Geograph88: Materi Kelas XII | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Perbedaan Karakteristik Negara Berkembang dan Negara Maju

Perbedaan Karakteristik Negara Berkembang dan Negara Maju

Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati taraf hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP per kapita tinggi dianggap negara maju.

Namun beberapa negara yang telah mencapai GDP tinggi melalui eksploitasi sumber daya alam (seperti Nauru melalui pengambilan phosphorus) tanpa mengembangkan produk yang beragam dan ekonomi berdasarkan jasa tidak dianggap memiliki status ’maju’.

Negara sedang berkembang adalah sebuah negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relative terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global. Istilah ini mulai menyingkirkan Dunia Ketiga, sebuah istilah yang digunakan pada masa perang dingin.

Keberhasilan pembangunan di suatu negara dapat dijadikan acuan untuk menentukan suatu negara dikatakan maju atau berkembang. Negara yang sudah berhasil dalam pembangunan sering disebut dengan negara maju, sedangkan negara yang masih sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan disebut dengan negara berkembang.

Dikotomi negara maju dan berkembang
Ciri-ciri Negara Maju
a. Pendapatan perkapita tinggi
b. Angka pertumbuhan penduduk rendah
c. Usia harapan hidup tinggi (bisa mencapai 80 tahun)
d. Tingkat pendidikan penduduk tinggi
e. Sumber daya manusia unggul
f. Sarana transportasi dan komunikasi maju
g. Mempunyai indeks pembangunan manusia tinggi
h. Penguasaan teknologi modern
i. Pembangunan meliputi semua bidang
j. Pelayanan sosial dan kesehatan sangat memadai
k. Keadaan ekonomi stabil dan mengalami kemajuan
l. Kegiatan industri dan jasa lebih maju (sekunder-tersier) daripada agraris (primer)
m. Angka kematian sangat rendah
n. Angka kelahiran rendah

Ciri-ciri Negara Berkembang
a. Tingkat pendidikan sebagian besar penduduk masih sangat rendah
b. Kualitas sumber daya masih rendah
c. Pengangguran tinggi
d. Usia harapan hidup rendah
e. Pendapatan perkapita rendah
f. Mempunyai indeks pembangunan manusia rendah
g. Sarana transportasi dan komunikasi rendah
h. Pelayanan sosial dan kesehatan kurang memadai
i. Keadaan ekonomi sangat rendah
j. Kegiatan agraris (primer) lebih dominan dibandingkan dengan keadaan industri dan jasa (sekunder-tersier)
k. Angka kelahiran tinggi
l. Angka kematian tinggi
m. Migrasi penduduk tinggi
n. Banyak terdapat permukiman kumuh
Pola Pemukiman Desa Menurut Bentang Alamnya

Pola Pemukiman Desa Menurut Bentang Alamnya

Masyarakat desa sangat dipeganruhi kondisi fisiografis alamnya. Perbedaan kenampakan alam akan memengaruhi budaya masyarakat desa tersebut.

Pola pemukiman desa adalah salah satu hal yang dipengaruhi kondisi bentang alam atau geografis wilayah desa tersebut.

Pola persebaran dan pemusatan penduduk desa dapat dipengaruhi oleh keadaan tanah, tata air, topografi dan ketersediaan sumberdaya alam yang terdapat di desa yang bersangkutan.

Pola persebaran permukiman desa dalam hubungannya dengan bentang alamnya, dapat dibedakan atas:

a. Pola terpusat (nucleated)
Bentuk permukiman terpusat merupakan bentuk permukiman yang mengelompok (aglomerated, compact rural settlement).

Pola seperti ini banyak dijumpai didaerah yang memiliki tanah subur, daerah dengan relief sama, misalnya dataran rendah yang menjadi sasaran penduduk bertempat tinggal.

Banyak pula dijumpai di daerah dengan permukaan air tanah yang dalam, sehingga ketersediaan sumber air juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap bentuk pola permukiman ini.

Demikian pula di daerah yang keamanan belum terjamin, penduduk akan lebih senang hidup bergerombol atau mengelompok.

b. Pola tersebar atau terpencar ( fragmented rural settlement type)
Bentuk permukiman tersebar, merupakan bentuk permukiman yang terpencar, menyebar di daerah pertaniannya (farm stead), merupakan rumah petani yang terpisah tetapi lengkap dengan fasilitas pertanian seperti gudang mesin pertanian, penggilingan, kandang ternak,penyimpanan hasil panen dan sebagainya.

Bentuk ini jarang ditemui di Indonesia, umumnya terdapat di negara yang pertaniannya sudah maju. Namun demikian, di daerah-daerah dengan kondisi geografis tertentu, bentuk ini dapat dijumpai, misalnya daerah banjir yang memisahkan permukiman satu sama lain,daerah dengan topografi kasar, sehingga rumah penduduk tersebar, serta daerah yang kondisi air tanah dangkal sehingga memungkinkan  rumah penduduk dapat didirikan secara bebas.
Pola desa mengikuti lembah gunung
c. Pola memanjang atau linier (line village community type)
Pola memanjang memiliki ciri permukiman berupa deretan memanjang di kiri kanan jalan atau sungai yang digunakan untuk jalur transportasi, atau mengikuti garis pantai.

Bentuk permukiman seperti ini dapat dijumpai di dataran rendah. Pola atau bentuk ini terbentuk karena penduduk bermaksud mendekati prasarana transportasi, atau untuk mendekati lokasi tempat bekerja seperti nelayan di sepanjang pinggiran pantai.

d. Pola mengelilingi pusat fasilitas tertentu. (circle)
Bentuk permukiman seperti ini umumnya dapat ditemukan di daerah dataran rendah, yang di dalamnya terdapat fasilitas-fasilitas umum yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, misalnya mata air, waduk dan fasilitas lainnya.
Kunci Jawaban Evaluasi Erlangga Kelas 12 Wilayah dan Tata Ruang

Kunci Jawaban Evaluasi Erlangga Kelas 12 Wilayah dan Tata Ruang

Halo gan kali ini mimin akan coba berikan contoh kunci evaluasi erlangga bab konsep wilayah dan tata ruang.

Wilayah pada dasarnya adalah suatu daerah yang memiliki karakteristik khas dan bisa dibedakan dengan daerah lain di permukaan bumi ini.

Wilayah dan tata ruang memiliki kaitan erat karena tanpa perencanaan yang matang, wilayah akan menjadi tidak nyaman ditinggali.

Wilayah dapat diklasifikasikan menjadi wilayah homogen, wilayah fungsional dan wilayah vernakular. Wilayah homogen contohnya adalah wilayah pertanian, perkebunan, hutan.

Wilayah fungsional contohnya adalah wilayah pusat pemerintahan, wilayah pusat industri, wilayah vernakular contohnya Bogor dikenal kota hujan.

Baca juga: Kunci evaluasi erlangga bab interaksi desa kota (2)

Kunci jawaban evaluasi ini tidak mutlak benar semua, silahkan baca kembali dan jangan sampai hanya sekedar menyalin kunci saja ya!.

1. Pilihan Ganda
1. C 2. E 3. B 4. B 5. C 6. D 7. B 8. A 9. E 10. A 11.A/D 12. A 13. E 14. B 15. B 16. A 17. A 18. B 19. D 20. A

2. Isian
1. administratif dan fungsional
2. Wilayah metropolita Jabodetabek
3. percepatan pertumbuhan wilayah dan produktifitas atau mobilisasi sumber daya dan efisiensi
4. unit-unit teritorial dalam lingkup dan tujuan tertentu
5. kesamaan fitur
6. makna fisik
7. karkakter sumber daya
8. perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama penataan/pengembangan wilayah kabupaten dalam jangka waktu 5 tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun).
9. peraturan perundang-undangan terkait pemetaan rencana tata ruang
10. pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tajam

3. Esai
1. Karena setiap wilayah di permukaan bumi unik dan diperlukan pemahaman yang komperhensif sehingga memudahkan dalam perencanaan tata ruang. Perencanaan tata ruang wilayah yang baik aka berdampak pada keberhasilan pembangunan.

2. Contoh bagan unit geografis wilayah
Wilayah adalah unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu seperti contoh model teori kota Hoyt diatas. Komponen-komponen wilayah tersebut saling berinteraksi satu sama lain secara fugnsional. Batasan wilayah tersebut bersifat dinamis.

3. Karena pusat pertumbuhan adalah daerah yang perkembangannya pesat sehingga diharapkan bisa menjalar dan merangsang daerah sekitarnya untuk tumbuh. Pusat pertumbuhan merupakan motor penggerakan ekonomi dan masyarakat bisa mendapatkan kesejahteraan karena adanya pusat pertumbuhan di wilayahnya.

4. Rencana umum tata ruang dibedakan menurut wilayah administratif pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang dibagi sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan, meliputi:
a. Rencana tata ruang wilayah nasional
b. Rencana tata ruang wilayah provinsi
c. Rencana tata ruang wilayah kabupaten dan kota

5. Karena jika tidak direncanakan dengan matang akan memicu berbagai masalah mulai dari masalah ekologis lingkungan dan sosial. Bencana alam dan lingkungan banyak terjadi saat ini karena kesalahan manusia dalam pengelolaan ruang.

Baca juga: Faktor-faktor pertumbuhan wilayah
Pengertian, Struktur dan Ciri Kota

Pengertian, Struktur dan Ciri Kota

Kota, hmm semua orang tentu tahu tentang kata tersebut dan mungkin kamu juga tinggal di kota saat ini.

Hampir semua orang senang tinggal di kota karena berbagai fasilitasnya dan sistem sosial yang lebih terbuka dan bebas

Berikut ini pengertian, struktur dan ciri kota menurut geografi. Baca juga: Kunci evaluasi erlangga interkasi desa-kota

Pengertian Kota
Menurut Bintarto: Dari segi geografi, kota data diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-ekonomi yang hiterogen dan coraknya materialistis. 

Atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh unsur-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistik di bandingkan dengan daerah belakangnya.
Kota: Pengertian, Struktur dan Cirinya
Kota adalah surga kehidupan, pic:https://pixabay.com
Istilah kota dan daerah perkotaan di bedakan di sini karena ada dua pengertian yaitu: kota untuk city dan daerah perkotaan untuk urban. 

Istilah city di identikkan dengan kota, sedangkan urban berupa suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan peghidupan modern, dapat di sebut daerah perkotaan. 

Penggolongan kota dapat didasarkan pada fungsi, struktur mata pencaharian, tipe masyarakat, jumlah penduduknya, besar kecilnya, daerah pemukiman dan sebagainya. 

Jadi penggolongan kota ini dapat dilihat dari segi ekonomi, segi sosiologi, segi demografi, dan segi geografis yang abstrak. 

Seperti halnya tentang pendefinisian kota, dalam penggolongan kota, dalam penggolongan ini juga terdapat berbagai kriteria, lebih-lebih mengenai penggolongan yang kuantitatif atau numeric. 

Penggolongan atas angka-angka ini di sebut penggolongan numeric dan penggolongan lainnya di sebut penggolongan non numeric. 

Perbedaan penggolongan ini di sebabkan antara lain: perbedaan kepadatan, perbedaan tingkat teknologi dan budayaan. Di Indonesia penggolongan yang sudah di tentukan  oleh Undang-undang No.18 kesemuanya pada umumnya di dasarkan pada jumlah penduduk.

Struktur Kota
Dari segi geografi studi tentang desa dan kota adalah penting dan menarik, karena dalam disipin ini di perhatikan mengenai hal lokasi kota, kedudukan kota, hubungan kota dengan daerah sekitarnya (location, site, and situation). 

Sistem zoning dan perubahan-perubahan yang timbul, perkembangan kota beserta masalah-masalah yang di hadapi. 

Menurut Freeman (1958), di katakan bahwa ‘Planing has an inescapable basic’. Dengan pernyataan ini maka geografi akan banyak membantu di bidang perencanaan kota. 

Struktur penduduk kota dapat di lihat dari jenis kelamin, umur, jenis mata pencaharian, segregasi (pemisahan yang dapat menimbulkan kompleks atau kelompok). 

Unsur-unsur geografi tidak hanya dapat membatasi luas daerah semacam ini tetapi dapat pula menimbulkan ‘natural areas’. 

Masalah struktur penduduk kota dari segi segregasi perlu mendapat perhatian demi keserasian dan ketenangan hidup di kota.

Ciri-ciri kota
Tanda pengenal kota dapat di lihat dari ciri fisik dan ciri sosial. Menurut Bintarto dalam bukunya Pengantar Geografi Kota, maka beberapa ciri fisik dapat di tunjukkan sebagai berikut:

a.    Tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan.
b.    Tempat-tempat parkir.
c.    Tempat-tempat rekreasi dan olah raga.  

Sebagai ciri sosial dapat di kemukakan sebagai berikut:
a.    Pelapisan sosial ekonomi.
b.    Individualisme.
c.    Toleransi sosial.
d.    Jarak sosial.
Komponen Peta Topografi

Komponen Peta Topografi

Komponen Peta Topografi- Peta Topografi merupakan salah satu peta yang banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. 

Ciri khas dari peta topografi adalah adanya garis kontur atau garis yang menghubungkan ketinggian yang sama. 

Lalu apa saja sih sebenarnya komponen-komponen peta topografi?. Berikut ulasannya:

1. Judul Peta, diambil dari bagian terbesar wilayah yang tercantum dalam satu lembar/sheet peta. 

Biasanya terletak di bagian atas peta atau di samping untuk peta buatan badan koordinasi survai dan pemetaan nasional (BAKOSURTANAL).

2. Legenda Peta, merupakan penjelasan dari simbol simbol yang tercantum dalam peta. Bagian ini adalah komponen yang sangat vital karena kita akan jadi buta dalam membaca peta jika tidak ada legendanya. 

Kita dapat menemukan objek dengan menyesuaikan simbol pada peta dengan legendanya. Baca juga: Jenis Simbol Peta

3. Skala Peta, bagian yang menunjukan ukuran dalam lembar peta dengan medan sebenarnya. Skala ini ada dua jenis yaitu skala garis dan skala angka. 

Dalam peta topografi biasanya dicantumkan keduanya. 

Rumus perhitungan : jarak sebenarnya = jarak di peta x skalanya. (Contoh : skala peta 1:25000; 1:50000; 1:100000) cara membacanya adalah 1:25000 berarti 1 cm dalam peta adalah 25000 cm di medan sebenarnya atau 25 km.

Peta Topografi
Peta Topografi (src:http://www.compassdude.com/)
4. Garis Koordinat, jaring-jaring dalam peta yang terdiri dari garis vertikal dan garis horisontal. Guna garis ini adalah untuk batas perhitungan koordinat. Koordinat peta dikenal ada dua jenis yaitu koordinat grid dan koordinat geografis. 

Koordinat geografis merupakan koordinat dari jarring-jaring bumi yang terdiri garis lintang untuk horizontal dan garis bujur untuk vertical. 

Penulisanya biasanya denga koordinat geografis, derajat, menit dan detik (Contoh : 940 15’ 114,4”) biasanya disertakan “L” untuk Lintang dan “B” untuk Bujur. Koordinat grid adalah jaring jaring koordinat lokal yang dipakai  untuk

acuan pengkoordinatan dalam peta. Biasanya hanya disebutkan dengan angka saja dan dikenal dengan koordinat 8 angka atau 12 angka. Untuk peta w:st=”on” Indonesia ada 2 acuan pokok dalam koordinat ini yaitu dengan dikenal dengan sistem UTM/UPS atau LCO masing masing dengan acuan 0 derajat  yang berbeda.

5. Garis Ketinggian atau biasa disebut garis kontur, Adalah garis yang menyerupai sidik jari yang menunjukkan titik ketinggian yang sama dalam peta. 

Karena merupakan tanda dari ketinggian yang sama, maka garis ini tidak akan pernah saling memotong tapi bisa bersinggungan. 

Lokasi yang lebih rendah akan melingkari lokasi yang lebih tinggi, itulah cirri garis kontur. Atau bisa juga disebutkan garis sebelah dalam adalah lebih tinggi dari garis sebelah luar.

Dalam peta interval atau jeda beda ketinggian antara garis kontur biasanya di tunjukan di dekat lokasi legenda. Untuk peta skala 1:25000 interval konturnya biasanya adalah 12,5 meter sedangkan peta skala 1:50000 biasanya interval konturnya adalah 25 meter. 

Terjemahannya adalah bila interval kontur 25 meter, maka jarak antara garis kontur yang satu dengan yang lainnya di w:st=”on” medan sebenarnya memiliki beda tinggi secara vertical 25 meter. 

Garis kontur dengan pola huruv “V” atau runcing biasanya menunjukan sebuah jurang/sungai, dan garis kontur dengan pola “U” atau berpola Lengkung biasanya menunjukan sebuah punggungan dan “O” merupakan puncak atau Kawah.

6. Tahun Pembuatan Peta, merupakan keterangan yang menunjukkan tahun terakhir peta tersebut diperbaharui. Hal ini sangat penting karena kondisi permukaan bumi bisa berubah sewaktu waktu.

7. Deklinasi, yaitu garis keterangan yang menunjukan beda Utara Peta dan Utara Magnetik (Utara Kompas). Deklinasi ini direvisi tiap 5 tahun sekali. 

Kenapa ada perbedaan antara Utara peta dan Utara sebenarnya dan Utara Magnetik.

Seperti kita ketahu Utara Bumi kita ditunjukan oleh di Kutub Utara. Sedangkan sumbu  utara magnet bumi sebenarnya ada di sebuah kepulauan di dekat dataran Green Land. 

Setiap tahun karena rotasi Sumbu bumi ini mengalami pergeseran rata-rata 0,02 detik bisa ke timur dan ke barat. 

Jadi utara sebenarnya bisa ditentukan dari mengkonversi antara utara magnetic dengan utara Peta. Biasanya akan dicantumkan di setiap lembar peta. Baca juga: Macam Arah Utara Peta

Tujuh bagian diatas merupakan bagian pokok yang selalu ada dalam tiap lembar peta topografi. Bagian lain adalah merupakan bagian pelengkap.

Yang biasanya berisi indeks peta, keterangan pembuatan peta, dan pemroduksi peta. Baca juga: Kenapa Utara Mengarah Ke Atas?

Sumber: Djauhari Noor, Peta Topografi
Perbedaan Skala Angka, Grafik dan Verbal

Perbedaan Skala Angka, Grafik dan Verbal

Sebuah peta pastinya memiliki yang namanya skala. Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan di muka bumi senyatanya (USGS, 2002).

 Skala memiliki fungsi sangat penting. Skala harus ada pada setiap peta mengingat fungsinya sebagai petunjuk ukuran sebenarnya di lapangan.

Peta merupakan miniatur dan penyederhanaan dari muka bumi, maka semua obyek di muka bumi disimbolkan dengan ukuran yang lebih kecil dengan perbandingan tertentu.

Skala dinyatakan dengan sebuah perbandingan dalam bentuk skala angka, grafis, dan verbal.

1. Skala Angka
Skala angka memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dalam penulisannya, terutama dalam penyebutannya dalam sebuah narasi atau deskribsi.

Namun demikian jenis skala ini menjadi tidak berguna ketika peta yang telah dicetak (hardcopy) tersebut diperbesar atau diperkecil, misal melalui proses penyiaman atau fotokopi.

Mengapa demikian?Tentu hal ini dikarenakan oleh berubahnya ukuran-ukuran pada peta yang diperbesar atau diperkecil tersebut, sementara angka skalanya tetap.

Bagi pengguna yang belum terlatih dalam memanfaatkan peta, jenis skala ini juga sulit diterjemahkan.Sementara itu bagi yang telah terlatih tentu bukanlah satu masalah yang berarti.

Contoh bentuk skala angka adalah 1 : 1000, 1 : 25.000, 1 : 50.000, dan seterusnya. Jika pada peta tertulis skala 1 : 1000, hal ini berarti bahwa ukuran obyek di lapangan adalah 1000 unit dari satuan yang digunakan pada peta tersebut. Jika satuan yang digunakan adalah sentimeter, berarti obyek tersebut di lapangan memiliki panjang sebesar 1000 sentimeter.

Skala peta verbal, angka dan grafik
2. Skala Grafik
Skala grafis yang diwujudkan sebagai bentuk batang berbuku.Skala grafis ini relatif lebih sulit dibuat pada proses pembuatan manual dibandingkan dengan menuliskan sebuah skala angka. Namun demikian, apabila proses pembuatan peta dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak, maka hal ini bukan sebuah permasalahan yang besar.

Bentuk skala grafis ini sangat bervariasi jika pembuatannya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GIS. Prinsip dasar pada skala grafis ini adalah sama dengan skala angka. Gambar di bawah merupakan contoh dari skala grafis yang dapat digunakan untuk merepresentasikan sebuah peta dengan ukuran yang sama.

Panjang jarak antar titik pada peta dapat diperbandingkan secara langsung dengan skala tersebut untuk mengetahui jarak sebenarnya di lapangan. Informasi jarak relatif lebih mudah untuk diketahui secara visual dibandingkan skala angka ataupun skala verbal.

Skala grafis memiliki keuntungan yaitu akan tetap bermanfaat jika pada peta tercetak dilakukan perbesaran atau perkecilan secara optis seperti pada kasus di muka.

Perbesaran atau perkecilan akan juga mengubah ukuran skala grafis tersebut selaras dengan perbesaran atau perkecilan pada petanya.

Dengan demikian skala grafis ini akan tetap memberikan nilai yang benar untuk perhitungan ukuran obyek pada peta tersebut. Kemudahan lain dari jenis skala grafis ini adalah kemudahan dalam interpretasi skala tersebut.

Panjang suatu titik ke titik yang lain pada peta dapat perkirakan dengan membandingkan secara visual pada skala grafis peta.

Skala grafis ini selanjutnya juga dapat diaplikasikan untuk menghitung total panjang dari obyek peta yang berliku.

Cara yang mudah adalah dengan menempelkan sebuah benang pada obyek peta yang berliku tersebut kemudian membandingkannya dengan skala grafis.

3. Skala Verbal
Jenis skala yang lain adalah skala verbal. Perbandingan nilai skala pada jenis ini dituliskan dalam bentuk kalimat.

Jika sebuah peta memiliki nilai perbandingan 1 : 1000, maka skala verbal pada peta tersebut akan dituliskan sebagai satu sentimeter banding seribu sentimeter.

Skala verbal ini sering tidak mudah dipahami dalam pemanfaatannya.Jenis skala ini jarang ditemui dalam peta-peta kita.

Sebuah peta sering menggunakan lebih dari satu jenis skala secara bersama- sama, seperti skala angka bersama dengan skala grafis.

Hal ini ditujukan untuk memudahkan pemakaian skala tersebut pada peta. Kelebihan dari masing-masing jenis skala tersebut akan saling menutupi kekurangan jenis skala yang lain.
Definisi Wilayah Homogen dan Contohnya

Definisi Wilayah Homogen dan Contohnya

Wilaya atau region adalah konsep penting dalam geografi teman-teman. Kali ini saya akan coba berikan sedikit pemahaman terkait wilayah homogen.

Konsep wilayah homogen adalah konsep wilayah yang didasarkan pada kenyataan bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah itu bersifat homogen atau sejenis alias serupa.

Disisi lain faktor yang tidak dominan mungkin saja beragam alias heterogen. Konsep wilayah homogen lebih menekankan pada aspek kesamaan dalam kelompok. Homogenitas wilayah dapat disebabkan oleh faktor alami atau artifisial buatan.

Baca juga: Rangkuman bab interaksi desa-kota

Faktor alamiah pada wilayah homogen antara lain topografi dan kondisi iklim. Konsep ini telah digunakan luas dalam ilmu lingkungan seperti ekologi, pedologi dan klimatologi.

Contohnya pembagian wilayah formal untuk jenis tanaman oleh de Candolle (1856) dan Schimper (1903), pembagian wilayah formal untuk jenis fauna Wallace (1876) dan pembagian wilayah formal untuk jenis Iklim Koppen (1931).
Desa sebagai wilayah homogen
Faktor artifisial wilayah contohnya adalah faktor sosial seperti suku bangsa, budaya, perilaku sosial, persepsi politik dan tingkat pendapatan. Salah satu cara termudah pewilayahan homogen adalah konspe land cover alias tutupan lahan.

Di sisi lain konsep wilayah homogen memaksimalkan perbedaan antar kelompok. Konsep ini tidak memperhatikan bentuk hubungan fungsional antar wilayah atau komponen di dalamnya.

Jadi simpulanya wilayah homogen itu dapat dilihat dari adanya keseragaman dalam ruang tersebut. Contoh wilayah pedesaan yang pastinya sama dalam hal sifat agraris.

Wilayah dataran tinggi pasti punya suhu dingin, wilayah pantai pasti memiliki kontur landai dan lainnya.

Apakah bisa suatu wilayah dikategorikan homogen/formal dan fungsional?. Bisa, contohnya pedesaan yang secara formal adalah wilayah dengan dominasi lahan pertanian.

Sementara secara fungsional geografis, desa adalah hinterland atau penyokong kebutuhan pangan kota.

Baca juga: Kunci jawaban evaluasi erlangga bab pewilayahan
Menghitung Skala Foto Udara Inderaja

Menghitung Skala Foto Udara Inderaja

Dalam geografi, pemahaman tentang perhitungan skala peta sangatlah penting karena merupakan bagian dari kemampuan spasial. 

Jika dalam peta biasa, pengukuran skala dapat dengan membandingkan jarakdi peta dengan jarak sebenarnya di lapangan. Lantas bagaimana cara menghitung skala peta foto udara?

Skala pada sebuah foto udara merupakan perbandingan antara jarak dua titik pada foto udara dan jarak dua titik secara mendatar di lapangan. 

Dalam sebuah foto udara, untuk mengetahui skala foto maka perlu diamati keterangan yang terdapat pada tepi foto udara. Untuk menghitung skala sebuah foto udara dapat menggunakan rumus berikut:

Keterangan:
S   = Skala Foto Udara
F   = Panjang Fokus
H   = Tinggi Wahana
h    = Tinggi Objek

Misal: Pada satu waktu dilakukan perekaman sebuah objek dengan menggunakan kamera yang memiliki panjang fokus 152 mm, tinggi pesawat adalah 5.000 meter diatas permukaan laut dan ketinggian objek adalah 1.200 meter di atas permukaan laut. Berapakah skala foto udara tersebut?
Jawab:

S = f
      (H-h)
S = 15,2
      (500.000-120.000)
S = 15,2
      (380.000)
S = 1
      (25.000)
S = 1: 25.000 , jadi skla foto udara tersebut adalah 1:25.000

Jika dalam sebuah foto udara tidak tercantum ketinggian terbang, maka perhitungan skala dapat dilakukan dengan cara membandingkan jarak di foto udara dengan jarak di lapangan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
S = Skala foto udara
Jf = Jarak di foto
Jl = Jarak di lapangan

Misal: Pada sebuah foto udara, jarak antara titik A dan B adalah 8 cm sedangkan jarak mendatar di lapangan adalah 400 meter. Berapakah skala foto udara tersebut?
S =  Jf
       Jl
S = 8  
      40.000 
S = 1
      5.000
Jadi, skala foto udara tersebut adalah 1: 5.000

Bagaimana mudah bukan? coba lakukan latihan perhitungan bersama teman-temanmu.

Baca juga:
Tips dan trik menghadapi UN biar gak deg-degan
Potensi fisik dan non fisik desa

Perbedaan Top-Bottom dan Bottom-Up Pembangunan

Perbedaan Top-Bottom dan Bottom-Up Pembangunan

Sejak era Indonesia merdeka hingga saat ini pembangunan ekonomi terus berjalan. Kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama pembangunan wilayah.

Perbedaan era pemerintahan berdampak pada perbedaan pola pembangunan itu sendiri. Setiap era pemerintah punya ciri khas pembangunan masing-masing.

Secara umum pendekatan pembangunan di Indonesia dikategorikan ke dalam 2 pendekatan utama yaitu Pendekatan Pembangunan dari Atas (Top- Down), Pendekatan Pembangunan dari Bawah (Bottom-up).

Baca juga:

a. Pendekatan Pembangunan dari Atas (Top-Down)
Konsep pendekatan Top-Down yaitu perencanaan pembangunan yang segala keputusan penting dan jenis kegiatannya telah ditentukan oleh pemerintah. 

Dalam hal ini masyarakat bersifat pasif hanya menerima segala sesuatunya dari pusat. Peran aktif masyarakat di daerah tidak terasa dan pemangku kepentingan dianggap sudah tahu tentang segala masalah dan solusi yang terdapat pada daerah yang bersangkutan. 

Di Indonesia konsep pendekatan ini sangat melekat pada era orde baru dari tahun 1970an hingga akhir 1990an. Beberapa kelebihan dan kekurangan dari pendekatan ini diantaranya:
Kelebihan
1. Masyarakat tidak perlu repot untuk memberikan masukan dan ide kepada pemangku kebijakan karena program sudah berjalan sendiri.
2. Hasil program pembangunan bisa optimal karena biaya ditanggung oleh pemerintah pusat.
3. Para pelaksana kebijakan di pusat dapat berkerja dengan optimal.
Kelemahan
1. Masyarakat kurang diberikan ruang untuk memberikan gagasan dalam pembangunan di daerahnya.
2. Masyarakat tidak mengetahui dengan detail tentnag jalannya program dari awal hingga akhir.
3. Ada beberapa kalangan masyarakat yang nantinya merasa kecewa dengan kegiatan pembangunan karena tidak sesuai dengan harapannya

Pembangunan mall marka di kota besar
b. Pendekatan Pembangunan dari Bawah (Bottom-Up)
Pendekatan Bottom-up adalah perencanaan pembangunan dimana masyarakat lebih berperan dalam memberikan gagasan dari awal hingga pelaksanaan evaluasi. 

Dalam hal ini pemerintahan hanya berperan sebagai fasilitator pembangunan. Beberapa kelebihan dan kekurangan dari pendekatan ini diantaranya adalah:

Kelebihan
1. Masyarakat berperan aktif dalam memberikan gagasan/ide mengenai program yang akan dilaksanakan.
2. Peran masyarakat lebih dominan dibandingkan masyarakat.
3. Masyarakat mengetahui dengan detail pelaksanaan pembangunan dari mulai awal hingga evaluasi.
Kelemahan
1. Peran pemerintah tidak bergitu optimal dan cenderung hanya menjadi penonton.
2. Sering terjadi kesalahpahaman antara masyarakat dengan pemerintah karena perbedaan pandangan.
3. Hasil pembangunan belum tentu baik dikarenakan di tingkat pusat pendidikan pegawai cenderung lebih tinggi dibandingkan di daerah.

Gambar: disini

Growth Pole Atau Kutub Pertumbuhan

Growth Pole Atau Kutub Pertumbuhan

Kalian tentu sering bertanya kenapa ada daerah atau kota yang berkembang dengan pesat dan ada yang lambat. 

Potensi dan kemampuan tiap wilayah tidak sama dan masalah pokok yang dihadapi tidak sama sehingga usaha pembangunan sektoralnya berbeda. 

Itulah sebabnya tidak semua daerah dapat menjadi kutub pertumbuhan. Lihatlah perbedaan Jabodetabek dengan Cianjur atau Sukabumi misalnya. Baca juga: Teori Tempat Sentral

Teori lokasi klasik ternyata tidaklah berlaku secara sempurna karena beranggapan bahwa semua kegiatan berlangsung di atas permukaan yang sama, perbedaan geografis ditiadakan, fasilitas transportasi tersedia ke semua arah, bahan baku industri, pengetahuan teknis dan kesempatan produksi adalah seragam di semua wilayah (homogen). 
Growth Pole Atau Kutub Pertumbuhan
Kawasan Industri Karawang, pic:lokerkarwang
Akibat dari ketidaksempurnaan teori lokasi klasik itu maka munculah pemikiran baru yaitu Teori Kutub Pertumbuhan atau Growth Pole Theory. Francois Perroux menyatakan bahwa pembangunan atau pertumbuhan tidak terjadi di semua wilayah, namun tetapi terbatas pada beberapa unit tempat tertentu dengan variabel yang berbeda intensitasnya. Baca juga: Majalengka, calon kutub pertumbuhan baru

Mengikuti pendapat Perroux, ahli wilayah lain Hirschman menyatakan bahwa untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi harus dibangun satu atau beberapa buah pusat kekuatan ekonomi dalam wilayah suatu negara atau disebut dengan pusat-pusat pertumbuhan (growth point atau growth pole). 

Menurut Perroux ada elemen yang sangat menentukan dalam konsep kutub pertumbuhan yakni pengaruh yang tidak dapat dihindari dari suatu unit ekonomi terhadap unit ekonomi lainnya. Pengaruh tersebut semata-mata adalah dominasi ekonomi yang terlepas dari pengaruh tata ruang geografis dan dimensi tata ruang. 

Perusahaan-perusahaan yang menguasai dominasi ekonomi tersebut pada umumnya adalah industri besar yang memiliki kedudukan oligopolis dan punya pengaruh yang sangat kuat terhadap kegiatan para langganannya. Baca juga: Teori Lokasi Weber

Pandangan Perroux ini mengenai proses kutub pertumbuhan sejalan dengan teori tata ruang ekonomi atau economic space theory dimana industri pendorong dianggap sebagai titi mula dan merupakan elemen esensial untuk pembangunan selanjutnya. 

Dalam hal ini Perroux lebih menekankan pada aspek pemusatan pertumbuhan. Meski ada beberapa perbedaan penekanan arti industri pendorong namun setidaknya ada tiga ciri dasarnya yaitu:

- Industri pendorong harus relatif lebih besar kapasitasnya agar punya pengaruh kuat baik langsung atau tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.
- Industri pendorong harus merupakan sektor yang berkembang dengan cepat.
- Jumlah dan intensitas hubungan dengan sektor ekonomi lain harus penting sehingga besarnya pengaruh yang ditimbulkan dapat diterapkan kepada unit ekonomi lainnya.

Dari sisi tata ruang geografis, industri-industri pendorong dan industri dominan akan melahirkan aglomerasi  pada kutub pertumbuhan mereka berada (contoh Kawasan industri Cikarang). Jadi industri adalah awal mula dari adanya kutub pertumbuhan. 

close