Geograph88: Geografi Fisik | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Perbedaan Fisiografis dan Budaya Dataran Rendah dengan Dataran Tinggi

Perbedaan Fisiografis dan Budaya Dataran Rendah dengan Dataran Tinggi


Ketika belajar geografi tentu kita sering mendengar istilah dataran rendah dan dataran tinggi. Kedua jenis kenampakan alam tersebut umum dijumpai di sekeliling kita.

Namun apakah kita sudah paham perbedaan mendasar dari kedua jenis fisiografis bumi tersebut?. Kita akan lihat berdasarkan berbagai indikator pembeda.

1. Ketinggian 
 Dataran Tinggi: Dataran tinggi adalah wilayah yang terletak di atas ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Fisiografis wilayah ini memiliki elevasi yang lebih tinggi daripada dataran rendah dan seringkali memiliki puncak gunung, pegunungan, atau perbukitan. Ketinggian dataran tinggi dapat bervariasi, tetapi biasanya lebih dari 500 meter di atas permukaan laut.

Dataran Rendah: Dataran rendah adalah wilayah yang berada pada elevasi yang lebih rendah dan mendekati atau bahkan di bawah permukaan laut. Dataran rendah cenderung memiliki kontur yang lebih datar dan dataran yang lebih luas.

2. Karakteristik Iklim:
Dataran Tinggi: Dataran tinggi cenderung memiliki iklim yang lebih dingin karena ketinggiannya yang lebih tinggi. Suhu di dataran tinggi seringkali lebih rendah daripada di dataran rendah, dan mereka mungkin lebih rentan terhadap cuaca ekstrem seperti salju dan es.

Dataran Rendah: Dataran rendah memiliki suhu yang lebih hangat karena berada pada ketinggian yang lebih rendah. Mereka cenderung memiliki iklim yang lebih stabil dan kondusif untuk pertanian.

3. Vegetasi:
Dataran Tinggi: Vegetasi di dataran tinggi cenderung berbeda tergantung pada iklim, tetapi seringkali terdiri dari hutan hujan, hutan konifer, atau padang rumput alpin. Vegetasi di dataran tinggi seringkali lebih beragam dan khas dibandingkan dengan dataran rendah.

Dataran Rendah: Dataran rendah dapat memiliki berbagai jenis vegetasi, termasuk hutan, padang rumput, gurun, atau wilayah subur yang cocok untuk pertanian.

4. Hidrologi
Dataran Tinggi: Ketersediaan air di dataran tinggi seringkali berasal dari sungai-sungai yang berasal dari pegunungan atau daerah lembab. Air dapat lebih melimpah di dataran tinggi, tetapi juga dapat bergantung pada curah hujan dan pencairan salju.

Dataran Rendah: Dataran rendah cenderung memiliki ketersediaan air yang lebih stabil karena dapat menerima aliran sungai dari dataran tinggi dan memiliki lebih sedikit masalah dengan pembekuan air daripada dataran tinggi.

5. Budaya
Dataran Tinggi: Dataran tinggi seringkali memiliki populasi manusia yang lebih rendah dibandingkan dataran rendah karena kondisi yang lebih keras dan kurangnya tanah yang cocok untuk pertanian. Namun, beberapa dataran tinggi memiliki permukiman dan pertanian yang penting.

Dataran Rendah: Dataran rendah seringkali menjadi tempat populasi manusia yang padat, karena kondisi iklim yang lebih ramah dan tanah yang lebih subur. Mereka sering menjadi pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan perkotaan.
Pengertian Agregat Tanah dan Kaitannya Dengan Produktiftas Lahan

Pengertian Agregat Tanah dan Kaitannya Dengan Produktiftas Lahan

Agregat tanah merujuk pada struktur partikel-partikel tanah yang terikat bersama dalam gumpalan atau agregat yang lebih besar. 

Ini adalah salah satu konsep penting dalam ilmu tanah dan pertanian, karena struktur agregat tanah memainkan peran kunci dalam kesehatan tanah dan produktivitas pertanian.

Agregat tanah terbentuk melalui berbagai proses fisik, kimia, dan biologi dalam tanah. Partikel-partikel tanah seperti pasir, liat, dan debu dipengaruhi oleh aktivitas organisme tanah, bahan organik, akar tanaman, pergerakan air, dan tekanan. 

Ketika agregat terbentuk, pori-pori dan saluran udara terbentuk di antara mereka, memungkinkan aliran air, pertukaran gas, dan aerasi tanah yang baik.

Agregat tanah yang tidak baik (kiri) dan baik (kanan)

Manfaat agregat tanah meliputi:

Drainase yang Baik: Agregat tanah membantu air meresap ke dalam tanah dengan lebih baik daripada tanah yang padat, mengurangi risiko genangan dan erosi.

Pertukaran Gas: Struktur agregat memungkinkan pertukaran oksigen dan karbondioksida antara tanah dan atmosfer, yang penting bagi pertumbuhan akar dan organisme tanah.

Penyediaan Nutrisi: Agregat yang baik dapat menahan bahan-bahan organik dan mineral, yang berperan dalam penyediaan nutrisi bagi tanaman.

Akar Tanaman: Struktur agregat mendukung pertumbuhan akar tanaman dengan memberikan ruang yang lebih besar untuk berkembang.

Daya Tahan Terhadap Erosi: Tanah dengan agregat yang baik cenderung lebih tahan terhadap erosi karena partikel-partikel tanah terikat bersama dengan lebih kuat.

Penting untuk menjaga dan memperbaiki struktur agregat tanah dalam praktik pertanian dan pengelolaan lahan, karena ini dapat berdampak positif pada produktivitas tanaman dan kualitas lingkungan. Ini melibatkan praktik-praktik seperti penanaman penutup tanah, penggunaan bahan organik, dan teknik pengolahan tanah yang tepat.
6 Karakteristik Fisik Tanah

6 Karakteristik Fisik Tanah

Kalian tentu sering melihat tanah bukan di lingkungan sekitar rumah?. Coba lihat dengan mata kalian pasti hal pertama yang nampak adalah warna tanah.

Warna tanah adalah salah satu sifat fisik tanah. Tapi ada banyak lagi sifat fisik tanah selain warna. Coba lihat penjelasannya berikut ini.

1. Keasaman tanah.
Tanah yang subur adalah tanah yang punya level keasamaan yang sesuai karena ada beberapa tanah yang memiliki pH kurang dati 7,0 (asam) dan tanah yang memiliki nilai pH lebih dati 7,0 (basa). 

Untuk lahan pertanian, tanah yang cocok adalah yang memliki pH netral atau di angka 7,0. Salah satu cara menetralkan pH tanah adalah dengan memberikan kapur di atas tanah.

2. Warna tanah
Salah satu sifat tanah yang mudah dilihat adalah warna. Warna tanah berbeda-beda di setiap tempat karena kadar bahan organik dan mineral tanah tersebut.

Semakin gelap tanah maka kandungan bahan organiknya semakin tinggi dan termasuk tanah subur dan bagus untuk pertanian.

Jika warna tanah semakin terang maka kandungan humus semakin miskin dan biasanya lebih banyak kandungan besi dan alumunium.. Urutan warna tanah berdasarkan tingkat kesuburannya adalah hitam, cokelat, merah, abu-abu, kuning dan putih.

3. Tekstur tanah
Tekstur tanah adalah ukuran kekasaran partikel tanah yaitu pasir, debu dan liat. Tanah bertekstur lempung atua liat akan bersifat lengket dan menyerap air banyak sehingga sulit diolah. 

Sementara itu tanah yang bertekstur sedang adalah tanah yang memiliki perbandingan pasir, debu dan lempung yang hampir seimbang sehingga cocok untuk pertanian.

4. Struktur tanah
Struktur tanah adalah ikatan butiran-butiran pasir, debu dan liat sehingga membentuk gumpalan seperti berbutir, lempengan, kubus, remah dan prisma. Contoh struktur tanah bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Contoh struktur tanah
5. Permeabilitas tanah
Permeabilitas adalah kemampuan tanah dalam menyerap air. Tanah pasir memiliki pori-pori lebih kasar dari tanah liat sehingga sulit menahan air sehingga rentan kekeringan. 

6. Konsistensi tanah
Konsistensi tanah berpengaruh pada teknik pengolahan tanah. Pada tanah basah, tanah dapat dibedakan menjadi tanah gembur dan tanah teguh. Dalam keadaan kering, tanah dibedakan menjadi tanah lunak dan tanah keras.
Faktor Pembentukkan dan Perkembangan Tanah

Faktor Pembentukkan dan Perkembangan Tanah

Tanah adalah bahan bentukkan alam yang berasal dari pelapukan batuan. Ada banyak sekali jenis tanah di permukaan bumi ini.

Tanah sangat vital sekali bagi kehidupan di planet biru ini. Tanpa adanya tanah maka akan sulit sekali tercipta kehidupan sekompleks sekarang.

Variasi jenis tanah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut diantaranya waktu, geologi, relief, drainase, iklim dan manusia.
Tanah humus

1. Waktu.
Dibutuhkan setidaknya 1.000 tahun untuk menghasilkan tanah dengan ketebalan 1 cm. Jadi proses pembentukkan tanah sangat dipengaruhi waktu. Semakin lama umur tanah maka biasanya akan memperlihatkan horizon yang lengkap, dengan catatan belum mengalami erosi sama sekali.

2. Geologi
Mineral pembentuk tanah dihasilkan dari pelapukan fisika dan pelapukan kimia. Contohnya tanah terarosa berasal dari batu gamping, sementara tanah pasir berasal dari pelapukan batupasir.

3. Relief
Relief permukaan bumi ada yang datar dan ada yang curam. Hal tersebut sangat mempengaruhi perkembangan tanah di daerah tersebut. Gravitasi dan suhu akan mempengaruhi kecepatan erosi dan pelapukan.

4. Drainase
Kondisi aliran air dalam tanah akan memengaruhi perkembangan tanah pada suatu wilayah. Tanah yang banyak mengandung air akan cenderung lembab dibandingkan tanah yang sulit meloloskan air.

5. Iklim
Daerah beriklim tropis tentu akan kaya curah hujan sehingga tanah akan lebih basah, lembab dan kaya air. Berbeda dengan tanah di daerah padang pasir misalnya yang kering, panas dan tandus. Perkembangan mahluk hidup lebih dominan di daerah bertanah lembab dan basah dibanding daerah tanah kering.

6. Vegetasi
Tipe dan jumlah vegetasi yang menutupi tanah akan berdampak pada kandungan humus di daerah tersebut. Daerah basah seperti hutan hujan akan kaya mineral organik.

7. Manusia
Manusia dapat merubah struktur lahan beserta tanah diatasnya. Kita sering menggali tanah, mengeruk tebing untuk kepentingan tertentu. Hal ini akan merubah struktur tanah yang telah ada sebelumnya.
Fenomena Tektonisme, Epirogenesa, Orogenesa

Fenomena Tektonisme, Epirogenesa, Orogenesa

Salah satu jenis tenaga endogen adalah tektonisme. Tektonisme adalah gejala yang berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik bumi. Tektonisme menyebabkan perubahan letak (dislokasi) dan bentuk (deformasi) kulit bumi. Gerakan lempeng tektonik ini disebabkan oleh arus konveksi yang berasal dari magma yang berada di dalam perut bumi. Kegiatan tektonisme meliputi epirogenesa, orogenesa dan diastropisme.

a. Epirogenesa 
Epirogenesa adalah  proses pegerakan lapisan kulit bumi dengan kecepatan lambat dan berdampak pada perubahan benua. Epirogenesa terbagi dua yaitu epirogenesa positif dan epirogenesa negatif. Epirogenesa positif adalah proses penurunan daratan sedangkan epirogenesa negatif adalah proses penaikan sebuah daratan. Contoh dari epirogenesa positif adalah turunnya dasar Laut Banda yang mengakibatkan dasar Laut Banda semakin dalam sedangkan contoh dari epirogenesa negatif adalah naiknya pantai barat Nias setinggi 3 meter dan Mentawai  karena gempa tektonik.
b. Orogenesa 
Orogensa adalah proses struktur pegunungan yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Gaya yang membentuk kenampakan-kenampakan di permukaan bumi tersebut berasal dari tenaga tektonik yang berkaitan dengan gerakan lempeng tektonik. Orogensa menghasilkan struktur folded (lipatan), fault (patahan), dan joint (rekahan). Lipatan pegunungan (folded mountain) terbentuk karena tekanan dari dalam bumi sehingga struktur yang berada di atas permukaan bumi berubah.

Puncak dari sebuah lipatan pegunungan dinamakan antiklin sedangkan lembah dari lipatan tersebut dinamakan sinklin. Lipatan-lipatan pegunungan memiliki variasi bentuk dikarenakan kekuatan gaya tekan dan jenis lapisan batuan di berbagai tempat berbeda-beda. Tumbukan antar lempeng benua secara mendatar membentuk struktur-struktur lipatan pegunungan non vulkanik.
Sifat lempeng benua yang kuat menyebabkan ketika saling bertumbukan tidak ada lempeng yang menunjam ke bawah seperti pada zona subduksi (lempeng samudera masuk ke bawah lempeng benua).  Jenis-jenis lipatan pegunungan antara lain lipatan tegak (symetrical folds), lipatan miring (asymetrical folds) dan lipatan menggantung (overturned folds) dan lipatan rebah (recumbent folds).

Fault atau patahan merupakan fenomena suatu bentuk rekahan pada lapisan permukaan bumi karena terjadinya pergeseran lapisan batuan. Patahan sering berkorelasi dengan lipatan pegunungan. Pergeseran lapisan batuan memungkinkan satu blok batuan bergerak relatif terhadap blok lainnya, bisa relatif turun, relatif naik atau bergerak relatif mendatar satu sama lain.

Untuk memahami pola gerakan suatu patahan maka terdapat dua terminologi yaitu Foot Wall dan Hanging Wall. Foot Wall adalah blok patahan yang posisinya berada di bawah garis patahan sedangkan Hanging Wall adalah blok patahan yang posisinya berada di atas garis patahan. Patahan terbagi menjadi beberapa jenis diantaranya:

1. Normal Fault (Sesar Turun)

Merupakan patahan yang memunginkan satu blok Hanging Wall bergerak dengan arah relatif turun terhadap blok Foot Wall. Ciri dari patahan ini adalah sudut kemiringan besar hingga mendekati 90 derajat. Dalam sesar normal sering dijumpai blok bidang-bidang sesar yang berpasangan dengan bidang patahan yang berlawanan. Dalam kasus tersebut blok yang turun dinamkan graben sedangkan blok yang terangkat dinamakan horst.

2. Reverse Fault (Sesar Naik)
Merupakan patahan dengan arah Hanging Wall yang relatif naik terhadap Foot Wall. Ciri dari patahan ini adalah sudut kemiringan yang relatif kecil yaitu kurang dari 45 derajat.

3. Strike Fault (Sesar Datar)
Merupakan patahan yang arahnya relatif mendatar ke kiri atau ke kanan. Arah patahan mendatar ini tidak sepenuhnya seluruh lapisan batuan bergerak dengan arah mendatar namun sebagian ada yang bergerak dengan arah vertikal.
Struktur fault atau patahan memiliki banyak manfaat jika dilihat dari segi ekonomi terutama. Beberapa manfaat diantaranya untuk melihat pola sedimen mineral batu bara. Dengan melihat lapisan batubara yang muncul karena pergeseran patahan, maka pola keterdapatan lapisan batubara akan bisa diprediksi dan memudahkan proses penambangan.

Manfaat besar lainnya yaitu struktur patahan merupakan salah satu lokasi keterdapatan cebakan minyak. Karena tertutup patahan, minyak bumi tidak bisa mengalir ke daerah yang lebih rendah. Cebakan minyak bumi tidak seperti kolam yang penuh minyak, akan tetapi suatu tubuh batuan yang pori-porinya dipenuhi oleh minyak. Cebakan pada daerah seperti struktur fault dinamakan Cebakan Struktural. Untuk mengetahui cebakan minyak dapat dilakukan dengan melakukan eksplorasi gelombang seismik.

Cebakan-cebakan minyak struktural ini paling banyak terdapat di wilayah Timur Tengah. Itulah mengapa negara Arab kaya akan cadangan minyak karena pengaruh desakan lempeng Afrika dengan lempeng Eurasia menghasilkan banyak patahan yang menghasilkan cebakan minyak.
Hasil Sedimentasi Fluvial, Marine, Glasial, Aeolis

Hasil Sedimentasi Fluvial, Marine, Glasial, Aeolis

Sedimentasi adalah proses pengendapan material hasil pengikisan yang diangkut oleh air, gletser, dan angin. Material-material tersebut diendapkan di sepanjang sungai, tepi laut, pantai, daerah gurun, dan daerah es. Jenis-jenis sedimentasi antara lain sebagai berikut.

a. Sedimentasi Fluvial
Sedimentasi fluvial ini adalah pengendapan yang dilakukan oleh air sungai. Erosi dari hulu ke hilir menyebabkan terbentuknya berbagai kenampakan seperti:
1. dataran aluvial
Endapan lumpur di kiri-kanan sungai.
2. tanggul sungai
Endapan lumpur, pasir, dan kerikil yang menumpuk di kiri-kanan sungai sehingga membentuk pematang (punggung sungai) dan merupakan cebakan air tawar. Tanggul sungai merupakan bentang alam di pesisir yang topografinya lebih tinggi daripada daerah sekitarnya.
3. foodplain (dataran banjir)
Dataran di kiri-kanan sungai yang saat banjir tergenang air dan saat surut menjadi daratan.
4. delta
Endapan lumpur, pasir, dan kerikil di muara sungai.
Morfologi sungai
b. Sedimentasi Marine
Sedimentasi marine adalah pengendapan yang dilakukan oleh air laut dan menyebabkan terbentuknya:
1. bar
Endapan pasir laut di muara sungai yang memisahkan laut dengan sungai.
2. beting
Endapan pasir laut agak jauh dari pantai.
3. nehrung
Beting yang panjang.
4. gosong
Endapan pasir laut di dekat pantai atau teluk, kedua ujungnya bertemu dengan daratan.
5. spit
Endapan pasir laut berbentuk corong, salah satu ujungnya bertemu dengan daratan.
6. tombolo
Endapan pasir laut yang menghubungkan pulau dengan daratan lain.
Morfologi pantai
c. Sedimentasi Glasial
Sedimentasi glasial adalah pengendapan yang dilakukan oleh gletser dan menyebabkan terbentuknya:
1. tillplain: dataran hasil pengendapan gletser;
2. kame: dataran tinggi hasil pengendapan gletser;
3. drumlin: bukit-bukit gletser.
Morfologi glasial
d. Sedimentasi Aeolis
Sedimentasi aeolis adalah pengendapan yang dilakukan oleh angin, menyebabkan terbentuknya barchan, yakni bukit pasir atau gumuk pasir berbentuk bulan sabit atau tapal kuda.
Morfologi erosi angin
Pengaruh Iklim Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Negara

Pengaruh Iklim Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Negara

Iklim yang ada di suatu wilayah dipengaruhi oleh letak astronomis, letak geografis, dan ketinggian tempat. Secara astronomis, Indonesia memiliki iklim tropis. Salah satu ciri dari iklim tropis adalah sushu yang relatif tinggi sepanjang tahun. Kondisi suhu yang demikian menyebabkan jenis pakaian yang dipakai oleh orang Indonesia terbuat dari kain yang tipis dan mudah menyerap keringat. 

Di tempat-tempat umum di Indonesia sangat jarang kita jumpai orang yang menggunakan jas atau jaket seperti yang dijumpai di daerah-daerah yang beriklim subtropis maupun sedang. Bahkan di daerah-daerah yang masih terpencil, seperti pedalaman Papua, orang bisa menggunakan rumbai-rumbai sebagai pakaiannya dengan bertelanjang dada.

Pada daerah gunung atau pegunungan yang tinggi, karena suhunya dingin, atap rumah banyak menggunakan seng dengan ventilasi sedikit. Berbeda halnya dengan rumah yang dibangun di dataran rendah, pada umumnya atap rumah terbuat dari genting dengan dari tanah. Atap ini akan mampu menahan panas dari sinar matahari, sehingga suhu di dalamrumah relatif sejuk. Di samping itu bangunan rumah di daerah dataran rendah lebih banyak ventilasinya daripada rumah di daerah pegunungan yang tinggi.

Iklim tropis di Indonesia di warnai oleh tiupan angin muson yang setiap setengah tahun berganti arah. Angin muson tersebut menyebakan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di Indonesia memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah pada saat ini para petani dapat mengelola lahan pertaniannya karena kebutuhan air tercukupi. Dampak negatifnya adalah bahwa pada musim hujan sering terjadi banjir yang menyebabkan kegiatan ekonomi mengalami kerugian karena terhambatnya transportasi. 

Di daerah pertanian dataran rendah, ketika banjir banyak tanaman pertanian yang terendam air sehingga menimbulkan kerugian. Di beberapa wilayah curah hujan yang tinggi juga menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor yang banyak menelan korban, seperti yang terjadi di Banjarnegara, Ponorogo, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Pada musim kemarau, banyak lahan yang mengalami kekeringan, namun di beberapa wilayah datangnya musim kemarau ini justru menguntungkan. Tanaman tembakau, buah-buahan seperti semangka, melon, tomat, dan sejenisnya justru baik ditanam pada musim kemarau. Dengan demikian adanya musim kemarau dan musim hujan di Indonesia lebih memperkaya jenis-jenis tanaman yang dihasilkan oleh Indonesia. Iklim tropis menjadikan wilayah Indonesia potensial dengan berbagai macam tanaman perkebunan, antara lain tebu, cengkih, pala, lada, coklat, karet, sawit, yang kesemuanya memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai komoditas eksport.

Berdasarkan letak lintangnya, seluruh wilayah Indonesia beriklim tropis. Namun karena ada perbedaan letak geografis, menyebabkan adanya kharakteristik iklim yang bereda pula. Di Bagian timur Indonesia, terutama Nusa Tenggara Timur, iklimnya lebih kering, sehingga terdapat sabana ataupun stepa. Oleh karena itu secara ekonomis, wilayah ini cocok dikembangkan untuk peternakan. Di Indonesia bagian barat curah hujannya lebih tinggi, oleh karena itu lahan di wilayah ini sesuai untuk persawahan yang menghasilkan beras.
Anak-anak Suku Bajau
Jenis iklim juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Adanya variasi ketinggian di suatu wilayah akan menyebabkan terjadinya variasi jenis tumbuhan yang ada pula. Indonesia secara umum beriklim tropis, tetapi karena memiliki relief yang sangat bervariasi, dari dataran rendah sampai pegunungan tinggi ada, jenis tumbuhan yang bisa hidup tidak terbatas pada tumbuhan karakteristik tumbuhan tropis saja. 

Pada wilayah-wilayah yang terletak pada ketinggian tertentu, dijumpai tumbuh-tumbuhan khas daerah subtropis yang bisa hidup dengan baik. Buah apel yang merupakan tumbuhan khas daerah subtropis bisa tumbuh baik di batu, atau gandum bisa tumbuh baik di Dieng, Tengger, maupun Tawangmangu. Dengan demikian varasi ketinggian yang ada di suatu wilayah akan sangat menentukan keragaman hayati yang ada di wilayah tersebut.
Contoh Relief Daratan, Pantai dan Lautan

Contoh Relief Daratan, Pantai dan Lautan

Relief permukaan bumi sangat bermacam-macam karena dikontrol oleh gaya endogen dan eksogen. 
Relief permukaan bumi adalah struktur permukaan bumi yang didasarkan pada tinggi rendahnya permukaan bumi tersebut. 

Kamu tentu sering melihat pegunungan, lembah, bukit atau gumuk pasir di pantai bukan?. Itu adalah beberapa contoh relief yang ada di daratan. Kenampakan relief permukaan bumi ini akan terus berubah dari waktu ke waktu.

a. Relief Daratan
1. Peneplain
Dataran rendah setinggi permukaan air laut yang miring ke arah laut. Contoh: Paparan Sunda dan paparan Sahul sebelum tergenang laut.
2. Pantai
Batas antara daratan dan lautan.
3. Dataran rendah
Daratan dengan kemiringan lereng 0-15%. Contoh: Dataran rendah di pantai timur Sumatera.
4. Dataran tinggi
Daratan dengan kemiringan lereng 15-25%. Contoh: Dataran Tinggi Dieng.
5. Plato
Dataran tinggi yang landai. Contoh: Plato Sukadana.
6. Pegunungan
Daratan dengan kemiringan lereng 25-40%.
- Pegunungan muda: tinggi, runcing, lereng curam, vulkanik.
Contoh: Pegunungan lipatan muda Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania.
- Pegunungan tua: rendah, tumpul, lereng landai, nonvulkanik.
Contoh: Pegunungan Yura (Perancis), Pegunungan Penini (Inggris), Pegunungan Appalachia (Amerika).
7. Gunung
Bentukan kubah atau kerucut yang berdiri sendiri dengan kemiringan lereng > 40%.
8. Tanah genting (terusan)
Tanah sempit yang diapit air dan menghubungkan dua wilayah luas.
Contoh: Terusan Suez yang menghubungkan Afrika dengan Eropa, Terusan Panama yang menghubungkan Amerika Utara dengan Amerika Selatan.
Relief daratan
b. Relief Pantai
1. Tanjung: daratan yang menjorok ke laut.
2. Semenanjung (jazirah): tanjung yang sangat luas dan panjang.
Contoh: Semenanjung Malaka, Semenanjung Cendrawasih (kepala burung Papua).
3. Tombolo: daratan yang menghubungkan pantai dengan pulau di tengah laut.
4. Beach: pesisir pantai
5. Beach ridge: tanggul pantai
6. Cliff: pantai curam
7. Pantai berteras
Relief pantai dan pesisir

c.   Relief Lautan
1. Teluk: laut yang menjorok ke darat.
2. Fjord: teluk sempit di daerah gletser.
3. Atol: pulau karang yang membentuk lingkaran dan muncul di permukaan laut.
4. Laguna: danau di dalam atol.
5. Ambang laut: pegunungan di dasar laut yang memisahkan dua laut dalam.
6. Gunung laut: gunung yang kakinya di dasar laut dan puncaknya muncul di atas permukaan laut.
Contoh: Gunung Rakata, Gunung Perbuatan, dan Gunung Danan di Pulau Krakatau, Selat Sunda.
7. Lubuk laut (basin): dasar laut yang dalam dan membulat berbentuk huruf U.
8. Palung laut (trog): dasar laut yang dalam dan memanjang berbentuk huruf V.
Relief dasar lautan
Pelapukan Organik/Biologi: Proses dan Faktor Terjadinya

Pelapukan Organik/Biologi: Proses dan Faktor Terjadinya

Ada 3 jenis pelapukan yaitu pelapukan mekanik, biologi dan kimia. Kita akan bahas tentang pelapukan biologi.

Pada dasarnya pelapukan biologi dikontrol oleh organisme. Kehadiran organisme dalam batuan dapat menyebabkan terjadinya pelapukan pada batuan.

Bukan saja organisme (tumbuhan dan hewan) yang ukurannya besar yang menyebabkan pelapukan batuan, tetapi mikro organisme juga memiliki peran yang penting.

Sebagai contoh adalah keberadaan bakteri pada lapisan paling atas dari permukaan bumi akan meningkatkan intensitas reaksi-reaksi kimia.

Feldsfar akan mudah lapuk jika bakteri berperan serta dalam proses pelapukan tersebut (Lange,  O,  M.  Ivanova, N. Lebedeva).

Cendawan dan lumut yang tumbuh dipermukaan  batuan, menyerap bahan-bahan dari batuan tersebut dan kemudian menghancurkanya  sedikit  demi sedikit.

Akar tanaman yang masuk kedalam batuan dibawah lapisan tanah dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan dan lapuknya batuan.

Retakan-retakan pada batuan akan berkembang baik kualitas maupun kwantitas seiring dengan semakin berkembangnya pertumbuhan tanaman tersebut.

Di samping desakan  akar  secara mekanik, tudung akar yang mengadung zat kimia tertentu juga menyebabkan terjadinya pelapukan batuan. Dengan demikian pelapukan batuan oleh tumbuhan terjadi melalui proses mekanik dan sekaligus kimi.

Organisme dapat memecah batuan
Binatang-binatang kecil seperti tikus, semut, cacing, dan rayap, dan lain-lain membuat lubang-lubang pada batuan sebagai tempat tinggalnya.

Akibatnya batuan yang semula kompak dan keras dapat hancur oleh karenanya. Batuan yang terdapat di daerah perairan seringkali digali dan dihancurkan binatang-binatang air seperti ketam, kepiting, dan jenis-jenis binatang kecil lain.

Manusia sebagai makluk hidup yang unik, karena memiliki akal dan fikiran mampu mengembangkan teknologi yang canggih. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan kemampuan ilmu dan teknologinya, manusia mengeksploitasi alam melebihi  makluk hidup yang lain.

Jutaan hektar lahan digunakan untuk lahan pertanian, pertambangan, maupun untuk aktivitas-aktivitas yang lain menyebabkan  terjadinya  penghancuran batuan.

Tambang-tambang tertentu dilakukan dengan membongkar batuan sampai kedalaman tertentu, membuat terowongan-terowongan yang jauh masuk ke dalam lapisan batuan.

Di samping pelapukan yang dilakukan manusia secara mekanis dengan menghancurkan batuan, aktivitas manusia juga meningkatkan terjadinya pelapukan kimia lebih intensif.

Lubang-lubang pada batuan yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan dapat menyebabkan air hujan mengalir dan meresap jauh ke dalam lapisan batuan yang semula tidak terjangkau air hujan. Air hujan yang bersifat asam dapat memicu terjadinya pelapukan pada batuan.
 Geomorfologi Kabupaten Majalengka Jawa Barat

Geomorfologi Kabupaten Majalengka Jawa Barat

Kabupaten Majalengka merupakan salah satu wilayah di timur Jawa Barat yang memiliki kenampakan fisik yang unik dan menyimpan potensi fisik sekaligus potensi bencana berupa gerakan tanah.

Kali ini saya akan coba bahas sedikit tentang kondisi geomorfologi kabupaten Majalengka.

Lembah Panyaweuyan Argapura
Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, wilayah ini didominasi oleh perbukitan dan pegunungan (sekitar 71,3% dari total luas Kabupaten Majalengka).

Oleh karena ini Majalengka masuk daerah dengan tingkat kerentanan bencan tanah bergerak tinggi di Jawa Barat.

Contoh fenomena tanah bergerak yang dahsyat terjadi di Dusun Cigintung Malausma yang meluluhlantahkan satu desa.

Jarak kota Majalengka dari Jakarta sekitar 160 km dan 100 km dari Bandung. Secara geografis Majalengka berbatasans sebagai berikut:

- selatan = Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis
- barat = Kabupaten Sumedang
- utara =Kabuapten Indramayu
- timur =Kabupaten Cirebon dan Kuningan

Luas wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.204,24 km persegi dengan topografi antara 19 - 857 mdpl. Menurut topografinya, Majalengka terbagi ke dalam tiga zona daerah yaitu:

a. Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m diatas permukaan laut dengan luas 482,02 km persegi atau 40,03%dari seluruh luas Kabupaten Majalengka.

b. Daerah bergelombang atau perbukitan dengan ketinggian 50-500 mdpl dengan luas 376,53 km persegi atau 31,27% dari total luas wilayah Kabupaten Majalengka.

c. Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 mdpl dengan luas 345,69 km persegi atau 28,70% dari total luas Kabupaten Majalengka.

Data cuaca dan iklim di Majalengka tahun 2014 menjelaskan bahwa rata-rata suhu di Kabupaten Majalengka adalah 26,6⁰C-29,0⁰C. Suhu udara maksimum tercatat pada Oktober yaitu 35,4⁰C sementara suhu minimum terjadi di Juli dengan angka 21⁰C.

Curah hujan tertinggi jatuh pada Desember 2013 mencapai 552 mm dengan jumlah hari hujan 28 dan terendah pada September yaitu 0 mm dengan jumlah 1 hari hujan. Pada bulan Nopember, Januari, Februari, Maret dan April 2013 curah hujan Majalengka tidak kurang dari 300 mm per bulan.
Faktor Tanah (Edafik) Persebaran Flora Fauna

Faktor Tanah (Edafik) Persebaran Flora Fauna

Guys lo tau ga bahwa sebaran flora fauna di bumi ini sangat kompleks lho dan salah satu faktor yang memengaruhinya adalah tanah.

Faktor tanah atau edafik adalah faktor yang berkaitan dengan struktur dan komposisi tanah yang ada suatu wilayah.

Tanah merupakan bahan bentukan alam hasil pelapukan batuan. Tanah adalah komponen utama habitat terutama flora dan beberapa fauna.

Berapa lama sih tanah itu terbentuk?. Sangat lama guys, lu bayangin aja batuan yang keras terus melapuk lalu mengendap lama dan menjadi lapisan tanah kaya sekarang.

Perlu waktu hingga jutaan tahun untuk menghasilkan tanah yang banyak di permukaan bumi.
Tanah media kembang tanaman
Komposisi tanah terdiri dari mineral, bahan organik, air dan udara. Tanah yang subur mengandung 40% mineral, 10% bahan organik, 15% air dan 25% udara.

Karakter tanah secara signifikan menentukan kemampuan perakaran dan asupan nutrisi terhadap pertumbuhan melalui tekstur dan struktur tanah. Adapun faktor edafik persebaran flora fauna mencakup aspek berikut:

1. Kedalaman solum alias lapisan atas tanah memengaruhi akses terhadap air, nutrisi dan stabilitas struktur tumbuhan.
2. Tekstur dan struktur tanah mempengaruhi kerapatan tanah dan stabilitas agregat tanah, porositas, udara tanah dan cadangan air dalam tanah. Kondisi tanah terlalu rapat akan menghambat pembenihan.
3. Kandungan bahan organik dalam tanah memengaruhi sifat tanah, stabilitas struktur tanah, kapasitas menahan air, warna tanah, retensi dan mobilitas polutan serta kapasitas penyangga.
4. Tingkat keasaman alias pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dari larutan berair dan menunjukkan tingkat asam dan alkalinitas. Nilai pH tanah akan berkaitan dengan jenis vegetasi yang dapat tumbuh di tanah tersebut.
5. Kejenuhan basa yang menjadi pasokan nutrisi penting yang optimal diinginkan untuk menghindari gejala kekurangan, meningkatkan kerentanan terhadap hama dan penyakit serta pengurangna hasil panen.

Tanah yang berkembang di daerah pegunungan tentu akan berbeda dengan tanah yang berkembang dekat pantai, dataran rendah atau gurun pasir bahkan daerah kutub.

Tanah pasir yang gersang tentu cocok untuk kaktus namun tidak bisa untuk anggrek. Tanah aluvial cocok untuk pertanian sementara tanah kapur cocok untuk hutan jati.
Tata Geografi: Pengaruh Unsur Fisik, Topografi dan Biotik Wilayah

Tata Geografi: Pengaruh Unsur Fisik, Topografi dan Biotik Wilayah

Halo guys kali ini kita belajar tentang konsep dasar geografi yuk!. Nah dalam geografi salah satu istilah alias konsep utama adalah tentang wilayah alias region. 

Wilayah itu adalah suatu daerah yang punya ciri khas dan dapat dibedakan satu sama lain. Kamu sering kan menyebut dataran tinggi, pantai, lembah, kota, desa dll. 

Itu adalah salah satu contoh wilayah. Lalu bagaimana kita mengetahui ciri-ciri suatu wilayah?. Kita perlu tahu tentang tata geografi yang meliputi unsur fisik, topologi dan biotik.

1. Pengaruh unsur fisik
Pengaruh unsur fisik pada wilayah terdiri dari iklim cuaca, air, relief, tanah dan kondisi sumber daya.
a. Iklim dan Cuaca
Cuaca dan iklim dapat mempengaruhi jenis dan sebaran tumbuhan, hewan, kesehatan dan kemampuan adaptasi dan kegiatan manusia. 

Contohnya gini, pada daerah beriklim dingin seperti kutub pasti hewan-hewannya berbulu tebal kan?. Itu karena adaptasi mahluk terhadap kondisi lingkungannya guys. 

Contoh lainnya adalah aktifitas manusia di dataran tinggi pasti beda dengan di dataran rendah. Di dataran tinggi bisa bertani sayuran sementara di dataran rendah bisa bersawah atau berladang palawija.

b. Air
Air adalah kebutuhan yang penting bagi kehidupan terutama manusia seperti untuk irigasi, perikanan, pembangkit listrik dan lainnya. Air di permukaan bumi terbagi menjadi air tawar dan air asin.

c. Relief dan Tanah
Keduanya berpengaruh bagi pemusatan penduduk, jaringan jalan, jenis usaha hingga kebudayaan. Peradaban di wilayah dataran rendah tentu akan berbeda dengan peradaban di daerah dataran tinggi.

d. Sumber Daya
Ada tidaknya sumber daya akan menyebabkan perbedaan potensi pertumbuhan wilayah yang bersangkutan. Daerah yang kaya sumber daya akan cepat berkembang seperti Balikpapan dan Tembagapura.
Anak-anak Suku Bajau
2. Pengaruh unsur topgrafi
Pengaruh unsur topografi adalah sebagai berikut:
a. Letak
Letak berfungsi untuk mengetahui keadaan geografi suatu tempat dengan baik. Letak bisa dilihat dari letak astronomis, letak geografis ddan letak geologis. Letak astronomis berkaitan dengan posisi lintang dan bujur, letak geografis berdasarkan lingkungan sekitarnya dan letak geologi berdasarkan posisi lempeng tektonik bumi.

b. Luas dan Bentuk
Pada umumnya suatu negara yang luas akan punya keuntungan dibandingkan yang kecil. Akan tetapi hal tersebut harus ditunjang dengan kapasitas SDM yang memadai.

c. Batas wilayah
Ada dua batas wilayah yaitu batas alam dan batas buatan. Batas alam seperti lautan, pegunungan dan sungai sementara batas buatan bisa tembok, tugu atau kawat berduri. Batas teritori negara harus jelas karena menyangkut kedaulatan dan hak ekonomi negara tersebut.

3. Pengaruh unsur biotik
Pengaruh unsur biotik terdiri dari:
a. Tumbuhan
Memiliki peran penting dalam menyediakan oksigen dari hasil fotosintesis. Tumbuhan adalah produsen utama dan memberikan daya dukung kehidupan bagi planet bumi. Selain itu tumbuhan menjadi rumah bagi hewan dan bahan baku industri bagi manusia.

b. Hewan
Hewan dapat memengaruhi keadaan fisik alam contohnya dalam hal penyerbukan. Kotoran hewan juga membantu menyuburkan tanah dan memberikan manfaat bagi kebutuhan pangan manusia.

c. Manusia
Berperan dalam mempengaruhi alam. Manusia dapat merekayasa tempat di permukaan dengan akal dan teknologi. Man ecological dominant adalah konsep ekologi dimana manusia adalah mahluk paling mendominasi bumi.

Baca juga: Rangkuman bab hakikat, konsep geografi

 Gambar: disini
Klasifikasi Tanah Menurut Pusat Penelitian Tanah IPB

Klasifikasi Tanah Menurut Pusat Penelitian Tanah IPB

Tanah di Indonesia banyak sekali dan memiliki keunikan masing-masing. 

Setiap jenis tanah dapat diusahakan untuk berbagai kepentingan manusia. Salah satu sistem klasifikasi tanah di Indonesa dibuat oleh Institut Pertanian Bogor. 

Tujuan dari klasifikasi tanah :
1. mengorganisasi atau menata tanah
2. mengetahui hubungan individu tanah
3. memudahkan mengingat sifat-sifat tanah
4. mengelompokkan tanah untuk menaksir sifat, penelitian dan mengetahui lahan yang baik

Baca juga:
Klasifikasi Tanah Menurut Pusat Penelitian Tanah IPB
Tanah vulkanik kaya akan mineral
Berikut ini macam klasifikasi tanah menurut Pusat Penelitian Tanah IPB:
1. Tanah aluvial adalah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang ditransportasi aliran sungai. 

Tanah aluvial bersifat kaya mineral dan subur sehingga cocok untuk pertanian. Dataran aluvial luas tersebar di Sumater bagian timur, Jawa bagian utara, Kalimantan bagian selatan dan tengah, Papua bagian selatan.

2. Tanah podsolitk merah kuning adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan yang mengandung kuarsa pada iklim humid dengan curah hujan diatas 2.000 mm per tahun. Sifat tanah podsolik adalah peka terhadap erosi. 

Jenis tanah podsolik tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara. Tanah podsolik baik diusahakan untuk perladangan dan perkebunan seperti kakao dan teh.

3. Tanah gambut merupakan tanah yang berasal dari bahan induk organik seperti rumput rawa, terdapat di iklim humid dengan curah hujan 2.500 mm/tahun. Sebagian besar tanah ini masih tertutup hutan rawa ambut dan rumput rawa. 

Di Indonesia tanah gambut atau organosol tersebar di pantai timur Sumatera, pantai Kalimantan bagian selatan, serta Papua barat dan selatan. Tanah organosol di Jawa, pantai barat Sumatera dan pantai timur Kalimantan merupakan tanah organosol yang kaya unsur hara.

Baca juga:

4. Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari batuan kapur dan umumnya terdapat di daerah pegunungan kapur berumur tua. 

Jenis tanah ini bersifat tidak subur namun masih bisa ditanami beberapa vegetasi seperti jati, sengon seperti di Gunung Kidul dan Blora.

5. Tanah vulkanik adalah tanah yang berasal dari pelapukan batuan vulkanik baik dari lava hasil erupsi atau abu vulkanik tuff. 

Tanah vulkanik di Indonesia tersebar di daerah yang dekat dengan gunung api seperti Bandung, Bogor, Wonosobo dan lainnya.

6. Tanah pasir adalah tanah yang berasal dari pelapukan batu pasir, sangat miskin unsur hara dan kadar airnya sedikit. 

anah pasir terdapat di pantai barat Sumatera Barat, Jawa Timur dan Sulawesi. Tanah pasir yang ada di pantai disebut gumuk pasir atau sand dune seperti Pantai Parangkusumo.

7. Tanah humus adalah tanah yang berasal dari sisa tumbuhan yang telah membusuk. Tanah humus berwarna kehitaman dan sangat subur untuk ditanami vegetasi.

8. Tanah laterit adalah tanah yang kaya zat besi dan alumunium, karena ter erosi sehingga unsur haranya habis. 

Tanah laterit tidak subur dan berwarna kemerahan, cocok untuk pembuatan batu bata dan gerabah. Baca juga: Contoh soal studi kasus geografi

Gambar: disini
Perbedaan Ciri Sungai Bagian Hulu dan Hilir

Perbedaan Ciri Sungai Bagian Hulu dan Hilir

Sungai atau river merupakan salah satu fenomena alami yang banyak tersebar di permukaan bumi. 

Genesa sungai bermacam-macam ada tipe sungai gletser, sungai musiman, sungai permanen dan lainnya. 

Namun kali ini saya akan bahas tentang perbedaan karakter sungai bagian hulu dan hilir. Memang beda ya pak?. Beda banget dan kamu harus memahaminya.

Sungai itu pada dasarnya berhulu di pegunungan dan bersumber dari mata air lalu turun menuruni lereng hingga sampai ke dataran rendah dan menuju laut pada akhirnya. 

Nah sungai di hulu dan hilir ini punya ciri khas masing-masing. Kita lihat ya satu persatu.

Sungai Bagian Hulu
1. Arus airnya deras
Ya, sungai di bagian hulu ini arus airnya sangat deras. Hal ini dipengaruhi oleh gravitasi dan ketinggian lokasi aliran sungai. Namanya hulu sungai, berarti ia di dataran tinggi dengan kemiringan curam. Ini mendorong laju air semakin cepat.

2. Banyak ditemukan jeram
Sungai di bagian hulu banyak ditemukan jeram-jeram atau bebatuan disekitarnya. Ini disebabkan oleh wilayah pegunungan yang banyak terdapat batuan vulkanik dan tereosi sehingga terangkut sungai. Kamu kalau pernah main arum jeram pasti akan menemukan bebatuan bukan?.

3. Erosi vertikal 
Sungai di bagian hulu karena arusnya kuat maka tipe erosinya dominan adalah vertikal dibanding lateral. Jadi sungai di bagian hlu itu lebarnya lebih sempit namun erosi terjadi di dasar sungai.

4. Kadang ditemukan air terjun
Di hulu sungai kadangkala ditemukan air terjun karena daerah topografi pegunungan banyak terdapat zona patahan yang mengakibatkan aliran sungai terpotong sehingga muncullah air terjun.
Perbedaan Ciri Sungai Bagian Hulu dan Hilir
Sungai bagian hulu
Sungai Bagian Hilir
1. Arusnya lebih rendah
Di daerah hilir, topografi mulai datar sehingga kecepatan air mulai menurun dibanding di hilir. 

2. Banyak terbentuk meander dan oxbow lake
Di daerah hilir sungai banyak terbentuk meander dan oxbow lake. Sungai akan berkelok kelok dengan endapan pasir di tiap kelokan sungai.

3. Erosi dominan lateral
Jika di hulu erosi lebih ke dalam maka di hilir erosi sungai dominan adalah lateral. Hal ini menyebabkan lebar sungai semakin panjang.

4. Banyak endapan lumpur halus
Erosi yang kuat di hulu mengikis bebatuan dan dasar sungai dan tebing sungai. Hasil pengikisan ini terangkut dan mengendap di hilir. Kecepatan air yang rendah membuat sedimen dari hulu tidak bergerak dan mengendap di suatu titik di bagian hilir.

Gambar: disini
Definisi Tekstur dan Kesuburan Tanah

Definisi Tekstur dan Kesuburan Tanah

Tanah adalah sumber daya yang sangat vital bagi kehidupan mahluk hidup di permukaan bumi terutama manusia. 

Tanah berasal dari pelapukan batuan dari waktu ke waktu. Kali ini kita akan mempelajari tentang tekstur dan kesuburan tanah. Tekstur tanah adalah proporsi relatif dari ukuran partikel-partikel tanah. 

Partikel tanah terbesar dalam kelompok tanah lempung yang diameter partikelnya aberukuran 0,0002 mm hingga sebesar molekul. Jadi clay adalah tipe tanah bertekstur lempung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah diantaranya sebagai berikut:
1. komposisi mineral atau batuan induk
2. sifat tanah
3. kecepatan proses pembentukkan tanah lokal
4. umur relatif tanah
Definisi Tekstur dan Kesuburan Tanah
Tanah memiliki tekstur yang beragam
Hubungan antara tekstur dan kesuburan tanah tidak selalu ada meskipun tekstur tanah dapat berpengaruh dalam beberapa hal berikut:
1. Pengerjaan tanah berpasir di daerah iklim basah biasanya cepat terurai. Tanah berkapasitas rendah dalam menahan air sehingga mudah mengering. 

Hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah menambahkan bahan organik.

2. Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering. Tanah ini meskipn kadar bahan makanannya cukup tinggi namun nilai kesuburannya rendah karena minimnya presipitasi atau hujan, pencucian dan rendahnya kapasitas menahan air.

3. Pengerjaan tanah lempung. Tanah lempung memiliki sifat yang bermacam-macam seperti plastik dan sukar untuk diolah bila basah dan keras bila kering. 

Untuk tanah lempung di daerah tropik basah masih memiliki permeabilitas walaupun rendah.

Kesuburan tanah adalah jumlah kadar humus yang ada pada tanah. Tanah yang banyak ditumbuhi vegetasi lebih subur daripada tanah gundul atau tanah yang tidak ada tumbuhannya. 

Tanah yang ditumbuhi vegetasi di dalam tanahnya terdapat bunga tanah yang tidak terkena erosi yang menjaga tanah tetap subur. Tanah yang subur memiliki kriteria berikut:

1. Tekstur dan struktur baik. Struktur tanah merupkan susunan butir-butir tanah.
2. Butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
3. Banyak mengandung garam-garaman yang berguna untuk makanan tumbuhan.
4. Cukup mengandung air untuk melarutkan garam-garaman.

Tanah yang subur banyak terdapat di sekitar lereng gunung api atau aliran sungai karena endapan sedimen lumpur yang membawa mineral. 

Gambar: disini
close