanda-tanda gunung api akan meletus



a.temperatur di sekitar kawah naik
b.banyak sumber air menjadi kering
c.sering timbul gempa gunung api
d.binatang banyak yang berpindah 
e.sering terdengar suara gemuruh

Tanda-tanda gunung api sudah padam atau pascavulkanik

Ada beberapa tanda atau gejala yang bisa dipakai sebagai pedoman bahwa gunung api sudah padam atau hampir padam. 

Tanda-tanda atau gejala-gejala itu disebut gejala post vulkanisme atau gejala pasca vulkanik.


Gejala post vulkanisme itu antara lain:

a. Ekshalasi, yaitu-yang berupa fumarol (H0); solfatar (HS) dan mofet (CO). Jika di suatu daerah kita temukan gejala seperti itu, berarti daerah gunung api itu sudah padam, atau hampir padam. Contoh: Dieng (Jawa Tengah).



b.Mata air panas air tanah yang terletak di dekat dapur magma, maka akan keluar sebagai air panas. Bisa juga uap air yang berasal dari dapur magma, setelah sampai di atas mengalami kondensasi menjadi air panas. Contoh: Cimelati (Jawa Barat).


c.Mata air makdani; mata air makdani selain panas juga mengandung mineral, antara lain belerang.



Contoh: Maribaya (Jawa Barat), Baturaden, dan Dieng (Jawa Tengah).   

d. Mata air panas yang memancar atau geyser; Biasanya  air panas. semacam ini tidak memancar terus-menerus, tetapi secara berkala

Contoh: di Islandia (Selandia Baru), dan Yellowstone Park (Amerika Serikat)


c. Bunsen (1846) mengatakan, terjadinya geyser karena gas-gas panas yang asalnya dari magma memanaskan air yang terdapat di dalam bumi. 

Namun uap air yang terjadi tidak dapat mengadakan sirkulasi, tetapi terakumulasi pada suatu tempat. 

Uap air yang terakumulasi tekanannya makin kuat, sampai suatu saat bisa memancarkan air di atasnya, dan terjadilah geyser. 

Gambar: disini

Macam-Macam Tipe Letusan Pada Gunung

Macam-Macam Tipe Letusan Pada Gunung

Letusan gunung api sering terjadi di semua penjuru bumi, namu kekuatannya berbeda-beda.  Ada yang hanya letusan kecil, sedang hingga raksasa. 

Letusan Toba dulu di Sumater membuat iklim bumi berubah dan disinyalir mengancurkan peradaban yang ada saat itu. Lalu mengapa kekuatan letusan gunung api itu berbeda-beda?.


Tipe letusan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain: derajat kekentalan magma, tekanan gas magmatik, kedalaman dapur magma, dan bahan-bahan yang dikeluarkannya.



Ada tujuh tipe letusan yang penting, yaitu:
a.    tipe hawai
Tipe ini terjadi karena lava yang sangat cair. Bentuknya seperti perisai atau tameng.
Contoh: Maona Loa, Maona Kea, dan Kilauea di Hawai.


b.    tipe stromboli

Tipe ini termasuk tipe spesifik, yaitu model letusannya terjadi dengan interval waktu kurang lebih sama. Gunung api Stromboli di Kepulauan Lipari, interval waktunya 12 menit. 

Setiap lebih dari 12 menit, lava mendidih selanjutnya terjadi letusan kecil. Bom, lapili, dan abu dilontarkan ke luar Gunung-gunung yang mengalami letusan seperti Stromboli adalah Vesuvius (Italia) dan Gunung Raung (Jawa).


c.    tipe vulkano

Kebanyakan gunung api yang ada, tipe letusannya mengeluarkan bahan-bahan padat dan cair. Bahan padat berupa bom, abu, dan lapili yang dilemparkan, di samping bahan cair (lava) yang dimuntahkan. 

Tipe ini dibedakan dua macam yaitu tipe vulkano kuat dan tipe vulkano lemah. Tipe kuat, bahan padat yang dilemparkan cukup banyak, tinggi serta mencapai jarak yang cukup jauh. 

Sedangkan bahan cair yang dimuntahkan cukup banyak. Karena tekanan gas sangat kuat serta letak dapur magma cukup dalam.
Contoh: Vesuvius, Etna (Italia), dan Semeru (Jawa Timur).


d. tipe merapi

Tipe ini adalah tipe gunung api yang mengeluarkan lava kental, sehingga menyumbat mulut kawah. 

Dengan adanya sumbat itu, tekanan-tekanan gas menjadi bertambah berat. Akibatnya, sumbat terangkat dan pecah-pecah. Sumbat yang pecah-pecah itu terdorong ke atas dan akhimya terlempar keluar. 

Bahan-bahan itu menuruni lereng. Gunung sebagai ladu (gloedlawine). Di samping itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk). Tipe ini berbahaya bagi penduduk sekitarnya.


e.    tipe perret atau plinian

Tipe perret merupakan tipe yang sangat berbahaya di samping sangat merusak. Bahan-bahan letusan yang dilemparkan, misalnya, abu vulkan, bisa mencapai ketinggian sekitar 80 km. 

Letusan ini sering bisa menjebolkan puncak vulkan, sampai hilang sama sekali. Atau, dinding kawah melorot sehingga terbentuk kaldera.Contoh: letusan Krakatau pada tahun 1883.

f.     tipe pelee

Pada tipe ini biasanya di puncak gunung api terdapat sumbat kawah yang bentuknya sebagai jaring Adanya sumbat mengakibatkan tekanan gas menjadi bertambah besar. Jika sumbat kawah tidak kuat, meletuslah gunung tersebut.   

g.    tipe saint vincent

Tipe gunung api ini adalah gunung api yang mempunyai danau kawah. Jika terjadi letusan, maka air danau pada kawah akan ikut tumpah bersama-sama lava dari gunung tersebut. 

Akibatnya akan sangat parah bagi daerah yang terlanda, sebab air bersama lava panas tersebut akan merupakan lahar panas yang amat berbahaya. Contoh: letusan Saint Vincent;pada tahun 1902 dan Gunung Kelud pada tahun 1919

Untuk mengurangi bahaya letusan seperti yang terjadi pada-Gunung Kelud pada tahun 1919 maka Jawatan Gunung Api (Vulkanologi) Indonesia membuat terowongan untuk mengering-kan danau kawah Gunung Kelud. 

Hasilnya menggembirakan, karena pada letusan tahun 1951, bahaya seperti yang dikhawatirkan terjadi pada tahun 1919 terjadi lagi. Gambar: disini


Macam-Macam Tipe Letusan Pada Gunung
Kategori letusan gunung api
Pengertian Dari Vulkanisme

Pengertian Dari Vulkanisme

Tenaga tektonisme atau gerakan tektogenesa menyebabkan terjadinya Iipatan, retakan, atau patahan di permukaan bumi. 

Hal itu bisa menyebabkan terjadinya aliran lava dari bagian dalam litosfer ke permukaan bumi.

Gejala alam sebagai akibat aktivitas magma di dalam bumi disebut vulkanisme. 

Atau dapat juga dikatakan sebagai segala kegiatan magma, dari lapisan Iitosfer bagian dalam, menyusup ke lapisan di atasnya atau bahkan sampai ke permukaan bumi (vulkanisme dalam arti luas).  

Magma adalah batuan cair pijar yang terdapat di dalam kulit bumi, terjadi dari berbagai mineral dan gas yang terlarut di dalam-nya dengan temperatur tinggi. 

Berdasarkan derajat geothermis, setiap turun 100 m temperatur naik rata-rata 3,3° C. Maka, Iitosfer bumi setebal 50 km akan bertemperatur sekitar 1.650° C. 

Dalam keadaan panas setinggi itu, tak ada batu dalam keadaan padat. Batu-batuan itu dalam keadaan cair pijar. 

Karena tekanan lapisan di atasnya, maka batuan bentuknya tidak cair. Apalagi, ruangan di dalam Iitosfer terbatas.

Maka, bentuk yang umum batuan adalah laten magmatis. Jika karena suatu sebab tekanan berkurang (mungkin karena adanya retakan) maka batuan yang laten magmatis tadi akan berubah menjadi cair pijar atau magma, yang mendesak ke segala jurusan. Jika bisa menyusup batuan di atasnya, terjadilah intrusi magma. 

Intrusi magma ini belum tentu bisa mencapai permukaan bumi tetapi hanya bisa mengangkat lapisan kulit bumi menjadi cembung dan mengisi ruangan-ruangan di dalam kulit bumi. Gejala ini disebut kriptovulkanisme atau plutonisme. 

Sering juga disebut dengan intrusi magma. Intrusi magma itu dapat menghasilkan bentuk-bentuk:  
a. Batholit yaitu batuan beku yang terberituk di dalam dapur magma.  
b.Lakolit yaitu batuan beku yang terjadi pada dua lapisan litosfer dan bentuknya menyerupai lensa cembung.  
c. Keping intrusi atau sills adalah (sisipan) magma yang membeku pada dua lapisan Iitosfer yang bentuknya tipis dan lebar.  
d. Gang atau korok yaitu batuan hasil intrusi magma, memotong lapisan Iitosfer.

Untuk jelasnya, perhatikan gambar berikut ini!

Bentukan hasil vulkanisme

Keterangan:  
Batholit, yang merupakan sumber magma.  
Pipa kawah, gang atau diatrema.
Lubang kepundan atau kawah.  
Sumbat kepundan. Jika gunung berapi-terdapat sumbat kepundan, maka suatu saat bisa terjadi erupsi lagi.  
Gunung api parasiter, gunung api adventif. Merupakan anak gunung api, timbul pada lerengnya
Lakolit, penerobosan magma berbentuk cembung.
Sills, penerobosan magma berbentuk melintang sejajar lapisan batuan.

Demikian Pengertian Dari Vulkanisme. Semoga bermanfaat.

Gambar: disini
Proses Pelapukan Oleh Kulit Bumi

Proses Pelapukan Oleh Kulit Bumi

Pelapukan dalam bahasa lain Weathering (Inggris) atau veerweering (Belanda) adalah perusakan kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, dan angin). Weather atau weer artinya cuaca. Ada tiga macam pelapukan, yaitu:

Pelapukan fisis atau mekanis

Pelapukan ini terjadi akibat perbedaan suhu sangat besar antara siang dan malam. Pada waktu siang, terkena panas, batuan mengembang. 

Pada waktu malam, temperatur turun sangat rendah. 

Penurunan temperatur yang sangat cepat menyebabkan batuan menyusut dengan cepat pula. 

Hal itu akan menyebabkan batuan menjadi retak-retak dan akhimya pecah. Lama-kelamaan hancur berkeping-keping.



Gejala seperti ini terdapat di daerah gurun. Di daerah gurun, temperatur siang hari bisa mencapai 60° C. Sedang pada malam hari temperatur turun mencapai -2° C. 

Pergantian temperatur yang cepat dengan perbedaan yang sangat besar, menyebabkan pecahnya batuan di daerah itu. Pelapukan karena suhu atau temperatur disebut juga insolasi.



Di daerah sedang atau daerah batas salju dapat juga terjadi pelapukan fisis. Pori-pori batuan, bisa kemasukan air pada musim panas. 

Pada musim dingin atau malam hari, air pada pori-pori batuan menjadi es. Karena menjadi es, volume bertambah besar. 

Akibatnya batuan akan pecah akibat terdesak oleh es yang ada di daiam pori-pori batuan tersebut. Proses ini terdapat di daerah Alpina.

Pelapukan khemis atau kimiawi


Pelapukan kimia adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara adalah air, khususnya air hujan. 

Seperti kita ketahui, air hujan atau air tanah selain merupakan senyawa H₂O juga mengandung C0₂ dari udara. 

Karena itu mengandung tenaga melarutkan yang besar Lebih-Iebih jika suhu air tinggi, akan mempercepat pelarutan. Gejala pelarutan akan lebih cepat jika air itu mengenai batuan kapur atau karst. 

Bentuk-bentuk: ponor, doline, uvala, polje, sungai di bawah tanah, stalaktit, tiang-tiang kapur, stalagmit, gua-gua kapur adalah hasil pelapukan khemis di daerah karst. Bentuk-bentuk itu disebut gejala-gejala karst.



Ponor adalah lubang masuknya afiran air ke dalam tanah. Yaitu masuknya air sungai ke dalam tanah pada daerah kapur.



Doline adalah lubang di daerah karst (kapur) yang bentuknya seperti corong.

Ada dua macam doline, yaitu: doline corrosi, doline yang terjadi, karena proses pelarutan batuan disebabkan oleh air. Di dasar doline biasanya terdapat tanah terra rossa, yang warnanya merah
Proses Pelapukan Oleh Kulit Bumi
Bentukkan daerah Karst
Doline yang lain adalah doline terban. Terjadinya karena runtuhnya atap gua kapur

Gejala karst berikutnya adalah pipa-pipa karst atau aventype. Bentuknya seperti pipa. Terjadinya karena larutnya batuan kapur oleh air. 

Karena terjadi oleh proses pelarutan, maka disebut pipa karst corrosi. Jika terjadi karena tanah terban, pipa karst itu disebut pipa karst terban atau yama-type.


Uvala adalah beberapa doline yang sudah makin lebar, akhirnya bergabung menjadi satu sehingga bentuknya seperti telaga. 

Karena itu uvala sering disebut dengan danau karst. Pada musim penghujan, doline dan juga uvala terisi oleh air.



Polje adalah perkembahgan uvala lebih lanjut. Dapat juga terjadi oleh beberapa doline yang cukup luas yang bergabung menjadi satu. 

Karena itu ada yang menyamakan istilah uvala dengan polje. Sungai di bawah tanah, adalah aliran air yang terdapat di dalam tanah Sungai demikian banyak terjadi di daerah karst.



Selain sungai di dalam tanah, di daerah kapur terdapat gua-gua di dalam tanah. Pada gua di dalam tanah, sering kita jumpai stalaktit dan stalakmit. 

Stalaktit adalah endapan kapur yang menggantung pada langit-langit gua. Stalagmit adalah endapan kapur yang terdapat pada lantai gua (di bawah). 

Jika stalaktit dan stalagmit bisa bersambung, maka akan menjadi tiang kapur (pillar).



Di daerah plateau Wonosari (Pegunungan Seribu), gejala karst seperti disebutkan di atas dapat kita temui. Misalnya: doline, uvala, gua di dalam tanah, dan sungai di dalam tanah. Stalaktit, stalakmit bisa kita lihat di Pantai Karangbolong (Kebumen).

Pelapukan organis


Pelapukan ini terjadi akibat proses organis. Misalnya pelapukan batuan karena terkena daun yang membusuk. 

Akar tumbuh-tumbuhan dapat menembus batuan, karena akar mengeluarkan zat yang dapat melarutkan batuan, binatang membuat sarang pada batuan padas. Lama-kelamaan batuan padas menjadi lapuk



Manusia mencari batu gamping untuk bangunan. Batu kali untuk pondasi rumah. Mereka memecah batuan tersebut. 

Contoh-contoh itu pelapukan batuan juga. Karena penyebabnya organisme, maka disebut pelapukan organis. Gambar: disini
close