Geograph88: Geografi Sejarah | Berbagi Pengetahuan Kebumian
Rangkuman Sejarah Indonesia Kelas 11 Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin

Rangkuman Sejarah Indonesia Kelas 11 Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin

Perkembangan politik Indonesia semenjak kemerdekaan sangat dinamis dan mengalami beberapa gejolak hingga akhirnya mampu bertahan dalam bingkai demokrasi Pancasila. Sebagai negara baru, Indonesia tentunya mengalami berbagai perubahan-perubahan peta perpolitikan untuk mencapai kesetimbangan.

Berikut ini contoh rangkuman sejarah Indonesia topik sejarah praktik demokrasi di Indonesia. Silahkan digunakan untuk bahan materi ulangan atau tugas sekolah. jangan lupa like dan share blog ini jika bermanfaat.

1. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem ini berasal dari negara barat.

2. Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia menerapakan demokrasi sistem parlementer. Dalam sistem ini kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat yang diwakilkan oleh badan perwakilan melalui partai-partai politik. Partai politik mengajukan wakil yang terpercaya untuk duduk dalam parlemen menjalankan roda pemerintahan.

3. Pelaksanaan demokrasi pada tahun 1945-1950 disebut juga demokrasi era perjuangan karena banyak tantangan dari dalam negeri dan luar negeri. Dari luar negeri, sekutu dan Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia.
Rangkuman sejarah demokrasi liberal dan terpimpin
4. Saat Republik Indonesia menjadi negara bagian RIS, dibentuklah kabinet yang dipimpin oleh dr. A. Halim dari 21 Januari-6 September 1950. Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada September 1950.

5. Pada masa demokrasi liberal, kedudukan presiden hanya sebagai kepala negara dan dominasi partai politik sangat kuat. Dampaknya sering terjadi pergantian kabinet pemerintahan.

6. Kabinet pemerintahan masa demokrasi liberal diantaranya Kabinet Natsir, Kabinet Sukiman, Kabinet Wilopo, Kabinet Ali I, Kabinet Burhanudin Harahap, Kabinet Ali II, Kabinet Djuanda.

7. Pergantian kabinet yang terlalu sering dalam waktu singkat serta konflik antar partai berdampak pada ketidakstabilan politik dan kemerosotan ekonomi bangsa.

8. Pada masa demokrasi liberal sering terjadi gerakan separatisme yang disebabkan masalah ketidakpuasan terhadap keputusan pemerintah pusat. Di bidang ekonomi, ptogram pebangunan dan ekonomi tersendat-sendat.

9. Pemerintah mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 karena kondisi negara memburuk dan kegagalan konstituante menyusun UUD yang baru. Sejak saat itu demokrasi liberal berakhir dan digantikan demokrasi terpimpin.

10. Demokrasi terpimpin adalah sistem demokrasi yang semua keputusan dan pemikiran terpusar kepada pemimpin yaitu Soekarno. Landasan penerapan demokrasi terpimpin adalah sila ke-4 Pancasila.

11. Dalam melaksanakan demokrasi terpimpin, Soekarno menerapkan sistem politik kesetimbangan (balance of power).
 
12. Pada masa demokrasi terpimpin, Soekarno merencanakan konsep NASAKOM yang merupakan gabungan nasionalis, agamis dan komunis.

13. Di era demokrasi terpimpint terjadi sentralisasi kekuasaan, terbatasnya peran partai politik dan semakin berkembangnya pengaruh PKI karena filosofi NASAKOM.
 
14. Pada masa demokrasi terpimpin, perekonomian Indonesia mengarah pada sistem etatisme yaitu seluruh kegiatan ekonomi diatur dan dikendalikan pemerintah.

15. Keberpihakan pada blok komunis dan politik perlawanan terhadap imperialisme barat memicu dampak sosial berkepanjangan yaitu Gerakan 30 September 1965.

16. Setelah penumpasan komunis berhasil, maka pemerintahan demokrasi terpimpin berakhir dan digantikan pemerintahan Soeharto dengan model demokrasi Pancasila.
Perubahan dan Perkembangan Politik Masa Awal Kemerdekaan

Perubahan dan Perkembangan Politik Masa Awal Kemerdekaan

Setelah proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1045, Indonesia masih terus berjuang untuk mendapatkan kedaulatan secara de jure terkait kemerdekaanya. 

Perjuangan ada yang bersifat fisik (militer) dan ada juga yang bersifat diplomasi (perundingan). 

Kedua bentuk perjuangan tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya dan sangat berpengaruh terhadap politik awal kemerdekaan Indonesia. 

Pengaruh tersebut setidaknya terlihat pada perubahan bentuk pemerintahan, dari Presidensial menjadi Parlementer.

1. Perubahan sistem pemerintahan
Pernyataan Gubernur Jenderal Van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno adalah salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer. 

Karenanya, sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan Republik digantikan oleh Sutan Sjahrir, seorang sosialis yang dianggap sebagai figur tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomasi dengan Belanda.

Pihak Republik Indonesia memiliki alasan politis untuk mengubah sistem pemerintahan dari Presidensial menjadi Parlementer, yaitu memenuhi syarat pengakuan Belanda atas Republik Indonesia. 

Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah kebuntuan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jenderal datang ke Jawa dan membantu Van Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil Indonesia. 

Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral dari Lord Killearn, bertempat di Bukit Linggarjati dekat Cirebon. 

Setelah mengalami tekanan berat, terutama dari Inggris, akhirnya tercapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang disebut dengan Perjanjian Linggarjati, dengan pokok pokoknya sebagai berikut :

1. Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari 1949.
2. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia.
3. Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda menjabat Ketua.
Van Mook, pimpinan Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, kemudian memecah RI kembali dengan membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) pimpinan Presiden Sukowati, melalui Konferensi Denpasar (18-24 Desember 1946).
Gedung Perjanjian Linggarjati Kuningan
2. Proklamasi Negara Pasundan
Usaha Belanda untuk memecah RI tidak hanya berakhir sampai dibentuknya NIT. Dua bulan setelah itu, Belanda berhasil membujuk Ketua Partai Rakyat Pasundan, Soeria Kartalegawa untuk memproklamasikan Negara Pasundan pada tanggal 4 Mei 1947 dengan tujuan membantu Belanda menyerang Republik secara langsung. 

Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan.

3. Agresi Militer I
Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari. Isinya adalah :
1. Membentuk pemerintahan ad interim bersama;
2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;
3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki Belanda;
4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda; dan
5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor

Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak penyelenggaraan keamanan dan ketertiban bersama. 

Penolakan ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik. Karena tidak ada kepastian dan dan jawaban yang memuaskan Belanda, maka pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam, mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama. 

Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung dikerahkan untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten). A

dapun pasukan dari Surabaya dimaksudkan untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang.

Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi-instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan. 

Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947, ia dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.

Menghadapi aksi Belanda ini, pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam kebingungan dan menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. 

Sementara bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. 

Beberapa orang Belanda, termasuk Van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya tidak menyukai aksi polisional tersebut serta menggiring Belanda untuk segera menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.

4. Perjanjian Renville
Agresi militer atau pun aksi polisional adalah bentuk kebrutalan Belanda terhadap Indonesia dan melanggar perjanjian sebelumnya. Melihat kejadian tersebut, Dewan Keamanan PBB, atas desakan Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 Agustus 1947, dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan tersebut. Komisi tersebut dikenal dengan Komisi Tiga Negara (KTN). 

Atas saran dari KTN, maka diusulkan untuk menju ke meja perundingan.
Tanggal 17 Januari 1948 berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika Serikat, Renville, hingga menghasilkan persetujuan yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Pada tanggal 19 Januari, ditandatangani persetujuan Renville. 

Wilayah Republik selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkan lebih terbatas lagi ketimbang Persetujuan Linggarjati.

Ditandatanganinya Perjanjian Renville setelah Agresi Militer Belanda I menyebabkan jatuhnya Kabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalam kabinetnya, yang terdiri dari anggota PNI dan Masyumi, meletakkan jabatan ketika Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. 

Kemudian Soekarno menunjuk Hatta untuk memimpin suatu 'Kabinet Presidentil' darurat (1948-1949) yang pertanggungjawabannya dilaporkan sepenuhnya kepada Soekarno sebagai Presiden.

5. Agresi Militer II
Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Jogjakarta sebagai ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. 

Dengan jatuhnya ibu kota negara Indonesia menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.
Mobilisasi pasukan sekutu saat agresi militer 2
6. Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta
Serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Jogjakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pimpinan pemerintah sipil setempat- berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, telah tegas membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI sekaligus Republik Indonesia masih ada dan cukup kuat. 

Hal ini memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB. Selain itu, tujuan utama serangan tersebut juga mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto, pada waktu itu, sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

7. Perjanjian Roem Royen
Untuk mengatasi aksi militer Belanda, PBB mengadakan sidang pada tanggal 22 Desember 1948 dan menghasilkan sebuah resolusi yang mendesak agar permusuhan antara Indonesia dan Belanda segera dihentikan dan pemimpin Indonesia yang ditahan segera dibebaskan. KTN ditugaskan untuk mengawasi pelaksanaan resolusi tersebut.

Untuk meluaskan wewenangnya maka KTN diubah namanya menjadi UNCI (United Nations Commission for Indonesia) yang diketuai oleh Merle Cochran. Pada tanggal 14 April 1949, atas inisiatif UNCI, diadakan perundingan Republik Indonesia dan Belanda. Perundingan ini diadakan di Hotel Des Indes, Jakarta di bawah pimpinan Merle Cochran (Amerika Serikat). Yang hadir dalam perundingan tersebut, antara lain, Delegasi RI (dipimpin oleh Mr. Moh. Roem) dan Delegasi Belanda (dipimpin oleh Dr. J.H. van Royen).

Setelah melalui perundingan yang berlarut-larut, akhirnya pada tanggal 7 Mei 1949 tercapai persetujuan, yang kemudian dikenal dengan nama Roem Royen Statement. Dalam persetujuan dimaksud, delegasi Indonesia menyatakan kesediaan Pemerintah Republik Indonesia untuk :

1. Menghentikan perang gerilya;
2. Bekerja sama dalam mengembalikan perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan; serta
3. Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Sementara itu, pernyataan Delegasi Belanda pada pokoknya adalah :

1. Menyetujui kembalinya pemerintah Republik Indonesia ke Jogjakarta;
2. Menjamin penghentian gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik;
3. Tidak akan mendirikan negara-negara di daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia sebelum 19 Desember 1948; dan
4. Berusaha dengan sesungguh-sungguhnya supaya KMB segera diadakan sesudah pemerintah Republik kembali ke Yogyakarta.

Dengan disepakatinya prinsip-prinsip Roem Royen tersebut, maka Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera memerintahkan kepada Sultan Hamengkubuwono IX untuk mengambil alih pemerintah di Yogyakarta apabila Belanda mundur dari Jogjakarta

8. Serangan Umum Surakarta
Serangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai ’tentara pelajar’. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. 

Serangan itu menyadarkan Belanda bahwa mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI, yang secara peralatan lebih tertinggal, tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin handal seperti Slamet Riyadi.

9. Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Konferensi tersebut menghasilkan kesepakatan berikut :

1. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
2. Pengakuan kedaulatan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.
3. Mengenai masalah Irian Barat akan diadakan perundingan lagi dalam waktu 1 tahun setelah pengakuan kedaulatan RIS.

10. Penyerahan kedaulatan oleh Belanda
Untuk menindaklanjuti hasil KMB maka tanggal 16 Desember 1949 Ir. Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS dan pada tanggal 17 Desember 1949 diambil sumpahnya. 

Pada tanggal 20 Desember 1949, Presiden Soekarno membentuk kabinet RIS yang dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta sebagai perdana menterinya.

Pada tanggal 23 Desember 1949, delegasi RIS yang dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta berangkat ke Belanda untuk menandatangani naskah pengakuan kedaulatan RI dari pemerintah Belanda. 

Upacara penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan tersebut dilakukan pada waktu yang bersamaan, baik di Indonesia maupun di Belanda, yaitu pada tanggal 27 Desember 1949.

Di Belanda, yang menandatangani naskah penyerahan kedaulatan adalah Ratu Yuliana, PM. Dr. Willem Drees, Menteri Seberang Lautan Mr. AM.J.A. Sassen, dan ketua delegasi RIS, Drs. Moh. Hatta. Sementara itu, di Jakarta, penyerahan kedaulatan dilakukan oleh Wakil Tinggi Mahkota A.H.J. Lovink dan Ir. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam suatu upacara penyerahan kedaulatan. 

Dengan ditandatanganinya naskah penyerahan kedaulatan maka secara formal Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui kedaulatan penuh negara Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda (kecuali Irian Barat). Baca juga: Contoh soal sejarah kelas 10 kehidupan praaksara
Hasil Peradaban dan Kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Dongson

Hasil Peradaban dan Kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Dongson

Kebudayaan di Indonesia telah berkembang sejak manusia purba hidup di nusantara. 

Salah satu kebudayaan luar yang berkontribusi bagi nusantara adalah Bacson-Hoabinh dan Dongson

A. Kebudayaan Bacson–Hoabinh di Tonkin Indo China
Penyelidikan persebaran kapak Sumatra dan kapak pendek sampai ke daerah Tonkin di Indo–China. Di sana ditemukan pusat kebudayaan prasejarah, ialah di pegunungan Bacson dan di daerah Hoabinh. 

Alat-alat yang ditemukan adalah kapak yang dikerjakan secara kasar di samping kapak yang sudah diasah tajam(proto-neolithikum), juga terdapat pebbles(kapak Sumatra dan kapak pendek), dan alat–alat dari tulang. 

Oleh Mme Madeleine Colani (ahli prasejarah Perancis) kebudayaan itu dinamakan kebudayaan Bacson-Hoabinh, menurut kedua tempat penemuannya. 

Penyelidikan menunjukkan bahwa di Tonkin letaknya pusat kebudayaan mesolithikum Asia Tenggara, dan menyebar ke berbagai jurusan. Sampainya di Indonesia melalui Thailand dan Malaysia Barat. 

Selain itu ditemukan tulang belulang manusia. Ternyata Tonkin didiami oleh empat golongan bangsa, yaitu jenis Papua-Melanesoide, jenis Europaeide, Mongoloide dan Australoide. 

Bangsa Papua-Melanesoide itu mempunyai penyebaran yang paling luas di daerah Selatan – Indo-Cina -- Indonesia sampai kepulaun di Lautan Teduh. 

Hasil kebudayaan bangsa ini seperti; alat–alat mesolithikum yang belum diasah (pebbles), sedangkan kecakapan mengasah (proto-neolithikum) rupanya hasil pengaruh dari bangsa Mongoloide yang sudah lebih tinggi peradabannya. 

Disamping percampuran dalam kebudayaan di Tonkin ada percampuran dalam kebangsaannya. 

Terutama percampuran antara bangsa Melanesoide dan Europaeide menjadi bangsa Austronesia yang kemudian di dalam jaman neolithikum tersebar ke seluruh kepulauan kita.

Kebudayaan mesolithikum di negeri kita asalnya dari daerah Bascon-Hoabinh. Tetapi di sana tak ada ditemukan flakes, sedangkan dari abris sous roche banyak sekali flakes. 

Di pulau Luzon (Filipina) banyak sekali ditemukan flakes, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan flakes itu datangnya dari daratan Asia melalui Jepang, Formosa dan Filipina. 

Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa di Sumatra Timur, Malaysia Barat dan Kamboja Thailand ditemukan flakes. Kemudian di Jawa dan Sulawesi bertemulah dua macam kebudayaan mesholitikum, yaitu;
1. Kebudayaan Bascon-Hoabinh dengan pebbles dan alat-alatnya dari tulang yang datang melalui jalan barat , dan
2. Kebudayaan flake yang datangnya melalui jalan Timur.
Sisa kebudayaan Dongson
B. Budaya Dongson
Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara dinamakan Kebudayaan Dongson. Nama Dongson adalah nama daerah di Tonkin, tempat penyelidikan yang pertama yang terdapat bekas-bekas dari zaman perunggu. 

Di Dongson banyak ditemukan bermacam-macam alat terbuat dari perunggu, nekara, serta alat-alat dari besi maupun kuburan. 

Bejana yang serupa ditemukan di Kerinci dan Pulau Madura. Dengan penjelasan di atas, menunjukkan kepada kita adanya hubungan yang erat antara Indonesia dengan Daratan Asia. 

Kebudayaan Logam Indonesia memang termasuk satu kelompok dengan kebudayaan logam di Asia, yang berpusat di Dongson. 

Dari daerah inilah datang kebudayaan logam secara bergelombang ke Indonesia lewat jalur Barat, yaitu lewat Malaysia. 

Menurut para ahli, pendukung kebudayaan ini sebangsa dengan pendukung kebudayaan kapak persegi, yaitu bangsa Austronesia. 

Dengan ini dapat kita simpulkan bahwa nenek moyang kita datang ke nusantara dalam dua periode, yaitu;

1. Dalam zaman batu halus, antara lain zaman kebudayaan kapak persegi, sejak zaman kurang lebih tahun 2000 SM;
2. Dalam zaman perunggu, antara lain kebudayaan kapak sepatu, nekara, dan candrasa, sejak kurang lebih tahun 500 M
Tragedi Peristiwa Pemberontakan PKI

Tragedi Peristiwa Pemberontakan PKI

Partai Komunis Indonesia adalah salah satu partai yang diakui pada masa pemerintahan awal Indonesia setelah merdeka. Usaha mengganti Pancasila dengan ideologi komunis pernah dilakukan dua kali oleh PKI. Pemberontakan PKI pertama terjadi di Madiun pada September 1948 dan dipimpin oleh Muso, seorang tokoh PKI yang ingin membentuk Republik Soviet Indonesia. Aliran komunis masuk ke Indonesia melalui seorang Soviet yaitu Snevelit.

Muso yang membentuk Pemerintah Front Nasional merebut objek-objek penting di wilayah Madiun seperti kantor pemerintahan, bank dan masrkas polisi militer. Laskar Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) melakukan kekerasan fisik terhadap pejabat, tokoh dan warga yang anti PKI.

PKI akhirnya menguasai Keresidenan Madiun, Kabupaten Purwodadi dan Kecamatan Cepu. Pemberontakan ini dapat ditumpas oleh TNI melalui perasi militer yang dipimpin Kolonel Gatot Subroto dan Kolonel Sungkono.

PKI untuk kedua kali berupaya mengganti ideologi negara dengan Pemberontakan G30S/PKI pada 30 September 1965. G30S/PKI bertujuan mengambilalih kekuasaan atau kudeta. Pada peristiwa ini beberapa perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Selain itu sarana penting komunikasi seperti RRI Pusat dan Gedung Telekomunikasi berhasil dikuasai.
Monumen Lubang Buaya Mengenang Kekejaman PKI
Para perwira AD yang terbunuh dalam G30S/PKI adalah
1. Letnan Jendral Ahmad Yani
2. Mayor Jenderal R. Suprapto
3. Mayot Jenderal M.T Haryono
4. Mayor Jenderal S. Parman
5. Brigadir Jenderal D.I Panjaitan
6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean

Pemberontakan G30S/PKI berhasil diatasi oleh Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Kostrad. Bersama rakyat dan pasukan tentara yang setia terhadap NKRI, G30S/PKI segera ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Pengaruh Peristiwa Rengasdengklok Terhadap Kemerdekaan

Pengaruh Peristiwa Rengasdengklok Terhadap Kemerdekaan

Sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia tak lepas dari rangkaian beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Salah satunya adalah Peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok tejadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan pendapat terjadi antara golongan tua dan golongan muda. Soekarno dan golongan tua menolak desakan golongan muda yang ingin sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Moh. Hatta menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia harus dibahas melalui rapat PPKI sesuai perintah Jepang.

Golongan mudah tidak setuju pendapat iru karena menganggap jika kemerdekaan melalui PPKI maka seolah-olah kemerdekaan adalah hadiah dari Jepang dan bukan hasil perjuangan bangsa Indonesia

Golongan mudah kemudian memutuskan membawa Soekarno dan Hatta keluar kota untuk menjaga dari pengaruh Jepang. Pada 16 Agustus 1945, golongan muda membawa mereka ke daerah Rengasdengklok. Selama disana mereka terus didesak oleh golongan muda.

Sementara itu dilain lokasi, Wikana dan Ahmad Soebardjo mengadakan pertemuan di Jakarta mengenai pelaksanaan proklamasi Indonesia.

Akhirnya golongan muda membawa Ahmad Soebarjo ke Rengasdengklok untk menjemput Seokarno dan Hatta. Mereka kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.

Itulah kilas singkat peristiwa Rengasdengklok yang membuat proklamasi tetap dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945. Jika golongan muda tidak mendesak Soekarno dan Hatta saat itu maka kita tidak tahu kapan proklamasi akan dilakukan. Tertarik untuk mengunjungi Museum Rengasdengklok?
Museum Rengasdengklok
Pengertian Konsep Manusia, Ruang dan Waktu Dalam Sejarah

Pengertian Konsep Manusia, Ruang dan Waktu Dalam Sejarah

Sejarah pada dasarnya mempelajari kejadian manusia di masa lalu. Lalu apakah sejarah hanya berkaitan dengan manusia?.

Ada 3 unsur sejarah yaitu manusia, ruang dan waktu. Ketiga merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.

a. Manusia
Manusia dan sejarah itu selalu berkaitan. Tanpa sejarah maka keberadaan manusia di muka bumi patut dipertanyakan asal usulnya. Sementara itu tanpa manusia maka sejarah tidak akan pernah tercipta. Maka dari itu manusia adalah unsur utama sejarah.

Manusia punya kedudukan sebagai objek dan subjek sejarah. Sebagai objek sejarah, manusia merupakan aktor dalam setiap kejadian sejarah. Sebagai subjek sejarah, manusia berperan merekonstruksi sebuah kejadian menjadi sebuah kisah atau cerita.

b. Ruang
Dalam kajian sejarah ada unsur yang tidak bisa lepas yaitu ruang. Peristiwa hanya akan terjadi pada suatu tempat tertentu. Contohnya Peristiwa Rengasdengklok terjadi di Karawang, Proklamasi di Jl Pegangsaan 56, Jakarta dan lainnya. Artinya hanya akan ada satu kejadian pada satu tempat. Peristiwa itu secara otomatis tidak terjadi di tempat lain karena terikat oleh ruang.

c. Waktu
Sejarah merupakan kejadian-kejadian yang dialami manusia pada masa lalu. Kejadian ini merupakan bukti bahwa kehidupan manusia tidak dilepaskan dari unsur waktu. Meski itu tidak semua kejadian yang dialami manusia di masa lalu dapat disebut peristiwa sejarah.

Hal ini karena peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak terulang lagi. Bila peristiwa terjadi berulang-ulang maka bukan berarti peristiwanya kembali terjadi namun pola-pola peristiwa yang memiliki kesamaan dengan peristiwa pada masa lalu.
Rumah Soekarno tempat proklamasi dikumandangkan
Pengertian Sejarah Secara Etimologi dan Para Tokoh

Pengertian Sejarah Secara Etimologi dan Para Tokoh

Sejarah pasti berbicara tentang masa lalu atau peristiwa yang telah berlalu. Sejarah adalah ilmu tentang manusia.

Objek kajian sejarah adalah manusia. Bukan hewan,tumbuhan,atau alam semesta beserta isinya. Sejarah biasanya didefinisikan sebagai suatu studi tentang masa lampau. 

Hal ini penting bagi sejarahwan adalah yakinkan bahwa apa saja yg ditulisnya benar dan mereka tidak memberikan opininya ada juga yg mengatakan bahwa sejarah merupakan studi tentang sebab dan akibat

Arti kata sejarah berdasarkan asal usul katanya
Kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun. Kata syajaratun mengandung arti ‘pohon’. Makna kata pohon pada masa lalu biasanya selalu dihubung-hubungkan dengan keturunan. Atau asal usul keluarga raja.

Dalam kasidah bahasa Indonesia. Sejarah setidaknya mengandung tiga pengertian. an cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau.

Dalam kamus indonesia-inggris kata ‘sejarah’ diterjemahkan sebagai history. Kata history mengandung beberapa arti. Pertama, history merupakan kumpulan peristiwa masa lalu. Kedua, history merupakan rangkaian peristiwa yg terjadi berturut-turut dari masa lalu sampai masa sekarang,bahkan sampai masa depan. 

Ketiga, history merupakan suatu catatan atau deskripsi naratif dan peristiwa- peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan manusia. Keempat history merupakan disiplin ilmu yang mencatat dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa masa lalu ygyg berkaitan dengan manusia. Kelima, history merupakan semua yg diingat tentang masa lalu dalam bentuk tulisan.

History berasal dari kata yunani historia yg berarti informasi atau pencarian. Perkataan historia menunjukan bahwa kajian kajian sejarah bergantung sepenuhnya kepada penyelidikan terhadap perkara-perkara yg benar-benar pernah terjadi.
 
Pengertian Sejarah Secara Etimologi dan Para Tokoh
Sejarah dalam pandangan para tokoh

Aristoteles melihat bahwa sejarah berbeda dengan puisi dan filsafat.baginya,sejarah berhubungan dengan hal-hal particular dan hal-hal actual yg sudah terjadi. Sebaliknya puisi dan filsafat berhubungan dengan hal universal dan hal-hal yg ada atau mungkin ada.

Bagi Francis Bacon sejarah berbeda dengan disiplin ilmu yg lain. Sejarah mempelajari hal-hal yg berkisar dalam waktu dan tempat. Dengan menggunakan,ingatan sebagai instrumen esensialnya.

Menurut Vico, sejarah adalah disiplin ilmu pertama manusia. menurutnya, manusia hanya dapat mengerti apa yg sudah di buatnya sendiri.

Dalam Al-Muqaddimah kitab Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtabawa Al-Khaldun memberikan definisi sejarah. Pada sisi eksternalnya, sejarah tidak lebih dari penginformasian mengenai peperangan.

Negara-negara, dan masyarakat pada masa silam.akan tetapi,pada sisi internalnya,sejarah merupakan observasi,analisis,dan kajian secara cermat terhadap perinsip-perinsip semesta dan sebab-sebab yg mendasarinya.sejarah adalah pengetahuan tentang proses-proses berbagai realitas dan sebab-musabab secara mendalam.

Ibn Khaldun menegaskan bahwa seorang sejarawan yg baik niscaya memerlukan berbagai sumber data. Aneka disiplin pengetahuan. Prespektif yg baik, dan konsistensi yg akan mengantarkanya kepada kebenaran dan meminimalkan kekeliruan.

Hasan bin Husain Al-Thuluni adalah seorang arsitek yg berminat terhadap sejarah, karya sejarahnya antara lain An-Nuzhah assaniyyah fi Dzikir Al-khulafa wa Al-Muluk Al-Mishanyah. Karya ini merupakan ringkasan dari uraian yg dimuat dari masa kehadiran islam hingga masa pemerintahan sultan Thuman Bay ,penguasa terakhir Mamaliak di mesir.

Menurut Collingwood, sejarawan berfikir bahwa sejarah adalah ilmu atau suatu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang masalah tindakan manusia pada masa lalu.

Mohammad Ali dalam buku pengantar ilmu sejarah menyatakan bahwa sejarah adalah sejumblah proses perubahan,kejadian,dan peristiwa yg ada di sekitar kita.
Sejarah, Lokasi, Peninggalan Kerajaan MAJAPAHIT

Sejarah, Lokasi, Peninggalan Kerajaan MAJAPAHIT

Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah menghuni nusantara. Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 dan mencapai puncak kejayaan pada pemerintahan Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada dibantu laksamana Nala dalam memimpin armadanya menguasai nusantara.

Wilayah kekuasaan Majapahit semasa jaya membentang dari Semenanjung Melayu (Malaysia sekarang) sampai dengan Irian Barat melalui Kalimantan Utara.

Pada masa Majapahit agama Hindu dan Budha hidup berdamping dengan damai dalam satu kerajaan. Empu Prapanca menulis Negarakertagama (1365) dan dalam kitab itu terdapat istilah "Pancasila". Empu Tantular mengarang buku Sutasoma yang didalamnya terdapat slogan Bhinneka Tunggal Ika (sekarang). Dulu bunyi lengkapnya adlah Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua. 

Artinya walau berbeda namun satu jua adanya sebab tidak ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu yaitu Hindu Budha.

Salah satu bawahan kerajaan yaitu Pasai bahkan telah memeluk Islam. Toleransi positif dalam bidang agama sangat dijunjung tinggi sejak masa lalu di era kerajaan-kerajaan.
Situs peninggalan Majapahit
Sumpah Palapa diucapkan Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331 yang berisi cita-cita menyatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut: "saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jika seluruh nusantara takluk dalam kekuasaan negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahng, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik telah dikalahkan".

Dalam hubungan dengan negara lain, Hayam Wuruk senantiasa mengadakan hubungan kenegaraan dengan baik dengan Tiongkok, Ayodya, Champa dan Kamboja. Menurut prasasti Brumbung, dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit ada semacam penasehat seperti Rakryan I Hino, I Sirikan dan I Halu yang bertugas memberikan nasihat kepada raja dalam hal ini sebagai nilai-nilai musyawarah mufakat yang dilakukan oleh sistem pemerintahan kerajaan Majapahit.

Majapahit sangat digdaya di masa kejayaannya dan meninggalkan nilai-nilai yang diangkat dalam nasionalisme kebangsaan Indonesia. Majapahit runtuh karena faktor internal dalam negeri pemerintahan seperti perselisihan dan perang saudara pada permulaan adan XV.

Lambat laun sinar Majapahit berangsur-angsur memudar dan akhirnya menghilang dan runtuh dengan "Sinar Kertaning Bumi" pada permulaan adan XVI atau 1520 (abad pertengahan). Gambar: nusantaranews.co
Sebab Meletusnya Perang Dunia II

Sebab Meletusnya Perang Dunia II

Perang Dunia alias World War merupakan salah satu sejarah peradaban manusia yang memilukan. Ada jutaan manusia hilang nyawa sia-sia karena perang raksasa ini.

Kita akan ulas sedikit dulu tentang sebab terjadinya Perang Dunia II. Ada sebab umum dan khusus yang menyebabkan berkecamuknya Perang Dunia II.
Pasukan Nazi Jerman saat Perang Dunia II
a. Sebab Umum PD II
Perang Dunia II berlangsung antara 1939-1945 merupakan perang yang lebih besar dan lebih luas cakupannya dibandingkan Perang Dunia I. PD II disebabkan oleh kejadian-kejadian tertentu setelah berakhirnya PD I.

Kejadian itu adalah gagalnya Liga Bangsa-Bangsa dalam menciptkan perdamaian dunia, terjadinya malaise, perlombaan senjata antar negara dan berkembangnya ideologi radikal totaliter dan ultranasionalisme.

b. Sebab Khusus PD II
Secara khusus Perang Dunia II meletus karena warisan PD I yang tidak dapat diselesaikan dengan baik terutama menyangkut masalah Jerman dengan Nazi Hitlernya.

Negara yang tidak puas dengan hasil Perjanjian Versailles itu berusaha bangkit melawan negara-negara yang dulu mengalahkannya.

Dengan berbekal ideologi totaliter Nazi dibawah Adolf Hitle Jerman memulai Perang Dunia II dengan melakukan serangan kepada Polandia pada 1 September 1939 yang dikenal dengan blietzkrieg atau serangan kilat.

Itulah dua sebab terjadinya Perang Dunia II. Sudah paham kan sekarang dan jangan sampai terjadi Perang Dunia III ya. Gambar: disini
Sejarah Awal Kebangkitan Nasional 20 Mei

Sejarah Awal Kebangkitan Nasional 20 Mei

Negara Indonesia terbentuk bukan secepat kilat, namun ada beberapa fase sejak kerajaan-kerajaan, kolonialisme hingga kini menjadi negara merdeka.

Salah satu fase negara sebelum lahirnya negara Indonesia adalah Kebangkitan Nasional. Setiap tanggal 20 Mei kita selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional, tapi sudahkah kamu tahu sejarah hari tersebut?.

Di abad 20 panggung politik internasional terjadi pergolakan kebangkitan dunia  timur dengan muculnya kesadaran akan kekuatan diri sendiri.

Republik Filipina (1989) dengan komando Jose Rizal, kemenangan Jepang di Tsunia (1905), gerakan Sun Yat Sen di Cina (1911). Partai Kongres di India dengan tokoh Tilak dan Gandhi juga mulai mengibarkan sayap.

Di Indonesia pada saat ini bergolak suatu kebangkitan akan kesadaran berbangsa yaitu kebangkitan nasional (1908) yang dipelopori dr. Wahidin Sudirohusodo dengan organisasi Budi Utamo.

Gerakan inilah yang menjadi tonggak awak gerakan nasional untuk mewujudkan suatu bangsa yang terhormat, merdeka dan punya kekuatan sendiri.

Budi Utomo lahir pada tanggal 20 Mei 1908 dan segera setelah itu lahir juga organisasi-organisasi pergerakan nasional lain seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) (1909) yang kemudian mengubah bentuknya menjadi gerakan politik dengan mengganti nama menjadi Sarekat Islam di tahun 1911 di bawah komando H.O.S Cokroaminoto.

Berikutnya muncul Insische Partij (1913) hasil gagasan 3 serangkai Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).

Sejak semula partai ini menunjukkan keradikalannya sehingga tidak berumur panjang karena pemimpinnya dibuang ke luar negeri tahun 1913.

Dalam situasi yang menggoncangkan itu muncul Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927 dipelopori Soekarno, Ciptomangunkusumo, Sartono dan tokoh lainnya. Mulailah kini perjuangan nasional Indonesia menitikberatkan pada kesatuan nasional dengan tujuan jelas yaitu MERDEKA.

Tujuan itu diekspresikan dengan kata-kata yang jelas kemudian diikuti dengan tampilnya golongan pemuda dan tokoh-tokohnya seperti Muh Yamin, Wongsonegoro, Kuncoro Purbopranoto dan tokoh lain.
Pemuda Budi Utomo tahun 1908
Perjuangan rintisan kesatuan nasional kemudian memuncak dengan lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang isinya satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air Indonesia. Lagu Indonesia raya dikumandangkan pertamakali sekaligus menjadi penggerak kebangkitan kesadaran berbangsa.

Kemudian PNI oleh para pengikutnya dibubarkan diganti dengan Partai Indonesia atau Partindo pada 1931. Kemudian golngan demokrat seperti Moh Hatta, Sutan Syahir mendirikan PNI atau Partai Nasional Indonesia di tahun 1933 dengan semboyan kemerdekaan Indonesia harus dicapai dengan kekuatan sendiri.

Itulah sejarah singkat kronologi lahirnya kebangkitan nasional yang memulai era baru perjuangan kemerdekaan dalam bentuk organisasi.
close